*** Menarik sekali membicarakan Tuhan, ternyata semakin tinggi ilmu
pengetahuan seseorang akan berbeda pandangannya terhadap 'Tuhan' dan
itu juga tergantung dari titik awal pandanngannya terhadap Tuhan.
Seandainya, Kant, misalnya memandang Tuhan berawal dari ajaran Islam,
bukan dari ajaran gereja, apakah dia akan mengakui existensi Tuhan ?
Demikian juga dengan Nietzche, apakah dia akan menanggap Tuhan itu
masih hidup ?  Padahal di Indonesia banyak yang mengakui adanya
'Tuhan' tetapi kelakuan mereka tidak sesuai dengan keinginan 'Tuhan'
seperti korupsi. Ini juga kan sama saja kalau mereka telah mengikuti
pemikiran Nietzche, bahwa Tuhan sudah mati.

Bang pitung, saya pikir masih lebih baik orang liberalis extrimis yang
menggunakan 'akal' untuk memahami Tuhan, karena Tuhan menantang
manusia menggunakan akalnya untuk memahami Tuhan, dari pada mengaku
Tuhan itu 'ada' tetapi moralnya masih jaman jahliyah . . .seperti
menghina kaum liberal dengan menyamakan mereka seperti haiwan (doggy),
saya pikir Tuhan akan marah, karena telah menghina ciptaannya yang
sempurna . . .

salam.

--- In [email protected], si pitung <sipitun...@...> wrote:
>
> orang liberalis extrimis berusaha keras sndiri2 maupun kroyokan utk
menDEKONSTRUKSI konsep ketuhanan islam, tp hasilnya..gagal
lagiiii..gagal lagii..akalnya yg terbatas tdk mampu membongkar sesuatu
yg sdh permanen, final & sempurna. Sayangnye..orang macam ntu malah
disebut cendekiawan-lah, pemikir islam..haha ane siy cengar2 aje,
zaman emang eudan, orang bodoh koq digelari cendekiawan
> 
> 
> "Tuhan" Filsafat
> 
> 
> Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi *
>  
> Pada
> suatu hari saya naik bis dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris.
> Disamping saya seorang bule agak kusut. Ia melirik buku teologi yang
> sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hai mike! Ia menyapa dengan aksen
khas Birmingham sambil senyum. Dia bertanya, "Bisakah Tuhan
menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya"? 
> Saya
> tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif
> hasilnya sama Tuhan tidak berkuasa. Ini pasti pertanyaan seorang
> sekuler atau ateis, pikir saya. Ia bertanya dan tidak perlu jawaban. 
> Untuk tidak memberi jawaban panjang saya tanya dia dulu "Could you
tell me what do you mean by God?" Benar saja sebelum menjawab
pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis. 
> Pertanyaan
> apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini, pernah diajukan
> Peter Abelard. Dia sendiri juga bingung menjawab. Pertanyaan sang Bule
> itu mungkin kulakan dari situ. Tapi yang jelas bukan dari
> pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu
> akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan. 
> Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip
guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari thawabit
(permanen) tapi mutaghayyiat (berubah). Layaknya wacana furu' dalam
fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua.. Siapa
> saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog kuwalahan.
> Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal
> dijawab. Teolog lalu digeser oleh doktrin Sola Scriptura.
> Kitab suci bisa difahami tanpa otoritas teolog, sosiolog, psikolog,
> sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara
> tentang Tuhan. 
> Hadith Nabi idha wussida al-amru ila ghayri ahliha fantaÐir
al-sa'ah,  (jika
> suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu
> [kehancuran] nya) terbukti. Katolik pun terpolarisasi menjadi
> Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-sa'ah itu barangkali
lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism. 
> Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism
meneguhkan sabda Nabi. Ateisme murni di awal era modern timbul karena
otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis. 
> Pemikir-pemikir
> yang ia juluki "para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis"
> seperti Lessius, Mersenne, Descartes, Malebranche, Newton dan Clarke,
> itu justru melupakan realitas Yesus Kristus. Tapi Newton tidak mau
> disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya.  
> Descartes
> hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang
> bermasalah? Bisa kedua-duanya. Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit
> bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari
> implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe. 
> Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik
terhadap teks Bible. Tapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical
Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley,
justru melahirkan ateisme modern. 
> Alasannya
> lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan
> isinya, akan kebenaran hakekat Tuhan dan kemudian tentang kebenaran
> eksistensi Tuhan sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme. Bukan hanya
> Biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap.
> Inilah masalah teologi.
> Tapi
> ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan
> agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire bukan Tuhan tapi
> doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton
> problematik karena itu ia ditolak sains. Bahkan bagi Hegel, Tuhan
> Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan,
> akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa
> Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bahkan bagi Feuerbach, Karl
> Marx, Charles Darwin, Sigmund Freud, jika Tuhan belum mati, tugas
> manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak
> setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada, kita
> wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan
> standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.
> Belakangan
> Sartre (1905-1980) seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir,
> Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak
> bersama manusia. "Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam".
> Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber (1878-1965) seorang teolog
> Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis.
> Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang
> mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa.
> Filsafat hanya bermain dengan imej dan metafora sehingga gagal mengenal
> Tuhan, katanya. 
> Itulah
> akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof
> berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan fikiran, tapi tanpa rasa
> keimanan. Martin lalu menggambarkan "nasib" Tuhan di Barat melalui
> bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal
> (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, dibalik
> jaketnya ditemukan tulisan "Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub,
> bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan." Kesimpulan yang sangat cerdar.
> Inilah masalah bagi para filosof itu.
> Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang "maju" tanpa teks
(kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa
Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana
> keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan
> publik. 
> Tuhan,
> kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subyektif. Jikapun bisa bagi
> Kant (1724-1804) juga tidak menjadikan Tuhan "ada". Berfikir dan
> beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant
> mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua
> kali masuk gereja: waktu di baptis dan saat menikah. Maka dari itu
> Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya. 
> Muridnya,
> Herman Cohen pun berpikir sama. "Tuhan hanya sekedar ide", katanya.
> Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tak pernah wujud. Tapi
> anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang "Kalau
> saya mencintai Tuhan", katanya, "maka saya tidak memikirkanNya lagi."
> Hatinya kekanan fikirannya kekiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya,
> dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.
> Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak
awal era modern Francis Bacon (1561-1626) menggambarkan mind-set
manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should
depend only upon reason.
> Maknanya teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa
> melibatkan keimanan pada Tuhan. Filsafat dan sains di Barat memang area
> non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu,
> dunia empiris.  Tuhan menjadi seperti mitologi dalam
> khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang "menempuh
> ketiadaan yang tanpa batas". 
> Tapi
> anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim "mengusir" Tuhan
> dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof
> Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang
wagu. Seperti santri sarungan tapi dikepalanya topi cowboy Alaska yang
kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi
dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.   
> Konsep
> Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah
> sempurna sejak selesainya tanzil.. Bagi seorang pluralis ini jelas
supremacy claim.  Tapi faktanya Kalam dan falsafah tidak pernah lepas
dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi
sekedar menjelaskan.
> Penjelasan Al-Quran dan hadith cukup untuk membangun peradaban. 
> Ketika
> Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan
> teks Al-Quran tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun
> literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan
> pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi.  Malah kekuatan
konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup
(worldview). 
> Islam
> tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah
> sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy
> yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan,
> terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu
> dan masyarakat. 
> Islam
> membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika
> peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu
> berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil  alias sunt bona
mixtra malis.  Wallahu alam.
> Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic
Thought and Civilization (INSISTS)
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke