hehehe..lucu ya, orang mau menutup auratnye & mematuhi seruan Tuhannye koq ga
boleh. Mungkin dlm benak orang2 yg anti jilbab ini, mustinye perawat2 pk kutang
doank waktu kerja
'Lengan Panjang, tak Masalah'
Rumah
Sakit Mitra Keluarga Bekasi (RSMKB) dan Rumah Sakit Mitra Internasional
(RSMI) Jakarta Timur, melarang karyawatinya yang berjilbab mengenakan
baju lengan panjang. ''Alasannya, agar pasien tidak berisiko tertular
penyakit,'' tutur seorang pegawai RSMKB yang tak mau dipublikasikan
identitasnya.
Keluhan senada diungkapkan karyawati RSMI,
Suharti. Ia menuturkan, manajemen RSMI mengatur secara ketat penggunaan
jilbab. Mereka diharuskan mengunakan jilbab tipis yang harus dimasukkan
ke dalam baju. ''Lengan baju seragam yang digunakan harus pendek, tiga
senti di bawah siku," paparnya. Suharti dan kawannya yang ingin
berjilbab pun kontan protes.
Benarkah alasan manajemen yang
menyebutkan lengan panjang berisiko menularkan penyakit? Guru Besar
Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Elin Yulinah Sukandar,
mengatakan, pakaian Muslimah dengan lengan panjang dan longgar tak
identik dengan infeksi nosokomial.
Ketua Bidang Ilmu Farmakologi
dan Toksikologi itu memaparkan, infeksi nosokomial (inok) adalah
infeksi yang terjadi dalam lingkungan rumah sakit. Infeksi itu dibawa
mikroba yang lazimnya telah resisten terhadap sejumlah obat. Biasanya,
papar Elin, infeksi ini terjadi karena daya tahan tubuh yang rendah.
''Umumnya kan kalau orang sedang sakit tubuhnya memang lemah,'' papar Elin.
Dalam
kondisi tersebut pasien dapat terkena infeksi lain, di luar hasil
diagnosis awal penyakitnya. Elin menegaskan, peningkatan peluang inok
karena seragam lengan panjang perawat, belum tentu terjadi. ''Hal itu
perlu dibuktikan secara ilmiah,'' ujarnya menegaskan.
Elin
mempertanyakan data ilmiah bukti peningkatan angka inok pada rumah
sakit yang membolehkan karyawatinya mengenakan baju lengan panjang.
''Inok tidak akan terjadi jika seragam para karyawati, dalam hal ini
perawat medis, diberi perlakuan sterilitas dan kebersihan yang baik,''
paparnya.
Soal cuci tangan dan air percikan yang menempel di
lengan pakaian panjang, Elin menuturkan, itu hanya soal teknis. ''Ya,
rumah sakit harus melengkapi dong perangkat kebersihannya. Kan bisa sebelum
cuci tangan lengannya dilipat, atau perawat diharuskan
segera mengeringkan tangan setelah membilas tangan,'' ungkapnya.
Idealnya,
para perawat pun mencuci tangan dengan antiseptik, tidak hanya sekadar
air. Elin menegaskan, masalah inok bukan ancaman selama rumah sakit
menjaga kebersihan, sterilitas, dan teknis pelayanan. Terjadinya inok,
menurut Elin, tergantung dari keterampilan para perawat. ''Itu semua
bisa diatur kok. Jika pihak rumah sakit meningkatkan kualitas teknis
layanannya, inok bisa dicegah,'' pungkas Elin. c87/c88
[Non-text portions of this message have been removed]