beruntunglah orang nonmuslim yg tinggal di negri mayoritas muslim, mereka akan
hidup tenang terjamin. Bahkan sebagian dari mereka yg kurang ajar, brani
menghina nabi kami, dan membantai saudara2 kami.
lihatlah thailand selatan, sungguh kalian beruntung tinggal di negri yg
mayoritas muslim.
Tolong, Lihatlah Thailand Selatan
Oleh Asro Kamal Rokan
Ini
laporan terbaru dari Thailand selatan. Amnesti Internasional dalam
laporannya, Selasa (13/1), membeberkan kasus-kasus penganiayaan secara
sistematis dilakukan pasukan Thailand terhadap warga sipil di wilayah
mayoritas Melayu Muslim itu.
Menurut Donna Guest, wakil
direktur Amnesti Internasional untuk Asia-Pasifik, mereka menemukan 34
kasus penganiayaan. Kasus itu, antara lain warga dikubur dalam tanah
hingga batas leher, disiksa dengan arus listrik, mata dan bagian tubuh
warga sipil itu ditusuk. Beberapa orang tewas dalam penyiksaan brutal
tersebut.
Tidak hanya penyiksaan, pasukan Thailand juga
mendirikan pusat-pusat tahanan. Di sini, para tahanan tidak diizinkan
bertemu dengan penasihat hukum dan keluarga. Amnesti Internasional
(AI), seperti dilaporkan Kantor Berita AFP Prancis yang dikutip Antara,
mendesak pemerintah Thailand segera menutup semua pusat tahanan
tersebut dan memberi izin penasihat hukum dan anggota keluarga
bertemu.
Sejak 2004, lebih dari 3.500 warga sipil di wilayah
Kesultanan Melayu tersebut tewas. Pemerintah Thailand terus melakukan
tindakan kekerasan untuk meredam warga Melayu yang meminta hak atas
tanah, budaya, dan agamanya itu. Pada 2005, Thailand memberlakukan
dekrit darurat, yang memberikan banyak legalitas dan imunitas tentara
melakukan pembasmian.
Pembantaian terhadap kaum Muslim di Thailand
selatan sudah berjalan sejak lama, namun sedikit sekali perhatian
komunitas internasional.
Pada 2004, terjadi pembunuhan
terhadap kaum Muslim yang melaksanakan ibadah Ramadhan. Pernyataan
resmi pemerintah menyebutkan, 84 orang tewas di Tak Bai, Provinsi
Narathiwat itu, namun pemantau independen menyebut lebih dari 175 orang
tewas mengenaskan. Korban yang sedang berpuasa meregang nyawa karena
ditumpuk dalam truk. Tangan mereka diikat.
Thaksin Shinawatra,
perdana menteri ketika itu, menyatakan korban tewas karena lemas
berpuasa. Dia juga bersumpah akan memberantas kelompok Muslim di
Thailand selatan itu dan berjanji tidak akan membiarkan mereka tinggal
di Thailand.
Di Provinsi Yala, Pattani, dan Narathiwat
penduduknya mayoritas Islam. Mereka nelayan dan petani miskin.
Sehari-hari mereka berbahasa Melayu, seperti di Malaysia dan Indonesia.
Namun, bahasa ini secara perlahan dihapuskan karena warga diwajibkan
menggunakan bahasa Thai. Di sekolah-sekolah--yang mayoritas pelajar
Islam--tidak ada pelajaran agama.
Pemerintah Thai menolak
mengakui bahasa, budaya, dan agama penduduk yang berjumlah lebih dari 5
juta itu. Hukum Thailand menggolongkan mereka sebagai orang asing.
Sebelum
dikuasai Thailand (dahulu Siam), wilayah selatan ini adalah
kerajaan-kerajaan Melayu. Pada 1785, Kerajaan Islam Pattani Darussalam,
yang pernah menjadi kerajaan Islam termasyhur di Asia Tenggara,
diserang Thailand. Sultan Muhammad tewas dalam pertempuran
mempertahankan hak dan kedaulatan wilayahnya. Pada 1902, Siam yang
didukung Inggris, menghapuskan secara resmi sistem pemerintahan
kesultanan tanpa persetujuan rakyat Melayu. Sejak itu, hak-hak mereka
dihilangkan. Tokoh-tokoh Melayu dibunuh dan dipenjarakan. Masjid-masjid
dibakar. Pada 1987, Masjid Kerisek yang bersejarah, dibakar tentara
Thailand.
Indonesia dan Malaysia telah berupaya ikut mencari
penyelesaian, namun pemerintah Thailand terkesan tidak serius
menyelesaikan konflik berdarah ini. Tahun lalu, Wapres Jusuf Kalla
mempertemukan wakil Pemerintah Thailand dengan wakil masyarakat Melayu
Pattani di Istana Bogor. Sehari kemudian, Departemen Luar Negeri
Thailand menyatakan tidak mengakui pertemuan tersebut dan menolak
keterlibatan pemerintah Thailand.
Tragedi warga Melayu di Thailand selatan itu, ada di depan hidung kita. Mereka
berdarah.
[Non-text portions of this message have been removed]