http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/09/08283719/mikroba.tenaga.kerja.bioplastik


*Mikroba "Tenaga Kerja" Bioplastik
*
Mikroba adalah jasad renik yang sangat beragam jenisnya dan memiliki fungsi
sebagai pengurai. Kini salah satu jenisnya telah diubah menjadi "tenaga
kerja" untuk memproduksi bioplastik oleh Khaswar Syamsu. Ia seorang
perekayasa dari Institut Pertanian Bogor yang berhasil merekayasa pembuatan
plastik terbuat dari bahan pati sagu dan lemak sawit sehingga menjadi
plastik ramah lingkungan atau bioplastik.

"Mikroba itu tenaga kerja yang tidak pernah menunggu perintah dan tidak
pernah demo," ujar Khaswar, Kamis (8/1) di laboratoriumnya yang berisi
perlengkapan-perlengkapan yang usianya tergolong tua.

Perlengkapan tua itu termasuk bioreaktor buatan Jerman yang dibeli 23 tahun
silam atau pada 1986. Bioreaktor itu telah menemani Khaswar setidaknya
ketika memulai riset produksi bioplastik sejak tahun 2000 hingga 2006 ketika
ia berhasil menemukan metode pembuatan bioplastik dan mendaftarkan patennya.

Sedikitnya ada tujuh uji coba bioplatik yang dilaksanakan. Uji coba itu
meliputi kekuatan tarik, elastisitas, perpanjangan putus, sifat termal,
derajat kristalinitas, gugus fungsi dalam struktur kimia, dan
biodegradabilitas atau keteruraiannya.

Uji coba yang terakhir mengenai keteruraiannya ini, bioplastik hasil
rekayasa Khaswar dapat terurai atau termakan mikroba dalam waktu 80 hari.

"Dibandingkan dengan bahan organik lainnya, seperti kertas, laju terurai
pada bioplastik ini lebih cepat," ujar Khaswar.

Menimbun plastik

Khaswar mengutip sebuah referensi yang menunjukkan fenomena yang berlangsung
saat ini berupa timbunan plastik sebagai salah satu produk utama sampah yang
dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sampah plastik itu
tidak akan terurai dan akan merusak lapisan tanah.

"Pada 2003 kebutuhan plastik di Indonesia mencapai 1,35 juta ton per tahun.
Setelah menjadi sampah, pemerintah hanya mampu mengelola 20-30 persennya.
Selebihnya ditimbun ke area pembuangan sampah," katanya yang kini menjabat
Kepala Divisi Rekayasa Bioproses dan Bahan Baru pada Pusat Penelitian Sumber
Daya Hayati dan Bioteknologi IPB.

Pada 2000 dan 2001, Khaswar menggunakan dana riset dari program Riset Hibah
Bersaing Direktorat Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
saat itu. Dana riset Rp 29,9 juta per tahun.

Kemudian dilanjutkan pada 2005 dan 2006 menggunakan dana riset dari program
Riset Unggulan Terpadu Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Dana riset
setiap tahun Rp 97 juta dan Rp 93 juta. Dari kegiatan riset selama empat
tahun itulah lalu dihasilkan bioplastik.

Menurut dia, harga produksi bioplastik ini antara lima sampai tujuh kali
harga pembuatan plastik konvensional yang terbuat dari bahan berbasis
petrokimia atau minyak bumi.

"Negara Korea saat ini berhasil menyimulasikan produksi bioplastik hanya
dengan biaya tiga kali biaya pembuatan plastik berbasis petrokimia. Ketika
bahan petrokimia yang terbatas dan tidak teruraikan itu ke depan makin
mahal, produksi bioplastik akan makin murah dan yang lebih penting ramah
lingkungan," ujar Khaswar.

Mikroba impor

Mikroba yang disebut-sebut Khaswar sebagai tenaga kerja bioplastik, yang
bekerja dengan tidak pernah menunggu perintah dan tidak pernah mendemo,
adalah Ralstonia eutropha impor dari Jepang.

"Sebetulnya, mikroba itu juga ada di dalam tanah di mana pun di Indonesia
ini. Namun, di Indonesia tidak ada badan nasional yang secara khusus
menangani masalah pemetaan dan pengoleksian mikroba seperti di Jepang," kata
Khaswar.

Secara terpisah, Kepala Bidang Biologi Sel dan Jaringan pada Pusat
Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspita
Lisdiyanti mengatakan, keberadaan badan nasional yang secara khusus
menangani pemetaan dan pengoleksian berbagai mikroba di Indonesia belum
dirintis.

"Saat ini para peneliti atau perekayasa yang membiakkan mikroba itu hanya
menggunakannya demi kepentingan masing-masing. Semestinya, memang ada badan
nasional yang secara khusus menangani koleksi mikroba dan pemanfaatannya
untuk kepentingan bersama," kata Puspita.

Pada era ke depan, menurut Puspita, bidang mikroorganisme ini memiliki
peranan sangat penting untuk menunjang kehidupan yang berkelanjutan. Mikroba
terbukti dapat menciptakan bahan bioplastik sekaligus akan mengurainya
kembali. Dengan rantai ini, keseimbangan alam tercipta

Nawa Tunggal


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke