Kalau patung Buddha di Bamiyan bisa dihancurkan tentu di Indonesia ada yang 
berpendapat  boleh merusak peninggalan sejarah di Indonesia.

  ----- Original Message ----- 
  From: Sandy Dwiyono 
  To: [email protected] ; [email protected] 
  Sent: Friday, January 09, 2009 4:15 PM
  Subject: [ppiindia] Bagian Penting Situs Majapahit Telanjur Rusak


  
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/09/2104336/bagian.penting.situs.majapahit.telanjur.rusak..
  ..

  *Bagian Penting Situs Majapahit Telanjur Rusak*

  JAKARTA, JUMAT - Meskipun pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) di
  lokasi sekarang samping Museum Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto,
  Jawa Timur dihentikan, proyek Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu telah
  merusak bagian penting Situs *Majapahit*. Sejarah kebesaran dan kehebatan
  peradaban Majapahit selama lebih kurang 200 tahun (1293-1521 Masehi) yang
  sudah dikenal luas itu, terancam menjadi cerita dongeng.

  Perusakan yang dilakukan pemerintah melalui proyek tanpa Izin Mendirikan
  Bangunan (IMB), tidak mempunyai kajian Analisa Mengenai Dampak Lingkungan
  (Amdal) itu, tak punya studi kelayakan, dan tak melibatkan Balai Arkeologi
  Yogyakarta sebagai pengemban tugas penelitian di wilayah DIY, Jawa Tengah,
  dan Jawa Timur. Hal tersebut tidak saja melanggar Undang-undang No 5 tentang
  Benda Cagar Budaya, tetapi juga tak sesuai dengan etika profesi arkeolog dan
  hati nurani.

  Demikian antara lain benang merah yang terungkap dalam paparan Tim Evaluasi
  Pembangunan PIM di redaksi Kompas, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Jumat
  (9/1). "Perlakuan Pemerintah diibaratkan bapak memperkosa anak dan kemudian
  memutilasinya," kata Prof Dr Mundardjito, menggambarkan kerusakan situs
  akibat proyek PIM senilai Rp25 miliar tersebut.

  Walaupun ditunjuk sebagai Tim Evaluasi Pembangunan PIM tanpa SK (surat
  keputusan), Mundardjito bersama Arya Abieta, Osriful Oesman, Daud Aris
  Tanudirjo, dan Anam Anis, mengaku telah melakukan evaluasi sebagaimana
  diharapkan. Namun, yang sangat ia sayangkan, sembilan poin penting yang
  direkomendasikan, terkesan tidak dipedulikan.

  Buktinya, ketika kegiatan pengupasan tanah sampai pembuatan sistem grid
  arkeologi di seluruh area calon bangunan PIM dengan mengacu pada grid
  Segaran II yang masih dapat dilacak diminta dihentikan sementara. Meski
  rekomendasi dikeluarkan tanggal 5 Desember, sepekan kemudian ketika dicek ke
  lapangan, pelaksanaan proyek tetap jalan.

  "Proyek berhenti di akhir Desember 2008 bukan karena rekomendasi Tim
  Evaluasi , tapi karena tahun anggaran 2008 berakhir," ujarnya.

  Dalam presentasi berjudul Vandalisme Situs Majapahit, arkeolog dan guru
  besar FIB UI ini menampilkan foto-foto penggalian oleh kuli proyek PIM yang
  merusak artefak, bekas bangunan peninggalan kerajaan Majapahit. Ada sumur
  Majapahit tipe Jobang dirusak untuk penahan konstruksi tiang yang mau dicor.
  Mencermati bekas-bekas galian yang rusak akibat penggalian, Mundardjito
  mengambarkan, ke depan akan ada lembaran-lembaran penelitian yang kosong.

  Padahal, sekecil apa pun bagian bangunan dan artefak masa Majapahit yang
  dihancurkan dan dirusak, akan mempengaruhi rekonstruksi sejarah masa lalu
  Majapahit. Setelah mempelajari gambar dan hasil peninjauan lapangan dan
  gambar penelitian arkeologi tahun 1989-2007, disimpulkan beberapa daerah
  situs penting diduga (akan) terkena pondasi bangunan, tambahnya.

  Penelitian Mundardjito tahun 1979 sudah merekomendasikan agar jangan ada
  bangunan di situ (di lokasi proyek PIM sekarang). Karena ditemui banyak
  keramik, gerabah, tulang- tulang. Jadi lokasi itu sangat berharga, bernilai
  tinggi, bagi rekonstruksi Kejaraan Majapahit, satu-satunya kerajaan yang
  meninggalkan sisa-sisa pemukiman tipe kota.

  Anam Anis, yang juga masuk Tim Evaluasi menambahkan, kerusakan begitu parah
  terjadi karena yang menggali-lobang-lobang di situs untuk pondasi itu kuli
  bangunan, sehingga pelaksanaan lapangan tidak mengacu pada kaedah-kaedah
  pelestarian arkeologis. "Kontraktor tidak melengkapi tim kerjanya dengan
  tenaga ahli arkeologi yang berpengalaman," tandasnya.

  Tidak hanya Tim Evaluasi Pembangunan PIM yang mengemukakan bahwa proyek PIM
  telah merusak bagian penting situs Majapahit. Kepala Balai Arkeologi
  Yogyakarya Siswanto sebelumnya juga menegaskan, lokasi pembangunan PIM
  merupakan area yang paling potensial.

  "Balai Arkeologi Yogyakarta menempatkan area tersebut sebagai prioritas
  pertama untuk penelitian arkeologi (khususnya Kota Majapahit), sehingga
  semestinya tidak boleh ada kegiatan lain yang tidak berkaitan dengan
  penelitian arkeologi," katanya.

  Menurut Siswanto, data arkeologi berupa bagian bangunan dan artefak masa
  Majapahit di area proyek yang semestinya menjadi bahan penelitian guna
  mengungkapkan kejayaan Majapahit, rusak dan musnah akibat pembangunan
  fondasi.

  Arsitek Arya Abieta sebagai Tim Evaluasi Pembangunan PIM, dalam forum
  paparan di Kompas juga mempertanyakan, kenapa proyek PIM yang tak dilakukan
  sesuai prosedur standar anggarannya bisa lolos di DPR.

  Yurnaldi

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke