http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/03/00532693/manunggaling.ilmu.dan.laku

Manunggaling Ilmu dan Laku

Oleh Bandung Mawardi

Alkisah ada seorang bocah pribumi yang telaten dan fasih membaca buku-buku 
tentang kesusastraan dan keagamaan, baik dalam bahasa Jawa, Melayu, Belanda, 
Jerman, maupun Latin. Bocah ini sanggup melafalkan dengan apik puisi-puisi 
Virgilius dalam bahasa Latin.
Ketelatenan belajar mengantarkan bocah ini menjadi sosok yang fenomenal dalam 
tradisi intelektual di Indonesia dan Eropa. Bocah dari Jawa itu dikenal dengan 
nama Sosrokartono.

Herry A Poeze (1986) mencatat, Sosrokartono pada puncak intelektualitasnya di 
Eropa menguasai sembilan bahasa Timur dan 17 bahasa Barat. Kompetensi 
intelektualitasnya itu dibarengi dengan publikasi tulisan dan pergaulan yang 
luas dengan tokoh-tokoh kunci dalam lingkaran intelektual di Belanda.

Sosrokartono pun mendapat julukan ”Pangeran Jawa” sebagai ungkapan untuk sosok 
intelektual-priayi dari Hindia Belanda.
Biografi intelektual pribumi pada saat itu memang tak bebas dari bayang-bayang 
kolonial. Sosrokartono pun tumbuh dalam operasionalisasi kolonialisme dalam 
wajah ambigu pendidikan dan peradaban..

Kehadiran institusi pendidikan Barat pada masa kolonial dengan kentara hendak 
mengantarkan orang pribumi untuk mencecap dan menerima dunia dalam konstruksi 
pemikiran Barat. Sosrokartono melakoni pola itu, tetapi dengan sadar melakukan 
proteksi dan distansi dalam identitas dan ikhtiar menjadi manusia. Genius yang 
spiritualistik.

Mendapat gelar

Sosrokartono menemukan pengesahan intelektual pada tahun 1908 dengan penerimaan 
gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dalam bidang bahasa dan sastra. Sebuah 
tanda yang turut menginisiasi kebangkitan intelektual-modern Indonesia. Satu 
hal yang dirasa menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial.

Sosrokartono gagal secara akademik mencapai gelar doktor akibat kebencian dan 
dendam dari juru bicara kolonialisme dan orientalisme Prof Dr Snouck Hurgronye.

Sosrokartono mendapat tuduhan sebagai simbol kebangkitan intelektual dan 
nasionalisme pribumi. Namun, Sosrokartono tetap mendapat nama, menjadi 
fenomena, juga problema di Eropa.

Mohammad Hatta (1982) menjuluki Sosrokartono sebagai manusia genius. Hatta 
mengisahkan tentang perjamuan makan kaum etis (Mr Abendanon, Mr Van Deventer, 
Prof Dr Snouck Hurgronye, dan Prof Hazeu).

Sosrokartono hadir dalam perjamuan makan sebagai intelektual kosen yang 
disegani. Kaum etis itu ingin menanggung utang kolonial mereka dengan, antara 
lain, membantu Sosrokartono merampungkan disertasi doktoralnya. Namun, 
Sosrokartono menjawab tawaran itu dengan sebuah satir: ”Maaf tuan-tuan yang 
terhormat, utang itu adalah satu-satunya harta saya. Harta saya satu-satunya 
itu akan tuan ambil juga dari saya?” Satir itu merupakan hantaman keras bagi 
politik etis.

Motif kolonial untuk mengembalikan utang sejarah mereka dengan mengembalikan 
kerugian budi dan materi tak mungkin dapat dipenuhi hanya dengan edukasi, 
irigasi, atau migrasi. Operasionalisasi politik etis justru mengandung dilema 
untuk mengantarkan pada pintu emansipasi atau westernisasi melalui sihir 
pemikiran/intelektual.

Pulang

Sosrokartono pada tahun 1925 pulang ke negerinya (Indonesia) setelah kelana di 
Eropa sebagai mahasiswa, termasuk menjadi wartawan The New York Herald Tribune. 
Kegagalan mencapai gelar doktor tidak mematikan spirit intelektual tokoh ini. 
Bahkan, ia mencoba mendaki puncak lain yang mencoba melakukan sintesis antara 
intelektualisme Barat dan spiritualisme Timur.

Sosrokartono pulang untuk mengabdi kepada negeri dengan menjadi pemimpin 
Nationale Middlebare School di Bandung. Akan tetapi, pemerintah kolonial curiga 
dengan ulahnya itu. Mereka melakukan represi politik terhadapnya. Hal yang 
membuat genius kita ini mencari jalan ekspresi lain untuk mengabdi dan tetap 
menjadi manusia bebas.
Sosrokartono memutuskan membuka praktik pengobatan tradisional dan menempuh 
laku spiritual khas Jawa. Sebuah pilihan yang ganjil, memang. Namun, seganjil 
apa pun, pilihan itu tak menutupi kontribusi Sosrokartono dalam usaha 
pembentukan negara Indonesia.

Solichin Salam (1987) mencatat, cukup banyak tokoh kunci dalam pergerakan 
politik nasionalis saat itu yang berinteraksi dengan Sosrokartono. Soekarno dan 
Ki Hajar Dewantoro, antara lain, memberi penghormatan besar kepadanya, termasuk 
pada laku spiritual dalam menopang lakon politik mereka.

Ilmu kantong bolong

Wejangan penting dari Sosrokartono, antara lain, sugih tanpa banda, digdaya 
tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake (kaya tanpa harta, sakti 
tanpa azimat, menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan). Sebuah 
filsafat laku yang merangkum dunia ekonomi, militer, politik, hingga sosial 
atau etika.

Misteri besar dalam laku Sosrokartono adalah dalam ajarannya tentang ”alif” 
dalam pengobatan dan perjuangan hidup. ”Alif” adalah huruf awal dalam sistem 
huruf hijaiah (Arab). Huruf ini adalah simbol kunci dan menentukan.

R Mohamad Ali (1966) mengisahkan, pemasangan alif pada satu tempat yang dipilih 
Sosrokartono harus dilakukan dengan upacara.
”Alif” mengandung pengertian sebagai pusat kekuatan Ilahi. ”Alif” adalah 
Sosrokartono dalam laku spiritual untuk menebar cinta kemanusiaan. Huruf alif 
merupakan simbol untuk laku mengurusi kondisi lahir-batin manusia.

Sosrokartono lebur dalam Islam dan spiritualitas Timur. Pilihan dan pemahaman 
alif di atas tentu mengacu pada Islam, di mana huruf juga dianggap memiliki 
rahasia dan kesuciannya sendiri.

Ja’far Ash-Shadiq (schimmel, 1996: 230) mengungkapkan: ”Tuhan membuat huruf 
sebagai induk segala benda; indeks dari segala sesuatu yang bisa dilihat.... 
Segala sesuatu bisa diketahui melalui huruf.”

Ajaran terkenal Sosrokartono yang lain adalah ilmu kantong kosong, kantong 
bolong, dan ilmu sunyi. Mohamad Ali (1966) mengungkapkan ilmu kantong bolong 
dalam wilayah etis-filosofis.. Nulung pepadane, ora nganggo mikir wayah, waduk, 
kantong. Yen ana isi lumuntur marang sesami (Menolong sesama tanpa peduli pada 
waktu, perut, kantong. Bila ada sesuatu, diperuntukkan kepada sesama manusia).

Ungkapan itu ditulis Sosrokartono pada 12 November 1931. Apakah masih ada 
relevansinya dengan situasi sosial dan kemanusiaan kita hari ini?

Kenyataannya, pelbagai tindakan manusia hari ini cenderung tidak bebas dari 
pamrih, mulai dari uang hingga kekuasaan. Hal yang terefleksi oleh pernyataan 
di atas.

Ilmu kantong kosong merupakan laku cinta-kasih kepada manusia dan Tuhan. Cinta 
kasih sempurna adalah antusiasme dan empati untuk menolong sesama manusia dalam 
mengatasi derita, rasa sakit, dan duka. Cinta-kasih adalah ekspresi pengabdian 
kepada Tuhan.

Sementara ilmu sunyi adalah puncak laku spiritual dengan mengosongkan diri 
(pribadi) dari sifat pemujaan diri dengan mempertaruhkan diri secara 
lahir-batin untuk menolong sesama manusia.

Sosrokartono dengan kalem mengungkapkan, ”Saya adalah manusia. Oleh sebab itu, 
kemanusiaan tidaklah asing bagi saya.”

Manunggaling akal-jiwa

Sosrokartono (1877-1952) adalah sisi lain intelektual pribumi dalam 
bayang-bayang kolonial. Genius kontroversial yang menyelami penuh spirit 
nasionalisme-humanisme. Biografi tokoh ini adalah bab penting dalam sejarah 
Indonesia modern.

Sosok Sosrokartono memang memperlihatkan keganjilan dalam jalan besar yang 
pernah dilalui intelektual negeri ini. Ia melakukan semacam sintesis—jika tidak 
ingin disebut sinkretisme—antara ilmu (intelektual) dan laku (spiritual). Jalan 
ini memberi kontribusi tersendiri dalam riwayat politik, misalnya. yang 
dipenuhi lakon-lakon kotor.

Kompetensi intelektual Sosrokartono ketika di Eropa membuat pelbagai kalangan 
kagum dan takjub. Pilihan menjalankan disiplin ilmu-laku saat ia kembali ke 
negeri sendiri memang membuat banyak pihak terkejut.

Akan tetapi, bukankah perilaku mendua itu masih juga tercermin hingga hari ini? 
Atau memang demikianlah karakteristik elite kita, puncak adab dan budaya kita: 
manunggaling intelek lan spirit?

Bandung Mawardi Peneliti Kabut Institut, Menetap di Karanganyar, Jawa Tengah 
Jateng


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke