http://www.antara.co.id/arc/2009/1/11/presiden-oana-kutuk-pembunuhan-wartawan-di-gaza/

*Presiden OANA Kutuk Pembunuhan Wartawan di Gaza*


Jakarta (ANTARA News) - Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA)
mengutuk pembunuhan terhadap Fadal Shana, 23 tahun, kameraman Palestina yang
bekerja untuk kantor berita Reuters, akibat serangan membabibuta pasukan
Israel di Gaza.

"Pasukan Israel menargetkan kendaraan-kendaraan dan para wartawan yang
beridentitas jelas, seperti dengan tanda 'Press' atau 'TV'. Fadal Shana
tewas ketika dia merekam gambar tank-tank Israel di Gaza tengah," kata
Presiden OANA, Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, dalam pernyataannya yang diposkan di
laman internet OANA, www.oananews.org, Ahad.

OANA beranggotakan 44 kantor berita dari 33 negara di wilayah Asia Pasifik.

Perlindungan terhadap wartawan dan keselamatan para insan pers merupakan
prioritas tertinggi bagi OANA di bawah pimpinan Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf,
yang juga merupakan Direktur Utama Kantor Berita ANTARA.

"Media telah menjadi bagian dari medan perjuangan dan wartawan menanggung
banyak risiko. Namun, hendaknya, jangan bunuh para pewarta. Menargetkan
pembunuhan terhadap wartawan adalah skandal pelanggaran hak-hak azasi
manusia (HAM) dan harus dihentikan," imbuhnya.

Menurut Wakil Kepala Biro Reuters, Julian Rake, Shana telah melaksanakan
tugasnya berdasarkan standar prosedural di bidang pers. Ketika dia dibunuh,
dia mengenakan jaket dengan tanda yang jelas, yaitu tanda pers dan mobilnya
juga bertandakan stiker pers

Pembunuhan terhadap Fadal Shana menimbulkan ketakutan bahwa tugas media di
wilayah Gaza menjadi sasaran pasukan Israel. Semua pemerintah dan
organisasi, menurutnya, mempunyai tanggung jawab untuk mengayomi dan
melindungi para pekerja profesional ini dalam upaya melaksanakan tugas
mereka.

"Kini tiba saatnya bagi masyarakat internasional untuk menjamin bahwa suatu
perjanjian untuk menghentikan permusuhan hendaknya juga menjamin media dan
para wartawan berada di luar jalur pertempuran," kata Mukhlis menyerukan.

OANA juga menyerukan perlunya perlindungan terhadap media dan para wartawan
akan dijamin oleh pasukan Israel di Gaza.

Mukhlis Yusuf juga menyerukan kepada dunia kewartawanan untuk meningkatkan
protesnya terhadap desakan pasukan Israel atas media yang berupaya meliput
konflik di Gaza tersebut.

Pasukan Israel telah memberlakukan blokade terhadap media dunia yang
berusaha menulis laporan-laporan mengenai krisis di wilayah Gaza itu.

"Kebenaran tidak bisa dituturkan jika para wartawan tidak bisa bebas
bergerak, untuk melakukan wawancara dengan siapa pun yang terlibat, dan
menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi di
lapangan," katanya menambahkan.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke