dulu, kite membantu & menolong mereka, skrng mereka mnjadikan anak2 kite jd 
santapan anjing2 mereka. Bgitu biadab zionis israel, dan yg membelanya tdk jauh 
berbeda dg tuan yg dibelanye, mereka sang pembela zionis adalah anjing2 zionis!

Renungan Gaza  

Oleh Zaim Uchrowi

'Korban
tewas 1.000 orang.'  Itu yang menjadi berita utama koran kemarin. 
Besok, lusa, minggu depan, bulan depan korban itu bisa menjadi 2.000,
10.000, dan seterusnya. Apa jaminannya itu tidak terjadi ketika Israel
masih menguasai dunia dengan menguasai Amerika;  ketika negara-negara
Arab masih menjadi "milik pribadi" para penguasanya masing-masing dan
belum menjadi negara-negara merdeka milik rakyat; ketika umat yang
sehati dengan Palestina masih menjadi umat yang secara sosial, ekonomi,
dan politik sangat lemah di kancah dunia; juga ketika PBB masih sebatas
jadi pentas drama dunia yang memanggungkan lakon 'Perdamaian' yang tak 
berhubungan dengan terciptanya perdamaian secara nyata.

Angka
1.000 itu seperti sekadar sebuah statistik yang tak memberi guncangan
apa pun pada nurani kita.  Tapi, tidakkah kita sempat menyimak berita
sebelahnya. Kisah tentang Shahd, bocah perempuan menggemaskan berusia 4
tahun yang menjadi santapan peluru tentara Israel saat ia bermain di
pekarangan belakang rumahnya. Orang tuanya hanya bisa termangu
menyaksikan tragedi itu, dan segera disambut dengan salakan senapan
saat mencoba mengambil jasad malang itu. Tubuh kecil bersimbah darah
itu lalu disantap anjing-anjing pelacak yang dibawa tentara Israel saat
memasuki Gaza. Suatu keadaan yang mengundang pertanyaan: Sengajakah
sang bocah ditembak hanya buat memberi makan anjing-anjing itu?

Shahd
tentu tak sempat menangis. Juga tak akan merasakan sakit. Tapi,
kebiadaban tentara terhadapnya akan selalu membuat kemanusiaan setiap
orang bernurani menangis dan merasakan sakit yang menusuk-nusuk. Holocaust 
atau pembasmian Yahudi oleh rezim Hitler menjadi peristiwa menyakitkan
yang akan selalu dikenang dunia. Tidakkah tragedi di Gaza itu sama
menyakitkannya dengan holocaust itu? "Berabad-abad kita
menjadi korban kekejaman. Mengapa kita melakukan (kekejaman) serupa?" 
teriak seorang Yahudi yang menggunakan nurani. "Yahudi terus-menerus
dijahati Eropa, mengapa kita membalasnya pada yang lain?"

Dokumen
lama itu seolah tidak lagi ada dalam benak para penguasa Israel.  Sejak
lebih dari 2.000 tahun silam, Eropa telah menghancurkan Yahudi.
Penjajahan oleh Romawi Timur (Yunani) dari masa sebelum Isa lahir telah
membuat kaum Yahudi berserak ke berbagai penjuru sebagai pengungsi
paria. Masuknya Islam ke Yerusalem di masa Umar bin Khattab beberapa
tahun setelah wafat Rasulullah SAW,  telah memberikan kebebasan kembali
pada Yahudi yang tersisa di sana.  Tapi, tidak demikian nasib Yahudi di
Eropa. Mereka terus dinistakan dari masa-ke masa. Masa keemasan Yahudi
di Eropa terjadi saat Islam membangun peradaban Andalusia, dan mereka
diberi kesempatan buat mengisi pos-pos penting negara. Masa itu
berakhir ketika Ferdinand-Isabel melakukan "Pembersihan" Spanyol dengan
membantai Muslim dan Yahudi. Kaum Yahudi pun diselamatkan dan
dilindungi Kesultanan Turki Usmani.

Di  Gaza hari-hari ini,
sejarah penting itu disobek-sobek sampai lumat. Yang dipertontonkan di
Abad ke-21 ini justru naluri kebinatangan manusia paling primitif: Yang
kuat berhak melakukan apa pun pada yang lemah. Sebuah kenyataan yang
mengajarkan bahwa "baik saja tidak cukup, melainkan juga harus kuat". 
Maka, selain berdoa agar Allah menghentikan kekejian itu,  mari
menelusur diri. Mari cari bagaimana membuat diri sendiri, keluarga,
masyarakat, serta bangsa-umat menjadi kuat hingga tak dapat menjadi
bulan-bulanan kaum biadab dunia.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke