http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=25347
Senin, 12 Jan 2009, | 22
Hamas Titip Salam Untuk Indonesia
Jakarta, AE.- Para pejuang Haroqah Al Muqowammah Al Islamiyah ( Hamas )
di Palestina menitipkan salam untuk masyarakat Indonesia. Solidaritas dan
sumbangan dana kemanusiaan sudah diterima dan siap digunakan.
Salam itu dititipkan pada Ketua MPR Hidayat Nur Wahid yang baru saja
pulang dari Timur Tengah. Hidayat berangkat dalam kapasitasnya selaku anggota
organisasi Al Quds International yang dipimpin oleh Dr Yusuf Qardhawi.
"Saya sudah bertemu pemimpin-pemimpin mereka di Damaskus, Syria dan
Amman, Jordania. Mereka mengucapkan salam dan terima kasih untuk bangsa
Indonesia," ujar Hidayat saat berorasi di Tugu Monas, Jakarta kemarin. Ribuan
massa PKS menyambutnya dengan teriakan takbir.
Menurut Hidayat, dirinya berkunjung ke sejumlah negara Arab untuk mencari
jalan perdamaian. Hidayat berangkat sejak Kamis 1 Januari dan pulang Kamis 8
Januari. Dia sempat bertemu Amir Qatar Syeikh Hamd Khalifah Ali Tsani , Raja
Arab Saudi King Abdullah, Presiden Syria Bashar Assad, Raja Abdullah ke II
Yordania (Selasa), dan Presiden Turki Abdullah Gul.
Hidayat juga bertemu dengan pimpinan empat kelompok Palestina, Faksi
Hamas, Faksi Jihad, Faksi Nasional dan Kemasyarakatan, dan Faksi Fatah. Ketika
di Jordania delegasi mengunjungi korban agresi Israel di Rumah Sakit Elia.
"Para pejuang Palestina bersyukur saudaranya di Indonesia ikhlas membantu
dengan apapun yang bisa dilakukan," kata Hidayat yang kemarin berkoko lengan
pendek warna putih. Selain Hidayat dan tokoh-tokoh PKS, demo juga dihadiri
perwakilan umat Budha, perwakilan PGI, dan beberapa organisasi masyarakat.
Menurut Hidayat, PBB sudah tak bisa lagi diharapkan. "Resolusi saja
diingkari oleh Israel, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Jadi, sebaiknya memang
perlu ada badan baru," kata mantan Presiden PKS itu.
Hidayat juga akan menemui SBY agar segera melakukan langkah lebih nyata.
"Saya akan bicara dengan bapak Presiden karena Indonesia punya peran yang
sangat strategis di dunia Arab maupun di badan-badan internasional," katanya.
Demo yang berakhir tengah hari itu juga diikuti anak-anak. Bahkan, putra
Hidayat Hubaib, juga ikut berorasi di atas panggung. Massa PKS tidak membawa
bendera partainya. Hanya bendera merah putih dan bendera Palestina.
Aksi ditutup dengan happening art berjudul Menembus Camp Israel. Hidayat
dan Adang berlari membawa bendera Palestina dan menerobos semacam papan tipis
bergambar bendera Israel. Massa juga membakar bendera Israel lalu berdoa
bersama.
Ratu Se-Arabia Dukung Palestina
Israel boleh saja memunggungi dunia, tapi mereka tidak bisa mengabaikan
suara para ratu Jazirah Arabia. Terpanggil ratap tangis anak-anak Palestina,
para ratu dan ibu negara di kawasan Timur Tengah kemarin (11/1) berkumpul.
Mereka menuntut Israel menghentikan agresi militer ke Gaza serta menarik
pasukan dan mengakhiri blokade.
Para ratu dan ibu negara yang berkumpul di sebuah hotel di tepi Pantai
Bosporus, Istanbul, Turki, itu adalah Ratu Rania, permaisuri Raja Jordania
Abdullah; Asma Assad, istri Presiden Syiria Bashar Assad; Ratu Qatar Sheika
Mozah bint Nasser al-Missned, istri Emir Qatar Sheikh Hamad Bin Khalifa
Al-Thani; dan Wafa Suleiman, istri Presiden Lebanon Michel Suleiman. Pertemuan
itu juga dihadiri putri pemimpin Libya Muammar Khadafi, Aisha, dan istri PM
Pakistan Yusuf Raza Gilani, Fauzia Gilani.
Tuan rumah sekaligus penggagas pertemuan bertajuk Women for Peace in
Palestine itu adalah Emine Erdogan, istri PM Turki Recep Tayyip Erdogan.
Setelah pertemuan, sebelum membacakan pernyataan bersama, Emine menangis ketika
menanggapi serangan militer di Jalur Gaza. Dia mengaku sangat terganggu dengan
semakin banyaknya anak-anak yang terjebak dalam perang itu.
"Mereka terbunuh ketika bersepeda di taman. Mereka mencari perlindungan
di sekolah, tapi tetap saja terbunuh di tempat tersebut. Mereka terbunuh di
dalam masjid. Ke rumah sakit pun, mereka masih saja dijemput kematian," ujarnya
sesenggukan.
"Saya berbicara atas nama rasa pedih yang saya rasakan di dalam hati
sebagai seorang ibu," imbuhnya sambil mengusap air mata.
Dalam pernyataan bersama, Emine meminta dunia internasional terus
menolong para korban serangan Israel di Gaza. "Atas nama perempuan yang
keberadaannya sangat penting bagi perdamaian dan kehidupan manusia, kami
meminta komunitas internasional menekan Israel agar mereka menghentikan
serangan itu," tegas Emine mewakili rekan-rekannya.
Untuk semakin menunjukkan kepeduliannya, para wanita yang menjadi pujaan
di negara-negara masing-masing itu mengenakan syal putih yang bertuliskan kata
"damai" dalam bahasa Turki, Arab, dan Inggris di pundak mereka.
Obama Tangani Gaza di Hari Pertama
Dari perkembangan situasi di Gaza, sepanjang Sabtu malam (10/1), pesawat
tempur Israel melancarkan 60 serangan udara dan militan Palestina menembakkan
sejumlah rudal ke bagian selatan Israel. Di sebelah utara Jalur Gaza, dokter
Palestina mengatakan, tembakan tank Israel menewaskan lima penduduk sipil.
Sementara itu, dua roket militan Hamas yang mendarat di Kota Beersheba, Israel,
mengakibatkan sejumlah kerusakan, namun tidak jatuh korban jiwa. Sekitar 850
warga Gaza terbunuh dan 13 warga Israel tewas dalam 16 hari pertempuran.
Israel untuk kali pertama mengungkapkan hasratnya mengakhiri apa yang
disebut sebagai perang melawan teror di Gaza kemarin (11/1). Perdana Menteri
Israel Ehud Olmert mengatakan, pasukan militernya membuat pencapaian yang
memuaskan dalam aksi mereka melawan Hamas. "Pertempuran masih harus dilanjutkan
untuk mencapai tujuan kami, yakni menghentikan serangan roket Hamas ke selatan
Israel," ujar PM Olmert.
Presiden AS terpilih Barack Obama dalam wawancara dengan stasiun TV ABC
News menyatakan akan membentuk satu tim khusus yang bertugas mencari
upaya-upaya damai di Timur Tengah segera setelah naik jabatan pada 20 Januari
2009. "Apa yang sedang saya kerjakan sekarang adalah membentuk tim sehingga
pada 20 Januari, dimulai dari hari pertama (saya memerintah), kami memiliki
orang-orang yang paling mampu untuk menangani segera proses damai di Timur
Tengah secara menyeluruh," katanya kepada ABC News kemarin.
Tim itu, kata Obama, akan erat berhubungan dengan semua aktor (pihak
bersengketa) di sana. Mereka akan bekerja untuk menciptakan pendekatan
strategis yang menjamin bahwa aspirasi-aspirasi Israel maupun Palestina
terpenuhi. Sebelum tanggal tersebut, dia akan membiarkan pemerintahan Presiden
George W. Bush menjalankan kebijakan luar negeri (AS).
Juli lalu, selama kunjungan ke Israel, Obama berkata, "Jika seseorang
menyerangkan roket-roketnya ke rumah saya di mana dua anak perempuan saya
sedang lelap tertidur, saya akan berbuat apa saja untuk menghentikan serangan
itu. Saya kira Israel akan berbuat hal serupa."
Saat ditanya ABC apakah dia akan mengulang retorika itu kini, Obama
menjawab, "Saya kira prinsip dasar setiap negara adalah mereka mesti melindungi
warga negaranya.".
(BBC/Rtr/kim/rdl)
[Non-text portions of this message have been removed]