Israel kanker dunia


http://www.republika.co.id/berita/26524.html

Israel Diserang Habis-habisan di Sidang PBB

MARKAS PBB --   Israel diserang berbagai pihak dalam sidang darurat PBB Kamis 
waktu AS (Jumat pagi WIB) karena melecehkan hukum internasional menyusul 
serangan militer mautnya di Jalur Gaza, termasuk dengan menyerang rumah sakit, 
media massa dan gedung-gedung PBB.

"Gaza berkobar-kobar terbakar.  Kawasan itu telah telah berubah menjadi neraka 
yang terbakar," kata Presiden Majelis Umum PBB ke -192, Miguel d'Escoto 
Brockmann dari Nicaragua.

"Pelanggaran hukum internasional yang melekat dalam serangan Gaza tercatat 
sangat baik: hukuman kolektif; penggunaan (kekuatan) militer yang sangat 
berlebihan; serangan terhadap warga sipil termasuk rumah-rumah, masjid-masjid, 
universitas-universitas, sekolah-sekolah," papar Miguel.

Sidang darurat Majelis Umum PBB yang dimintakan 118 anggota PBB yang tergabung 
dalam gerakan Non Blok, dilangsungkan setelah upaya Israel menghadang 
penyelenggaraan sidang dengan alasan soal prosedur gagal diterima forum.

Sejak Israel melancarkan Operation Cast Lead pada 27 Desember 2008 untuk 
menghentikan serangan roket Hamas, lebih dari 1.100 orang Palestina termasuk 
355 anak-anak, terbunuh dan setidaknya 5.000 orang terluka, demikian keterangan 
para petugas kesehatan di Gaza.

Deputi Sekretaris Jenderal PBB Asha-Rose Migiro menyatakan saat ini Sekretaris 
Jenderal Ban Ki-moon tengah mengunjungi Israel untuk menyampaikan "protes keras 
dan kemarahannya" untuk kemudian menuntut penjelasan (pemerintah Israel) 
setelah Israel menembak hingga meluluhlantakan kantor PBB di Gaza dan menembaki 
gudang-gudang tempat penyimpanan bantuan yang sangat dibutuhkan (warga dan 
aktivis bantuan).

Serangan-serangan Israel telah membakar sisi sebuah rumah sakit dan melukai dua 
kamerawan dalam sebuah gedung yang menjadi tempat media massa internasional dan 
Arab (berbasis meliput Gaza).

Para duta besar negara-negara di PBB menunjukkan kecemasan sangat mendalam 
terhadap serangan-serangan terakhir Israel ke Gaza.

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menyatakan pasukannya membom kantor PBB 
untuk membalas tembakan yang datang dari arah gedung (dimana PBB berada), 
sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh UNRWA, sebuah badan PBB.

Dari satu pembicara ke pembicara dalam sidang darurat MU PBB ini kritik silih 
berganti menyerang serangan terakhir Israel ke Gaza.

Mewakili Uni Eropa, Duta Besar Ceko untuk PBB Martin Palous menyatakan blok 
Eropa beranggotakan 27 negara "memprotes keras dan mengungkapkan kemarahannya 
atas berondongan tembakan Israel ke kantor PBB di Jalur Gaza dan menegaskan 
bahwa fakta itu telah diklarifikasi (benar)."

Miguel D'Escoto menyayangkan fakta bahwa ofensif Israel yang dilancarkan untuk 
menghentikan serangan militan Palestina yang kini memasuki hari ke-20, terus 
berlanjut padahal sudah ada seruan gencatan senjata minggu lalu dari 15 anggota 
Dewan Keamanan PBB.

Seruan yang tercantum dalam Resolusi 1860 itu sejauh ini sengaja diabaikan baik 
oleh Israel maupun Hamas yang menguasai Gaza.

"Bagi saya ini ironis bahwa Israel, sebuah negara (yang mempunyai keistimewaan) 
lebih dari negara-negara manapun (karena) mengantungi sebuah resolusi Majelis 
Umum (tahun 1948) yang mengesahkan keberadaannya, malah menghinakan 
resolusi-resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa," tandas D'Escoto.

"Pernyataan terakhir Perdana Menteri Olmert dengan mengingkari kewenangan 
Resolusi 1860 jelas menempatkan Israel sebagai sebuah negara yang melawan hukum 
internasional dan Perserikatan Bangsa Bangsa," tambahnya.

Untuk memenuhi permintaan sejumlah negara anggota Majelis Umum, Miguel D'Escoto 
membagikan sebuah rancangan resolusi tak berjilid yang menuntut adanya 
penghormatan penuh terhadap Resolusi 1860 dan menyerukan Dewan Keamanan 
menjamin "pelaksaan penuh dan segera resolusi tersebut."

Dubes Israel untuk PBB Gabriela Shalev mengatakan Majelis Umum mengadakan 
sidang dengan melanggar ketentuannya sendiri, dengan menyatakan berdasarkan 
Piagam PBB, Majelis tidak boleh melibatkan diri dalam satu isu yang sedang 
dibahas oleh Dewan Keamanan yang sesungguhnya lebih berkuasa.

Dia meninggalkan ruang sidang dengan menyebutnya sebagai sebuah upaya yang 
sinis, penuh kebencian dan telah dipolitisasi untuk mendelegitimasi hak 
fundamental Israel dalam melindungi warga negaranya.

Namun, Dubes Iran Mohammad Khazaee menyerang Israel dengan mengatakan aksi 
Israel di Gaza itu adalah genosida dan kejahatan melawan kemanusiaan seraya 
menyebut negara Yahudi itu tidak layak menjadi anggota PBB.

Sementara Dubes Malaysia Hamidon Ali mengusulkan resolusi yang diajukan Majelis 
harus berisi seruan gencatan senjata, penarikan mundur secepatnya tentara 
Israel dari Gaza, penghentian blokade Israel ke kantong Palestina itu dan 
mengizinkan bantuan kemanusiaan sampai ke para korban konflik.

"Resolusi ini juga mesti menyeru pembentukan sebuah pengadilan (kejahatan 
perang) untuk menuntut siapapun yang bertanggungjawab dalam kejahatan perang 
dan kejahatan terhadap kemanusiaan.  Akhirnya segala sanksi harus diterapkan 
tanpa kecuali," tegas Dubes Malaysia ini.

Sidang darurat Majelis Umum ini akan dilanjutkan Jumat (Sabtu WIB).

Israel mengajukan syarat pengakhiran perangnya melawan Hamas di Gaza jika ada 
jaminan internasional bahwa para pejuang Palestina tidak lagi mempersenjatai 
diri dengan menyelundupkan senjata dari Mesir dan menghentikan serangan 
roketnya dari kantong Palestina.   - ant/afp/ah





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke