Setiap malam Rabu Kang Said (KH Said Aqil Siraj) membuka pengajian di rumahnya,
Ciganjur. Materi pengajiannya adalah Tafsir Ibnu Katsir/Tafsir Kabir.
Model pengajiannya cair dan mengalir: Kang Said membacakan isinya kemudian
menjelaskan dan menjabarkan artinya. Di sela-sela pengajian, peserta pengajian
boleh memotong dengan pertanyaan, sanggahan, ataupun sekadar mengeluarkan
pendapat pribadi.
Suasana pengajian terasa hidup dan segar, karena proses pengajian tidak tertuju
dan terpusat pada satu arah. Pola yang dibangun dalam pengajian itu bukan
monolog melainkan dialog.
Di majelis pengajian ini, Kang Said bukanlah satu-satunya orang yang memiliki
pengetahuan dan kebenaran. Kang Said memperlakukan peserta pengajian
sebagai mitra dialog yang sejajar.
Terkadang, Kang Said hanya mendengar dan mencercap beragam pendapat dari
peserta pengajian tanpa memberikan tanggapan ataupun jawaban. Semuanya
dibiarkan mengalir bebas tanpa batas.
Kang Said berhasil menjadikan ruang pengajiannya sebagai medan kontestasi
beragam pendapat dan gagasan yang mencuat dari masing-masing peserta pengajian.
Dari santri totok, anak kuliahan, yang berpikiran kolot, moderat, sampai yang
liberal semuanya ada di sini.
Seusai pengajian, para peserta biasanya tidak langsung bergegas pulang. Kang
Said membuka obrolan bebas yang biasanya terkait dengan isu-isu kontemporer.
Isu-isu yang dibicarakan beragam, mulai dari persolana sosial, politik,
ekonomi, hingga kebudayaan. Maklum, pesertanya juga bukan berasal dari latar
belakang yang sama.
Di sela-sela obrolan itu, Kang Said bertanya kepada saya menyangkut
perkembangan terakhir soal tol. Menurutnya, selama ini ia mengikuti terus
perkembangan berita adanya penolakan Pesantren Babakan terhadap mega projek tol
Cikapa (Cikampek-Palimanan), namun bukan dari sumbernya langsung. Ia mendengar
dari surat kabar dan televisi.
Kang Said menyayangkan adanya pro-kontra yang terjadi di Babakan. Apalagi,
menurut isu yang sengaja dihembuskan pemerintah pusat, bahwa yang menolak
hanyalah beberapa gelintir kiai.
Saya ceritakan apa adanya. Saya juga sempat meluruskan beberapa informasi
keliru yang masuk ke Kang Said. Saya katakan bahwa pro-kontra yang terjadi di
Babakan tidaklah muncul secara alamiah, tanpa rekayasa. Sebab, sejak mega
projek ini digulirkan, yakni pada 1996, seluruh kiai/ulama yang ada di Babakan
sepakat untuk menolaknya. Tidak ada satupun kiai yang menyempal dari
kesepakatan tersebut.
Memang, ada semacam penyakit laten yang sudah sejak lama bercokol dan
menggerogoti tubuh Pesantren Babakan, yakni soal kesenjangan dan kecemburuan
sosial antara pondok pesantren yang berada di utara (Babakan) dan pondok
pesantren yang berada di selatan.
Desa Babakan merupakan bumi pesantren. Ada sekitar 32 pesantren yang berbaur
dengan pemukiman penduduk. Meski masing-masing pesantren bersifat independen,
namun secara nasabiyah (pertalian nasab) pengasuh-pengasuhnya berasal dari satu
keturunan, yakni Kiai Jatira, muassis Pondok Pesantren Babakan. Secara
geografis keberadaan 32 pesantren itu menyebar ke utara dan selatan Desa
Babakan.
Secara kebetulan, pesantren-pesantren yang ada di utara kondisinya kurang
makmur dan hampir bangkrut. Hal ini dikarenakan, di samping santrinya
semakin sedikit, generasi penerusnya pun mengalami krisis. Dan, secara
kebetulan pula, yang terancam terkena jalan tol adalah pesantren selatan. Jadi,
momentum ini seolah-olah dijadikan oleh pesantren utara untuk "menghancurkan"
pesantren selatan.
Nah, kondisi semacam ini yang kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu
yang sengaja memecah-belah Pondok Pesantren Babakan. Kepada Kang Said, saya
menyebut Eten Roseli sebagai aktor yang berada di balik pro-kontra tersebut. Ia
menjabat sebagai Ketua Tim Pembebasan Tanah Jawa Barat. Tampaknya, ia paham
betul peta konflik yang ada di Babakan, sehingga tinggal mengipas-ngipasi
agar api konflik itu bertambah besar.
Diduga kuat di balik Eten ada banyak spekulan tanah yang sudah kadung atau
jauh-jauh hari sudah membeli tanah-tanah yang akan dilalui tol. Sehingga kalau
trase tol itu jadi dipindah, mereka akan mengalami kerugian besar hingga
miliaran rupiah. Para spekulan tanahlah yang mendesak pemerintah untuk tidak
memindah trase tol kendatipun bermasalah.
Justeru pemerintah seharusnya bertanggung jawab karena telah menciptakan
konflik (acts of commission) di Babakan, dan membiarkan konflik (acts of
omission) itu berlarut-larut. Seharusnya, dengan adanya pro-kontra yang
menyebabkan terpecahnya Pesantren Babakan, mega projek ini dihentikan atau
bahkan dibatalkan demi hukum.
Saya harus menjelaskan semuanya kepada Kang Said. Sebab, saya yakin sebelumnya
ada orang-orang tertentu yang membisiki Kang Said dengan informasi yang
sengaja diselewengkan atau dibuat kabur.
Maklum, meski berasal dari Pondok Pesantren Kempek, Palimanansekitar 3 km dari
Pesantren Babakan CiwaringinKang Said lebih banyak menghabiskan waktunya di
Jakarta. Di sela-sela kesibukannya menjabat ketua PBNU, ia harus mengajar di
beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan luar Jakarta, menjadi mubaligh di
sejumlah tempat, serta sibuk dengan urusan bisnis. Sehingga persoalan-persoalan
yang terjadi di daerah hampir absen dari perhatiannya.
Namun, saya sempat terkaget-kaget ketika Kang Said menutup obrolan kami dengan
kesimpulan yang tidak diduga sebelumnya: ia menyayangkan sikap kiai Babakan
yang telah menolak tol. Menurutnya, jalan tol adalah kepentingan umum
(maslahah al-ammah). Tidak sepatutnya Pesantren Babakan menghalang-halangi
apalagi sampai menolak keberadaan mega projek tersebut.
Apalagi, lanjut Kang Said, di dalam kitab kuning sudah jelas disebutkan bahwa
kepentingan umum harus diperioritaskan. Jangankan pondok pesantren, Masjid
juga boleh dibongkar, kata Kang Said.
Sayangnya, Kang Said tidak menjelaskan apa itu maslahah al-ammah (kepentingan
umum). Juga tidak mengelaborasi lebih jauh cakupan dan ruang lingkup
kepentingan umum dalam konteksnya dengan jalan tol.
Sebab, bisa jadi, kepentingan umum dalam pandangan pemerintah akan berbeda
jauh ¯ bahkan bisa bertentangan ¯ dengan kepentingan umum menurut pemahaman
masyarakat.
Menurut saya, ini yang seharusnya di-clear-kan terlebih dahulu. Agaknya, Kang
Said terlalu terburu-buru mengkategorikan jalan tol sebagai maslahah
al-ammah. Yang seharusnya diperhatikan Kang Said adalah: Pertama, harus
dibadakan antara jalan tol dan jalan umum. Kamus Besar Bahasa Indonesia
menyebut jalan tol sebagai: jalan yang mengenakan bea bagi pemakainya.
Jalan tol dibangun untuk kepentingan komersial murni. Tidak semua jenis
kendaraan bisa lewat. Di samping harus mengeluarkan biaya, pemakai jalan tol
juga terbatas. Ia tidak bisa dilalui pejalan kaki, becak, sepeda, dll. Kita
juga tidak bisa membuat warung kocil atau menjajagkan barang dagangan di
kanan-kiri jalan tersebut karena dipagar dengan kawat berduri. Jangankan untuk
melewati jalan tersebut, nongkrong di bibir jalan pun tidak diperbolehkan.
Yang punya akses menikmati pinggir-pinggir jalan tol hanyalah para pemodal
besar. Jangan harap Anda dapat menjual bensin eceran seperti yang ditemui di
jalan-jalan umum. Yang ada hanyalah Pertamina, Petronas, Shell, dll. Anda juga
tidak akan menemukan warung-warung kopi, pedagang-pedagang asongan penjual
rokok, makanan dan minuman kecil, karena semuanya sudah dibeli oleh Starbucks,
Mc Donald, KFC, Dunkin Donuts, Alfamart, dll.
Kedua, jalan tol dibangun dan dibiayai swasta (pemodal) untuk kepentingan
komersial, menjual jasa, meraup keuntungan sebanyak mungkin. Selama masa
konsensi, keuntungan yang dihasilkan jalan tol sepenuhnya milik swasta. Bahkan,
setelah masa konsesi habis pun, yang punya akses terhadap jalan tol hanyalah
mereka yang berkantong tebal.
Dalam hal ini, posisi Negara hanyalah semacam penyelenggara atau kepanjangan
tangan pemodal itu. Bahkan lebih parah lagi, Negara menjadi semacam penjaga
malam untuk melindungi dan menjaga kepentingan pemodal.
Apakah itu semua pantas dan tidak bertentangan dengan asas-asas maslahah
al-ammah, kepentingan umum? Di sini, saya kira, Kang Said gagal
mengkategorikan jalan tol/jalan bebas hambatan sebagai kepentingan umum. Kang
Said hanya menggunakan kaca mata fikih an sich (teks-teks fikih), tanpa
melakukan tabayyun terlebih dahulu, mengkomparasikannya dengan realitas
kongkrit. Cara pandang seperti ini pada akhirnya menelikung Kang Said sendiri:
ia gagap memahami dan memaknai realitas, kritisismenya tumpul, dan tidak
memiliki keberpihakan sama sekali. Wallahu alam bi sawab.
bersambung.....
salam,
Jamaluddin Mohammad
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/