*** Kok, bang Pitung mempermasalahkan tidak ada suaranya kaum liberal,
kalo mo di lihat dari suasana di sana, pada dasarnya kan oknum negara
yaitu kepolisian yang seharusnya dipertanyakan peran mereka dalam
mengawal demokrasi yang sedang bergelora di sumatera utara tersebut.
Nah FPI bisa dong menuntut kepolisian negara, atas kecorobohan mereka
sehingga berdampak yang sangat fatal dengan kematian seorang ketua
DPRD, ini adalah hal yang memilukan dan menodai demokrasi yang sedang
di bangun di negeri ini. Dan kapolri seharusnya mundur dari jabatannya
atas kasus ini. Cuma masalahnya, mungkin di negara yang baru berumur
jagung ini, konsep negara itu apakah demi kepentingan pribadi atau
kepentingan negara itu sendiri ?

Nah bang Pitung, FPI itu tujuannya untuk kepentingan sendiri atau
untuk kepentingan negara sih ? apa sih yang dibelain oleh mereka ?

salam,


--- In [email protected], si pitung <sipitun...@...> wrote:
>
> orang liberal lg bingung jd diem aje, soale percume komentar, kagak
ada tv & koran yg mau nampung ocehannye, kagak laku siy, abis bukan
FPI yg bikin kekacauan hehe..
> 
> 
> FPI: Kemana Suara Kaum Liberal dalam Kekerasan?
> 
> 
> 
> Hidayatullah.com--Meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara (Sumut)
Abdul AzizAngkat membuat Front Pembela Islam (FPI) ikut berkomentar.
Peristiwa
> kekerasan yang terjadi seusai Sidang Paripurna DPRD Sumut membuat FPI
> bertanya-tanya.
> Wakil
> Ketua Bidang Dakwah FPI, Awit Masyhuri mempertanyakan bagaimana
> keseriusan pemerintah, polisi, wartawan serta aktivis liberal yang
> biasanya sangat lantang melawan kekerasan.
> "Kami mengecam tindakan itu, dan seharusnya pemerintah segera
menangkap pelaku beserta pemimpin aksi," ujar Awit kepada
www.hidayatullah.com saat dimintai pendapat terhadap kasus ini.
> Sikap
> FPI ini didasarkan pada berbagai tindakan dan "tekanan" dan
> diskriminasi berbagai kalangan; termasuk pers, polisi dan pihak asing
> jika yang melakukan aksi-aksi adalah FPI. "Pemerintah dan polisi
> harusnya berlaku adil dalam menegakkan hukum," ujarnya.
> "Coba Anda bayangkan, jika yang melakukan itu FPI, dunia bisa geger.
> Semua TV bisa melakukan ekspos khusus, bahkan presiden dan polisi bisa
> langsung membubarkan ormas-ormas Islam, " ujarnya. "Ingat, ketika itu,
> presiden bertindak cepat dengan mengatakan, Negara tak boleh kalah
> dengan kekerasan, " tambah Awit.
> Menurut Awit,  hanya satu anak liberal patah hidung sedikit,  FPI,
> bisa dianggap anti-Pancasila dan meresahkan NKRI. Tapi ini menewaskan
> Ketua DPRD tak ada pemimpinnya yang ditangkap dan penggerebakan massal
> yang melibatkan ribuan polisi.
> Sebagaimana
> diketahui, Minggu 1 Juni 2008 tahun lalu, bentrokan antara massa Front
> Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan
> Berkeyakinan (AKKBB), membuat ribuan media nasional dan asing bertindak
> cepat. 
> Presiden
> Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengecam aksi kekerasan dan pelaku
> kekerasan serta langsung mengadapat rapat koordinasi mendadak. Ia
> mengatakan, tidak boleh ada kekerasan di negara yang berlandaskan
> hukum. Karena itu, Presiden minta hukum ditegakkan dengan memberi
> sanksi secara tepat. Ada kata-katanya yang sangat menarik, Negara tidak
> boleh kalah dengan aksi kekerasan, ujarnya.
> "Negara
> tidak boleh kalah dengan perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan
> tatanan yang berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia," ujar
> Presiden dalam jumpa pers, Senin, 2 Juni 2008 di Kantor Presiden.
> Kutipan
> itu diulang juru bicara kepresidenan, Andi Malarangeng. "Negara tidak
> boleh kalah terhadap kekerasan dari manapun. Ini negara hukum, bukan
> kekerasan," kutip Andi sebagaimana disampaikan kepada para wartawan di
> depan gedung Bina Graha Sekretariat Negara Jalan Veteran, Selasa
> (3/6/2008).
> Esoknya, hari Rabo, sekitar 2000 aparat polisi dengan senjata
lengkap mengepung markas Front Pembela Islam (FPI)  di
> Jalan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Selain melakukan
> penggeledahan, polisi membawa sedikitnya 39 anggota FPI yang diduga
> melakukan tindak kekerasan di Monas dan menahan Habib Rizieq Shihab. 
> Yang
> juga dipertanyakan Awit, hingga saat ini tak ada suara pakar terutama
> aktivis liberal berteriak-teriak sama mengatakan bahaya kekerasan dalam
> demo di DPRD Sumut. "Kemana suaramu wahai kaum liberal yang selama ini
> sangat berteriak-teriak dan anti kekerasan?" tambahnya.
[cha/www.hidayatullah.com]
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke