http://www.republika.co.id/berita/25106.html

Bantuan Kemanusiaan RI Diserahkan di Rafah

RAFAH, Perbatasan Mesir-Palestina -- Perjalanan panjang dan menyita energi yang 
dilalui tim aju awal kemanusiaan Indonesia akhirnya "terbayar" setelah pada 
Kamis (8/1) malam pukul 21.00 waktu setempat atau Jumat dini hari pukul 02.00 
WIB tiba di Rafah, perbatasan Mesir-Palestina.

Wartawan ANTARA Andi Jauhari melaporkan, bantuan itu disampaikan langsung hanya 
dua meter dari wilayah Rafah, Palestina, kepada warga Jalur Gaza, yang secara 
khusus baru tiba dari Gaza untuk menerima bantuan pemerintah dan rakyat 
Indonesia itu.

Perwakilan warga Palestina di wilayah Rafah yang saat ini dikuasai Hamas dan 
masih terus digempur Israel itu adalah Faiz Hasunah (25), yang langsung terharu 
atas solidaritas pemerintah dan rakyat Indonesia itu.

Keharuan sesaat terjadi ketika pemimpin tim kemanusiaan Indonesia, yakni Kepala 
Pusat Pengendalian Krisis Depkes dr Rustam S Pakaya, MPH berangkulan dengan 
Faiz Hasunah, disaksikan Wakil Dubes Indonesia untuk Mesir, Agil Salim Alatas 
dan Direktur Timteng Deplu, Aidil Chandra Salim dan anggota delegasi lainnya.

Disaksikan aparat keamanan pintu perbatasan Mesir dan pada jarak dua meter 
dengan pagar barikade kawat berduri, tempat terlihat dua petugas keamanan 
Palestina, pekik takbir "Allahu Akbar" langsung bergema di area itu.

"Kami sangat berterima kasih atas bantuan pemerintah dan rakyat Indonesia ini. 
Mari kita berdoa kepada Allah SWT agar Israel hancur!." kata Faiz Hasunah.

Sementara itu, Rustam S Pakaya menyatakan bahwa setelah melalui jalan panjang 
dan berliku,  akhirnya amanah pemerintah dan rakyat Indonesia yakni bantuan 
kemanusiaan kepada bangsa dan rakyat Palestina telah diserahkan langsung kepada 
warga Gaza. meski hanya di perbatasan.

"Syukur Alhamdulillah, amanah bantuan kemanusiaan ini sudah kita sampaikan, dan 
hanya dua meter dari Palestina." katanya.

Total bantuan yang diserahkan sebesar Rp2,1 miliar, yakni dari pemerintah Rp700 
juta, MER-C Rp900 juta dan BSMI Rp500 juta, berupa obat-obatan dan ambulan.

Tim aju kemanusiaan Indonesia yang sampai hingga perbatasan itu adalah Rustam S 
Pakaya, Aidil Chandra Salim, dr Lucky Tjahjono (PPK Depkes), dr Jose Rizal 
Jurnalis SpOT, dr Basuki Supartono dan dr Agus Kooshartoro dari Bulan Sabit 
Merah Indonesia (BSMI), M Mursalim (MER-C) dan dr Arif Rahman (Muhammadiyah).

Belakangan juga bergabung tiga relawan MER-C lainnya yakni dr Sarbini, dr 
Indragiri dan Ir Faried Thalib.

Selain itu juga ikut serta wartawan peliput yakni Sahlan Basir (TVRI), Ismail 
Fahmi (TV One), Firtra Ratori (TV One), Hanibal Widada Yudya Wijayanta (ANTV), 
Mahendro Wisnu Wardono (Metro TV) dan Nirzam Fahmi (Trans TV).


Pesawat intai Israel

Kondisi di perbatasan Rafah yang dipisahkan gerbang antara Mesir-Palestina. dan 
8 Km ke arah kanan adalah perbatasan Jalur Gaza-Israel sendiri tetap mencekam.

Saat tim kemanusiaan sedang memroses bantuan itu, sekurangnya terdengar tiga 
kali bunyi sirine, yang menurut pihak keamanan Mesir adalah tanda bahaya.

Bunyi itu sebagai tanda peringatan kepada warga agar menjauh dari perbatasan 
karena pesawat intai Israil sedang melakukan penginderaan sebagai data awal 
untuk menyerang wilayah Palestina.

"Kalau dalam istilah medis seperti USG sebagai data untuk mengetahui lebih 
jelas posisi janin bayi, itulah analoginya dengan pesawat intai itu." kata dr 
Jose Rizal Jurnalis SpOT dari MER-C Indonesia yang sering berrtugas dalam misi 
kemanusiaan di berbagai negara yang dilanda konflik bersenjata itu.

Akibat bunyi sirine itu, penjaga perbatasan Mesir segera mengingatkan tim 
kemanusiaan Indonesia menjauh dan keluar dari pintu gerbang tempat pengumpulan 
bantuan kemanusiaan.

"Kalau tiba di Rafah sore atau petang hari, dampak serangan Israel ke Gaza 
terdengar jelas di Rafah ini, bahkan kelihatan jelas asap bak cendawan raksasa 
akibat bom-bom yang dijatuhkan." kata dr Sarbini. relawan MER-C lainnya yang 
sudah berada di Rafah selama tiga hari.


Pemeriksaan ketat

Sebelum sampai di Rafah, tim kemanusiaan harus melalui jalan  berliku akibat 
pemeriksaan sangat ketat di belasan pos pemeriksaan oleh pihak berwenang Mesir.

Meski sudah mengantongi surat izin dari Kementrian Luar Negeri dan "Amnu El 
Daulah" (State Security)" dan dilengkapi rekomendasi Bulan Sabit Merah Mesir, 
namun prosedur pemeriksaan tetap berlaku.

"Selain karena saat ini sedang ada konflik Palestina-Israel, di Mesir sendiri 
sejak tahun 1981 hingga kini masih ditetapkan dalam keadaan darurat militer," 
kata Aidil Chandra Salim.

Karena itu, meski dirasakan berbelit-belit dan menghambat perjalanan, kata dia, 
semua prosedur itu harus dilalui siapapun juga, terlebih warga asing. "Jadi, 
mau tak mau semua prosedurnya harus kita lalui," katanya.  - ant/ah







      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke