http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/01/13/3903.html

Selasa, 13 Januari 2009, 18:15:09 WIB

*Rapat Paripurna Kabinet Bahas Perubahan Postur APBN 2009*

Jakarta: *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* didampingi *Wakil Presiden M.
Jusuf Kalla*, Selasa (13/1) siang memimpin rapat paripurna Kabinet Indonesia
Bersatu, di Kantor Kepresidenan. Dalam rapat yang juga dihadiri Panglima TNI
Jenderal Djoko Santoso, Kapolri Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri, Jaksa
Agung Hendarman Supandji, Gubernur BI Boediono, dan pimpinan Wantimpres
(Dewan Pertimbangan Presiden) ini dilakukan evaluasi terhadap seluruh
kinerja perekonomian tahun 2008, dan fokus untuk tahun 2009 akibat adanya
tantangan dari kondisi perekonomian global yang mengalami pelemahan dan
perubahan yang sangat drastis

Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani kepada wartawan mengatakan, perubahan
APBN 2009 akan terjadi dikarenakan beberapa faktor seperti asumsi makro yang
menjadi landasan perhitungan APBN 2009, antara lain dari sisi pertumbuhan
ekonomi , dimana di dalam APBN 2009 diasumsikan pertumbuhan 6 persen ."Kami
perkirankan pertumbuhan akan berkisar antara 4,5 hingga 5,5 persen, dengan
titik tengah proyeksinya 5 persen ," kata Sri Mulyani.

"Keseluruhan perubahan penerimaan dan belanja APBN 2009 diperkirakan akan
mengalami defisit sebesar 2,5 persen dari PDB, meningkat dari 1 persen dari
PDB. Jadinya defisit kita tahun 2009, tadinya direncanakan hanya Rp. 51,3
trilyun atau 1 persen dari PDB. Dengan keseluruhan perubahan postur ini,
maka defisit akan mencapai Rp. 132 trilyun atau 2,5 persen PDB, atau naik
sebesar Rp. 80 trilyun. Kenaikan defisit ini akan ditutup, pertama dengan
menggunakan seluruh SILPA kita sebanyak Rp. 51 trilynn plus ada tambahan
pinjaman sebesar Rp. 30 trilyun," tambahnya.

Selain itu, mengenai pemberian stimulus fiscal , Sri Mulyani mengatakan,
yang sudah diberikan di dalam UU APBN adalah sebesar Rp. 12,5 trilyun, dan
itu dialokasikan terutama untuk memberikan subsidi dalam bentuk bea masuk
maupun PPN yang ditanggung oleh pemerintah. "Tambahan stimulus fiscal yang
akan dialokasikan didalam perubahan APBN ini sebesar Rp. 15 trilyun ini
termasuk didalamnya untuk memberikan diskon tarif listrik seperti yang
disampaikan dalam policy yang sudah diumumkan kemarin, termasuk pemberian
diskon atau subsidi solar dengan menurunkan harga solar menjadi Rp.
4.500/liter," katanya.

"Juga ada stimulus fiskal belanja tambahan sebanyak Rp. 10,2 trilyun,
terutama belanja dari kementerian dan lembaga yang bisa menciptakan
kesempatan lapangan kerja secara cepat, seperti bidang infrastruktur maupun
program-program pengentasan kemiskinan yang memiliki efektifitas, dan
prioritas paling tinggi nanti Rp. 10, 2 trilyun, yang sedang difinalkan dan
dimatangkan dengan para menteri lainnya, kemudian akan kami sampaikan ke
Dewan Perwakilan Rakyat," ujarnya.


"Stimulus fiskal yang direncanakan tersebut, selain bertujuan menciptakan
lapangan kerja dan aktifitas UKM supaya tetap meningkat, juga untuk menjaga
daya beli rakyat. "Seperti saudara semua memahami bahwa program-program
pemerintah untuk mengurangi harga, baik itu harga obat, minyak goreng, dan
komoditas seperti kedelai dan lain-lain, tujuannya agar mengurangi beban
masyarakat, " jelasnya.

"Pemberian stimulus fiskal selanjutnya adalah memberikan penguatan kepada
sektor usaha agar daya saing dan daya tahan mereka bisa meningkat, atau
tetap dipertahankan, baik itu dalam bentuk subsidi untuk bea masuk dan PPN
atau fasilitas revisi PPH pasal 25 yang dipercepat. Bahkan fasilitas
menanggung PPH pasal 21 yaitu pajak penghasilan untuk karyawan dan tenaga
kerja, serta potongan tarif listrik untuk industri, penurunan harga solar,
pembiayaan dan jaminan ekspor serta promosi ekspor," tambahnya. (win)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke