Di harian Kompas 31 Desember 2008 ada artikel bagus yang berjudul "Belajar dari
Reformasi China" Oleh I Wibowo.
Untuk belajar lebih mendalam dari reformasi Cina, bacalah:
The Elephant and the Dragon:
Fenomena Kebangkitan
India dan Cina yang Luar Biasa
serta Pengaruhnya
Terhadap Kita
New York Times
Best-Seller
Robyn Meredith
Pengantar: RHENALD
KASALI
BUKU PERTAMA DAN
TERLENGKAP YANG MENGANGKAT KEBANGKITAN INDIA DAN CINA
“Buku ini patut kita pelajari agar semangat
perubahan bangsa India dan Cina menulari kita untuk berubah menjadi bangsa yang
lebih maju dan adaptif dalam abad ke-21 ini.”
-- Rhenald Kasali
“Sebuah laporan penting tentang
perubahan besar dan mengejutkan yang terjadi pada India dan Cina. Kemajuan
ekonomi keduanya mulai mengancam negara-negara Barat.”
-- Kompas Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
-->
“Sangat informatif untuk mengetahui komposisi kekuatan dunia
kontemporer. Harus dibaca.”
--Abu Syauqi, pendiri Rumah Zakat Indonesia
“Buku The Elephant and the Dragon sangat inspiring.
Buku saya yang berikutnya terpengaruh oleh buku ini.”
--Ippho Santosa, No.1 Creative Marketer in Indonesia
& penulis megabestseller Marketing is Bullshit
“Cina tumbuh amat pesat, menjadi pusat manufakturing baru
dunia, bahkan disebut sebagai superpower baru. India adalah superpower
yang lain, tetapi ia memilih menjadi pusat jasa dunia. Jasa outsourcing
India telah mengubah cara bisnis masa kini, terutama dalam bidang Teknologi
Informasi dan Komunikasi.”
-- Hermawan Kartajaya dan Philip Kotler
“Buku ini akan
menyadarkan pembaca betapa dunia sedang dibentuk oleh kebangkitan India dan
Cina. Robyn Meredith berhasil menyingkap rahasia kesuksesan India dan Cina yang
dapat menginspirasi siapa saja agar juga mampu berubah.”
-- Pikiran Rakyat
“Buku ini sangat luar biasa dan begitu menggugah, karena
memaparkan bagaimana India dan Cina cepat belajar lalu bangkit menjadi negara
yang diperhitungkan di dunia.”
-- Harian Analisa
www.elephantanddragon.com
Berikut ini tulisan I. Wibowo:
Pada 1994 Shenzhen memang sudah menjelma menjadi sebuah ”keajaiban”. Empat
belas tahun kemudian (2008) keajaiban itu semakin membuat orang terkesima. Kota
yang berpenduduk 12 juta orang itu menempati peringkat tertinggi dalam
pendapatan per kapita (3.000 dollar AS).
Fasilitas kotanya aduhai. Dalam 14 tahun, Shenzhen membangun kereta api
bawah tanah, gedung konser yang anggun, perpustakaan umum yang megah, tentu
saja gedung dan jalan yang serba mulus. Kota itu bersih, tak ada sampah, tak
ada baliho iklan yang berceceran di mana-mana dan mencemari pemandangan. Jangan
lupa dua taman kebudayaan yang luas dan indah, Window of the World dan Zhongguo
minyu wenhua cun, Taman Kebudayaan Suku-suku China.
Shenzhen memang pantas dipakai sebagai ujung tombak reformasi China karena
mulai dari Shenzhen-lah kapitalisme masuk China. Sekaligus juga Shenzhen
merupakan model pembangunan China yang berciri state-led. Tentu saja Shenzhen
adalah eksperimen sukses China mengadakan ”zona ekonomi khusus”. Kalau Shanghai
sering dianggap sebagai ikon keberhasilan pembangunan China, Shenzhen
benar-benar adalah ”legenda” model pembangunan China. Sebab, berbeda dari
Shanghai yang punya sejarah gemilang pada tahun 1930-an, Shenzhen mulai dari
sebuah desa nelayan berpenduduk 3.000 orang. Tak salah kalau KBRI di China pada
12-13 Desember mengadakan seminar ”30 Tahun Reformasi China” di kota yang amat
historis itu.
Selama diskusi untuk menguak keberhasilan China, orang cenderung menunjuk
kepada keberanian Deng Xiaoping memasukkan sistem pasar dan dengan demikian
memasukkan kapitalisme. Tanggal yang biasa ditunjuk adalah 30 Desember 1978,
ketika Sidang Pleno III Komite Sentral Partai Ke-11 berakhir dan mengesahkan
rencana ”reformasi dan keterbukaan”.
... (truncated)
Bukan sumber daya alam
China pada hakikatnya adalah negara yang miskin sumber daya alam.
Duta Besar RI untuk China Sudradjat dengan tepat menunjuk kepada
keberhasilan China di bidang pendidikan sebagai kunci terpenting reformasi
China, terutama pada tahap awalnya. Soal kekurangan sumber daya alam, China
dapat menutupnya dengan memperolehnya (impor) dari negara lain.
Yang terjadi di Indonesia justru kebalikannya. Kekayaan alam dieksploitasi
sampai habis, sementara pengembangan sumber daya manusia diabaikan. Mungkin ini
dapat menjelaskan mengapa reformasi Indonesia selama 30 tahun (selama Orde
Baru) tak berkelanjutan. Ketika reformasi kedua diadakan setelah 1998 juga
terlihat kecenderungan yang sama.
I Wibowo Ketua Centre for Chinese Studies FIB UI
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
[Non-text portions of this message have been removed]