pan ane bilang zionis bang :p



________________________________
From: A. Marconi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, January 23, 2009 2:23:01 PM
Subject: Re: [ppiindia] Kaum yang Paling Serakah


Assalammu'alaikum wr wb,

Problema Palestina dan Israel adalah sebuah legasi yang ditinggalkan oleh para 
"pemenang PD-II", Aliansi Inggris-Amerika- Perancis dan Uni Republik-Republik 
Sovyet Sosialis. Di semenanjung Krim, di kota peristirahatan pantai Yalta, pada 
beberapa hari sebelum penyerahan kekalahan Jerman Nazi-Hitler, peta dunia lama 
dirubah batas-batas geografi negara-negara yang ketika itu ada dan ditetapkan 
juga batas-batas daerah pengaruh dan daerah perlindungan bagi para pemenang 
(the winners take it all). Lihatlah potret tiga orang politikus Inggris: 
Perdana Menteri Winston Churchill, politikus AS: Presiden Amerika Serikat De 
Lano Rosevelt dan politikus URSS: Ketua Sovyet Tertinggi Josef Wisyarionowic 
Jugasvili dikenal sebagai Josef Stalin. Mereka inilah yang memutuskan 
pembentukan Israel dan berdirinya negara Bangsa Yahudi di Palestina. Begitu 
Republik Israel diprokalamsikan di tahun 1948 terjadilah permasalahan politik 
Timur-Tengah ini hingga saat ini. Cobalah
 tengok sejarah munculnya ide-ide "zionisme" yang jauh sebelum PD-II sudah ada 
di dalam masyarakat Bangsa Yahudi di berbagai negara di dunia. Ide zionisme ini 
adalah ide dari sekelompok kaum intelektual Yahudi di Uni-Sovyet dan Eropa 
Barat serta Amerika Serikat. Sedangkan di negara-negara modern tersebut banyak 
tokoh-tokoh intelektual yang berasal keturunan (bernasab) Yahusi telah 
menduduki jabatan-jabatan kenegaraan dan keilmuan serta teknologi. Hususnya 
para ahli ekonomi dan administrasi negara berada di tangan keturunan Bangsa 
Yahudi. Solidaritas keturunan darah dan ideologi asal keturunan Bangsa Yahudi 
ini sangat terpelihara dengan intact hingga sekarang. Dan jangan kaget jika 
dari keturunan Bangsa Arab di Indonesia banyak yang punya nasab Yahudi demikian 
pula yang mengaku Indo. Bahkan di China (RRT) ada suatu kelompok penduduk di 
Barat Daya China yang mengaku bernasab Yahudi. Begitu juga banyak di kalangan 
keluarga Muslim pada zaman rasullullah
 Muhammad hidup yang bernasab Yahudi yang tentu saja masih dilanjutkan secara 
turun temurun hingga detik ini. 

Oleh sebab itu secara pukul rata menajiskan, memusuhi dan mendiskriminasi 
Bangsa Yahudi adalah sikap ideologis tidak Islami. Firman-firman Allah swt 
tentang Bangsa Yahudi yang dijadikan dalil teologis pada umumnya adalah firman 
yang sangat konkrit secara langsung menjelaskan sitkon sejarah di zaman 
rasulullah Muhammad saw (ayat Muhkamat). Di sini perlu dicermati konteks 
firman-firman ilahiyah tersebut. Tidak gampang-gampangan dicomot dan digunakan 
mengadili sitkon modern dewasa ini. Dalam polemik-polemik politis perlu 
diperhatikan sikap politik Wahyu Qurani terhadap Bangsa Yahudi di zaman 
rasulullah Muhammad saw dan juga sunnah rasulullah Muhammad saw dalam 
membeda-bedakan perlakuan kekuasaan Islam terhadap Bangsa Yahudi ketika itu. 
Hal ini sangat penting bila kita menyatakan diri sebagai seorang Muslim yang 
bertaqwa hanya kepada Allah swt. Dalam hal ini tampak sekali keunggulan Wahyu 
Islam atas semua pemikiran manusia yang meletakkan tanggungjawab
 ucapan dan perbuatan selama masa hidup manusia pada individu-individu dan 
tidak pada keluarga, kelompok dan golongan serta bangsa atau nasab turunan. 
Demikian pula di hadapan pengadilan Allah swt kita tidak diadili pertama-tama 
atas ke-Islaman kita atau tidak, tetapi atas apa yang sudah kita ucapkan dan 
pebuat selama hidup ini. 

Jadi dalam menganalisis dan menyustifikasi politik negara Israel dan pemerintah 
Israel serta menganalisis dan menyustifikasi politik kelompok-kelompok 
Palestina-Arab sangat perlu digunakan pertimbangan- pertimbangan 
politik-ekonomi global di zaman imperialisme modern sesudah PD-II. Di sini 
agama telah dijadikan batu terahir di kalangan politisi Arab Timur-Tengah untuk 
mencoba mengatasi keterpecah-belahan politik di dunia Arab. Perhatikan sejarah 
perlawanan Bangsa Arab modern selama penjajahan Eropa Barat di Timur-Tengah. 

Pengalaman Bangsa Indonesia dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan 
Bangsa Belanda hingga kini merupakan cermin besar yang paling dekat untuk dapat 
bersikap atas kejadian politis di secuwil tanah Gaza.

Wassalam,

A.M

----- Original Message ----- 
From: si pitung 
To: ppiin...@yahoogroup s.com 
Sent: Friday, January 23, 2009 2:58 AM
Subject: [ppiindia] Kaum yang Paling Serakah

Kaum yang Paling Serakah 

Setiap
kali melihat tank-tank Israel menggempur kota Gaza dan isinya, entah
mengapa di telinga saya bergaung kalimat-kalimat perintah ini: 'Kami
mengarahkan perhatian anda khusus kepada pulau-pulau di mana bertumbuh
cengkeh dan pala dan kami memerintahkan anda untuk memenangkan
(menundukkan - pen) pulau-pulau itu untuk Kompeni yaitu VOC baik dengan
cara perundingan maupun dengan kekerasan.'

Perintah itu
dikeluarkan pada tahun 1608 oleh para direktur VOC yang terkenal dengan
sebutan Tuan-tuan Tujuh Belas atau Heeren XVII. Yang mendapat perintah
adalah Laksamana Pieterszoon Verhoeven, sedangkan yang dimaksud dengan
pulau-pulau adalah kepulauan Maluku.

Apa hubungan perintah dari
VOC yang sudah berusia tepat empat abad itu dengan keganasan Israel
saat ini? Pertama adalah kata 'kekerasan'. Tak mungkin diragukan lagi
bahwa sejak awal orang Barat datang ke mana-mana, ke Benua Amerika,
Asia, Afrika adalah untuk menguasai dengan segala cara termasuk
kekerasan dan perang.

Laksamana Pietterszoon terhadap orang
Indonesia, Jenderal Cluster terhadap orang Indian, Kapten Cook terhadap
bangsa Aborigin, dan masih banyak lagi, adalah pelaku-pelaku kekerasan
yang mewakili 'peradaban' Barat dan melakukan kekerasan di mana-mana
pada awal masa kolonial. 

Kekerasan yang dilakukan oleh orang
Barat itu terbukti telah menyengsarakan dua pertiga pnduduk bumi hingga
saat ini. Karena, motivasi semua kekerasan yang mereka lakukan dulu
masih utuh hingga sekarang yakni serakah dan keserakahan.

Pada
abad-abad yang lalu keserakahan Barat muncul dengan kasar berupa
kolonialisme dan kapitalisme klasik. Keduanya tampil ke permukaan dalam
ujud perbudakan, monopoli dan tanam paksa yang semuanya ditamengi
dengan meriam, pedang dan senapan. Ironisnya kekerasan yang membungkus
keserakahan itu mereka carikan legitimasinya pada agama. Maka
simbol-simbol agama tampak jelas pada layar kapal, gagang kelewang,
juga tanda-tanda kepangkatan mereka. Dan sambil membantai suku-suku
Indian misalnya, anak buah Jenderal Cluster menyanyikan lagu-lagu
prajurit ketuhanan.

Hari ini keserakahan Barat bukan berkurang
melainkan bertambah-tambah. Namun keserakahan itu telah dikemas dengan
sangat halus dan rapi. Kolonialisme alias penjajahan klasik telah
bermetamorfosis menjadi sistem ekonomi dan keuangan dengan nama-nama
mentereng. Kapitalisme yang tetap digerakkan oleh nafsu serakah telah
diberi badan yang namanya enak didengar; IMF, Bank Dunia, WTO, bahkan
PBB. Kata 'kapittalis' yang telah tercitra buruk kini diganti menjadi
'investor'.

Tidak seperti tahun 1608 ketika Heeren XVII mengirim
Pieterszoon dengan 14 kapal bermeriam untuk menguasai pulau-pulau
rempah, kapitalis modern datang ke Indonesia dengan senyum dan
penawaran bantuan keuangan yang menggiurkan. Peran laksamana sudah
diganti oleh para fund manager yang punya kekuatan menaklukan lebih
hebat. Salah seorang di antaranya bernama Comdessus dari IMF yang dulu
menundukkan Presiden Suharto di depan jutaan orang ketika dia memaksa
presiden RI itu teken surat pengakuan utang.

Meriam juga sudah
diganti dengan kecanggihan sistem informasi dan komunikasi yang nyaris
seratus persen mereka kuasai. Maka penaklukan terhadap bangsa ini
berlangsung tanpa letusan meriam, malah terjadi dalam suasana meriah di
hotel-hotel mewah. Namun di balik itu semua ada malapetaka yang harus
disandang oleh setiap manusia Indonesia. Bahkan bayi yang baru lahir
pun sudah menyandang utang puluhan juta kepada penguasa keuangan dunia.

Dan
tank serta pesawat tempur Israel masih terus menghamburkan kehancuran
dan kematian di Palestina. Ah, saya teringat kembali perintah kepada
Pieterrzoon untuk menaklukan Maluku dengan kekuatan meriam 400 tahun
yang lalu. Saya juga teringat bagaimana Comdessus menaklukan Suharto
dengan kekuatan uang. Mengapa? Karena jenderal-jenderal Israel, Heeren
XVII, dan bossnya Comdessus berasal dari kaum yang sama, kaum yang
paling serakah di dunia.

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke