Ahmad Syafii Maarif
Brutalisme Zionisme dan Dunia Arab yang Lumpuh
31 Desember, hari yang paling ujung di tahun 2008. Dalam perjalanan pagi ke RS
Dr Sardjito untuk keperluan kontrol dan general check-up atas kebaikan dan
saran direktur keuangannya, Ichsan Abbas; dalam
menyupir, saya berdoa sambil menangis, ''Ya Allah, turunkanlah
keadilan-Mu untuk menolong rakyat Palestina yang sudah sangat-sangat
dizalimi.''
Brutalitas zionisme sudah berlaku puluhan kali,
puluhan tahun. Dunia tidak berdaya, kemanusiaan seolah tak peduli.
Seperti tak ada lagi kekuatan duniawi yang bisa menghalangi kejahatan
genosida itu. Cita-cita kemerdekaan Palestina telah ditempuh melalui
jalan panjang, sarat dengan penderitaan dan pengorbanan yang nyaris
tanpa batas. Tetapi, apakah rakyat Palestina pada akhirnya harus musnah
dari muka bumi di tangan zionisme?
Saya tidak pernah percaya
kemusnahan itu akan terjadi karena Allah tidak tidur. Pada saatnya, Dia
pasti bertindak, sekalipun dunia Arab seakan telah mati rasa, hampir
tidak punya solidaritas yang bermakna historis lagi. Brutalitas Israel,
sebuah negara kecil yang dimanja Amerika, pada suatu hari, rasanya
tidak terlalu lama lagi, akan dihentikan oleh kekuatan kemanusiaan
sejagat dan akan dipaksa untuk menerima kemerdekaan Palestina.
Penindasan tidak pernah berlangsung abadi dalam sejarah manusia. Pasti
akan muncul kekuatan tak terduga untuk menghentikannya.
Dunia
Arab memang dalam keadaan tak berdaya, sekalipun masih sering terlihat
sibuk dengan berbagai pertemuan puncak, aksi yang efektif untuk membela
kemerdekaan Palestina tidak dilakukan. Iran pun lebih banyak mengumbar
retorika ancaman terhadap Israel untuk mengukuhkan pengaruhnya di
kawasan Teluk. Tindakan nyata tidak juga dilakukannya.
Dalam
pada itu, PBB yang punya mandat untuk menghentikan perang dan kekerasan
demi perdamaian dunia sudah lama jadi macan ompong. Saya yang mengikuti
agak intensif masalah Palestina ini hanyalah mampu berdoa dari
kejauhan, semoga Allah berkenan mendengarnya. Janganlah kiranya
kelumpuhan dunia Arab sampai menyebabkan Allah menurunkan siksanya atas
semua yang belum sadar ini. Sekalipun keadilan tertindas suatu waktu,
dunia akan menjadi gelap gulita tanpa sinar keadilan.
Kepercayaan
saya terhadap dunia Arab memang semakin tipis. Terutama yang kaya,
tetapi tidak serius membela Palestina, terlepas dari fakta bahwa rakyat
Palestina pun terbelah dua. Kompleks memang masalahnya, tetapi
kezaliman Israel atas mereka tidak boleh berlangsung lebih lama lagi.
Palestina harus merdeka dalam tempo dekat.
Intuisi saya
mengatakan, kemerdekaan itu tidak mungkin dibendung oleh kekuatan
nuklir sekalipun. Tanpa keadilan dan kemerdekaan Palestina, negara
zionis yang kejam itu pasti tidak akan pernah aman. Amerika sebagai
cukong Israel pada akhirnya tidak punya pilihan lain, kecuali secara
konkret mendukung terwujudnya sebuah Palestina merdeka.
Janganlah
mengira bombardir pasukan Israel di Jalur Gaza akan membunuh cita-cita
kemerdekaan mereka. Hasrat kemerdekaan manusia tidak bisa dikubur untuk
selama-lamanya. Ini seakan telah menjadi ''hukum besi'' dalam sejarah.
Jika dunia Arab lumpuh, bangsa-bangsa Muslim yang lain idem ditto,
tidak banyak yang telah dilakukan. Mereka sarat dengan masalah domestik
yang tidak habis-habisnya. Energi mereka juga terkuras oleh
pertentangan faksi radikal dengan faksi moderat. Ada demo dan protes di
sana-sini, tetapi tak satu pun yang efektif untuk menghajar kebiadaban
zionisme.
Hamas muncul karena Al-Fatah dinilai semakin tidak
berwibawa. Terlepas dari apa pun corak ideologi politik yang
ditawarkannya, Hamas adalah manifestasi dari cita-cita kemerdekaan
manusia yang tertindas sekian lama. Kemenangannya dalam pemilu di
kawasan Gaza tidak lain karena rakyat Palestina tidak mau ditipu lebih
lama. Janji-janji Amerika dan Pemerintah Israel untuk kemerdekaan
Palestina adalah dusta belaka.
Kesaksian Uri Avnery, seorang
pejuang Yahudi pembela kemerdekaan Palestina, patut dicatat. Ia tidak
punya kepercayaan lagi bahwa pemerintah zionis yang didukung Amerika
akan rela melihat kemerdekaan itu pada suatu hari. Tetapi, Avnery punya
keyakinan lain: Palestina pasti merdeka. Itulah yang mendorongnya untuk
terus bersuara lantang. Dituduh sebagai pengkhianat oleh pemerintahnya,
tidak dihiraukannya.
Dalam usia 85 tahun, Avnery belum menampakkan kelelahan dalam membela hak
kemerdekaan Palestina. Dia adalah penulis tetap dalam The Palestinian Chronicle,
salah satu media yang digunakannya untuk terus bersuara bersama para
pejuang pena Palestina. Kita sungguh berharap, Avnery akan sempat juga
menyaksikan detik kemerdekaan bangsa yang dibelanya itu.
Dalam
perkembangan terakhir, Avnery tidak lagi sendirian. Rakyat Israel yang
anti-zionisme semakin banyak bermunculan. Mereka sudah tidak tahan
menyaksikan politik pemerintahnya yang anti-kemanusiaan,
pro-kebiadaban. Di mata mereka, meneruskan politik kepala batu zionis
akan berakibat fatal bagi masa depan Israel. Zionisme adalah
imperialisme yang pasti segera masuk ke dalam museum sejarah.
Kita
menyertai keyakinan ini. Harapan tidak boleh padam, kemerdekaan
Palestina pasti akan menjadi kenyataan dalam tempo yang tidak terlalu
lama lagi. Doa kita yang tulus jangan sampai berhenti. Kekuatan doa
bukan sesuatu yang enteng. ''Ya Allah, turunkanlah keadilan-Mu untuk
mempercepat proses kemerdekaan Palestina di tengah-tengah kelumpuhan
dunia Arab untuk berbuat sesuatu yang berarti. Amin.''
[Non-text portions of this message have been removed]