http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/01/10/3893.html


Sabtu, 10 Januari 2009, 19:52:49 WIB

*Pembicaraan SBY - Sarkozy
"Kata Kuncinya, Pasukan Israel Ditarik Dari Wilayah Palestina atau Gaza"*


(Presiden SBY melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Perancis,
Nicholas Sarkozy, dari Kantor Presiden, hari Sabtu (10/1) sore. (foto:
haryanto/presidensby.info))


Jakarta: *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono*, hari Sabtu (10/1) sore
melakukan pembicaraan via telepon dengan *Presiden Perancis Nicholas Sarkozy
*, dari Kantor Presiden. Dalam pembicaraan kedua kepala negara tersebut
dibahas masalah serangan militer Israel ke Palestina, dan tidak
dilaksanakannya Resolusi DKK PBB Nomor 1860. Pembicaraan via telepon
tersebut adalah permintaan Presiden SBY.

"Saya mengucapkan terima kasih, memberikan apresiasi dan mendukung upaya
Perancis sebagai anggota tetap DK PBB untuk aktif dan riil mencari solusi di
Timur Tengah tersebut, dan menghentikan kekerasan di Palestina. Saya
berharap itu terus dijalankan, apalagi baik Sarkozy maupun saya dalam
pembicaraan tadi menyadari dan sebetulnya tidak puas resolusi tidak
dijalankan," kata Presiden SBY di teras depan Kantor Presiden.

Presiden mengetahui bahwa Perancis sangat aktif mengupayakan perdamaian
Israel dan Palestina. "Presiden Sarkozy melakukan serangkaian pertemuan pada
kunjungan beliau ke Palestina, ke Timur Tengah yang juga ingin mencari
solusi bagaimana menghentikan konflik dan kekerasan itu. Oleh karena itu
saya meminta betul-betul, baik Perancis dan Indonesia juga harus berusaha
sangat serius agar resolusi bisa dijalankan," ujar SBY.

"Tadi beliau mengatakan terus berusaha agar serangan Israel bisa dihentikan
di Palestina. Kata kunci tadi, pasukan Israel ditarik mundur dari wilayah
Palestina atau dari Gaza. Tentu saja pembicaraan seperti ini penting karena
kita saling menyampaikan apa yang ada dalam pikiran kami. Saya sampaikan
posisi Indonesia yang sangat jelas, dan oleh karena itu kita berharap agar
disamping langkah-langkah yang telah kita lakukan, sinergi ataupun kerjasama
seperti ini pada tingkat pemimpin dunia perlu kita jalankan agar betul-betul
sekali lagi resolusi dipatuhi, masyarakat dunia tidak membiarkan hal ini
terus terjadi, dan akhirnya betul-betul tragedi kemanusiaan ini bisa kita
hentikan," SBY menegaskan.

Sebelumnya Presiden SBY memberikan pengantar bagaimana posisi kebijakan dan
upaya pemerintah Indonesia untuk memulihkan situasi di Palestina. "Kita
terus berjuang pada tingkat diplomasi di PBB maupun di forum yang lain,
meskipun tidak lagi menjadi anggota DK PBB. Tetapi kemarin dalam persidangan
Dewan Keamanan PBB, Indonesia masih diberi kesempatan untuk menyampaikan
pandangan-pandangannya, yang sebagaimana isi surat saya kepada Sekjen PBB
dan Presiden DK PBB, kalau Dewan Keamanan tidak mengeluarkan resolusi untuk
menghentikan aksi-aksi militer di Palestina menuju ke gencatan senjata,
Indonesia berpendapat perlu dilaksanakan pertemuan darurat Majelis Umum,"
terang SBY.

"Kemudian di luar wilayah diplomasi, saudara mengetahui kita juga aktif
memberikan bantuan kemanusiaan, apakah itu bantuan uang tunai 1 juta dollar
AS, maupun bantuan obat-obatan, alat kesehatan. Bahkan tim dokter dan tim
kesehatan dari tanah air juga telah berangkat ke Palestina. Menteri
Kesehatan melaporkan kepada saya, mulai hari ini tim kita telah memberikan
tugas-tugas kemanusiaan. Alhamdulillah," lanjutnya.

Sementara itu pemerintah Indonesia juga telah mempersiapkan apa saja yang
bisa dilakukan untuk betul-betul memastikan konflik dan kekerasan berhenti.
"Apabila telah dilakukan gencatan senjata maka posisi kita untuk menjadi
bagian dari monitoring mission PBB akan kita jalankan. Kita mempersiapkan
diri untuk itu. Yang penting gencatan senjata bisa segera dilakukan," tambah
SBY.

Panglima TNI juga memberikan laporan kepada Presiden SBY bahwa kontingen
Indonesia yang berada di perbatasan Lebanon dan Israel dalam keadaan baik.
"Mereka menjalankan tugasnya dengan baik, meskipun suasana menjadi tegang
akibat kemarin kejadian saling tembak-menembak diantara kedua wilayah itu.
Kesimpulannya apa yang kita lakukan akan terus kita lakukan, baik pada
tingkat politik diplomasi maupun pada langkah-langkah kemanusiaan, maupun
upaya lain yang bisa kita lakukan," SBY menjelaskan.

Presiden SBY mengungkapkan kekecewaannya karena resolusi DK PBB 1860 tidak
dijalankan dan konflik terus terjadi. "Oleh karena itu, pemerintah akan
melakukan langkah-langkah lain untuk mendesak pertama-tama kalau memang
resolusi yang lahir sekarang ini tidak bisa secara efektif mendorong
penghentian serangan-serangan militer Israel atau gencatan senjata diantara
keduabelah pihak, maka perlu ada resolusi baru atau paling tidak harus ada
mekanisme bagaimana itu bisa dijalankan dan dipatuhi oleh mereka yang
terlibat konflik di lapangan, utamanya sekali lagi pihak Israel," kata SBY.

Presiden SBY juga mengapresiasi banyak sekali kesetiakawanan atau
solidaritas yang muncul dari saudara-saudara kita di Indonesia untuk
membantu saudara-saudaranya yang sedang mengalami musibah. "Sebagaimana yang
kita lakukan misalkan memberikan bantuan obat-obatan, menangani yang
luka-luka, korban dan sebagainya. Ketika saya melintasi di depan Hotel
Indonesia kemarin ada seruan yang ingin memberikan donor darah untuk
membantu korban kekerasan di Palestina bisa disalurkan lewat Palang Merah
Indonesia. Saya baca begitu sekilas. Saya mendukung langkah-langkah seperti
itu karena yang diperlukan sekarang ini adalah betu-betul bantuan
kemanusiaan yang realistik, yang dibutuhkan oleh mereka yang mengalami
kesulitan obatan-obatan, kesulitan pangan, kesulitan air bersih dan
sebagainya," ujar SBY.

"Saya kira wujud dari kesetiakawanan seperti itu baik dan saya mendengar
Menteri Kesehatan mengkoordinasikan semua bantuan kemanusiaan itu agar
betu-betul bersinergi dan yang kita lakukan adalah satu kontribusi yang riil
untuk meringankan beban, menyelamatkan saudara-saudara kita dalam keadaan
yang sangat sulit," SBY menerangkan.

Sebelum mengadakan pembicaraan via telepon dengan Presiden Sarkozy, Presiden
SBY memimpin rapat terbatas dengan beberapa menteri terkait untuk membahas
masalah tersebut. Hadir antara lain Menko Polhukkam Widodo A.S., Menseng
Hatta Rajasa, Menkes Sitti Fadilah Supari, Panglima TNI Djoko Santoso, serta
Jubir Presiden Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. (osa)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke