Lembur akhirnya menjerat kaum buruh

 

Dear all

 

Meneruskan tulisan saya tentang lembur maka saya akan kembali share mengenai 
paradigma lembur yang saat ini mulai terasa menjerat para buruh.

Saat ini kondisi ekonomi semakin berat and ini dirasakan oleh semua perusahaan 
dan juga semua orang, jadi jangan salah kalau krisis ini hanya mendera kaum 
buruh bawah saja, pengusaha pun juga sama karena kalau buruh terkena imbasnya 
krisis dengan pendapatan yang menurun dari hilangnya lembur dan kehilangan 
penghasilan kalau diPHk maka pengusaha juga tidak jauh lebih parah, mereka 
banyak yang kehilangan perusahaan dan modal investasinya dengan meninggalkan 
hutang bertumpuk yang dalam sekejap kadang mengubah mereka dari kaum borjuis 
menjadi kaum pengemis (hehehe bukankah itu yang dilakukan semua perusahaan 
besar sekarang yang pada ngemis kepemrintah untuk minta bailout, istilah boleh 
keren bailout tapi pada prinsipnya sama saja tangan dibawah lebih rendah 
daripad tangan diatas).

Jadi kalau anda yang pekerja dan buruh kemudian menganggap bahwa pengusaha anda 
itu enak walaupun krisis saat ini masih punya perusahaan maka saya sampaikan 
bahwa pemikrian anda salah mereka juga sama bahkan mungkin beberapa lebih parah 
dan seharusnya anda kalau melihat mereka jauh lebih bersyukur, kenapa.?

1.       Mereka tidak biasa hidup susah, anda sudah terbiasa jadi lebih tahan 
dong.

2.       Mereka kerugiannya milyaran, coba bayangkan kalau anda yang sampai 
merugi sebesar itu.

3.       Mereka sampai menurunkan derajatnya jadi pengemis, anda nggak kan.?

4.       Mereka merubah pola hidupnya jadi lebih sederhana sedangkan anda nggak 
perlu merubah bukan karena sudah biasa.

Kenapa saya tulis diatas karena supaya kita semua sebagai buruh didalam 
menghadapi krisis ini tetap terus bersyukur karena masih sangat banyak orang 
yang jauh dibawah kita bahkan tidak sedikit kaum pengusaha dan kaya yang 
tiba-tiba jatuh miskin bahkan lebih miskin dari pekerjanya karena terjebak 
hutang banyak.

 

                Dari tulisan sedikit diatas maka bisa dikatakan kalau kita 
sebagai pekerja dan buruh selama ini hidup sederhana dan mau sedikit menabung 
serta tidak memaksakan penghasilan kita untuk memenuh nafsu gaya hidup kota 
tentunya saat ini dimana kondisi semakin susah tidak menjadikan kita tertekan, 
kita akan tetap bisa menikmati hidup dengan normal dan memang sudah menjadi 
sunnatullah bahwa hidup itu berputar kadang diatas kadang dibawah, begitu juga 
dengan bisnis dan ekonomi kadang booming dan terus menanjak tetapi kadang juga 
melorot dan krisis dimana-mana itu semua kehidupan normal yang akan kita hadapi 
selama kita masih hidup didunia, begitu juga menjadi buruh tidak akan terlepas 
dari naik dan turunnya kondisi perusahaan tempat kita kerja. Logikanya kalau 
perusahaan untung banyak buruh dapat bonus walaupun sedikit J tetapi begitu 
kondisi bisnis anjlok maka buruh akan terkena paling dalam dan itu bagaimanapun 
wajar dengan kondisi sekarang dimana demand buruh lebih sedikit dari yang butuh 
kerja dan regulasi juga mendukung buruh untuk semakin ditekan.

Jadi pada prinsipnya tergantung bagaimana kita mengelola keuangan yang kita 
terima sebaik mungkin.

                

                Kembali kemasalah lembur, saat ini saya banyak mendengar 
rekan-rekan saya yang mulai mengeluhkan sepinya lembur, bahkan tidak sedikit 
yang senewen dan cenderung ngawur cara menumpahkan kekesalannya akibat habisnya 
lembur. Ada teman saya yang cerita saat sebelum krisis dimana kondisi lembur 
tinggi maka dia bisa rutin bawa pulang kerumah jumlah nya enam juta, dia bisa 
gunakan untuk kredit mobil dan menambah koleksi bininya jadi dua (batin saya 
gila juga nich, saya aja yang levelnya jauh lebih tinggi nggak berani kredit 
mobil apalagi menambah koleksi bini J) tetapi itulah hidup ada saja orang yang 
mudah sekali terjebak dalam gaya hidup kota yang tidak akan pernah habis untuk 
dipuaskan, tetapi sekarang dimana kondisi perusahaan mulai sempoyongan dan 
memaksa perusahaan untuk melakukan pengetatan ikat pinggang maka habislah 
lembur dia sehingga tiap bulan tidak kurang bawa pulang uang tidak sampai dua 
juta, maka matilah dia terjerat hutang dimana-mana.

                

                Begitulah kondisi saat ini, dimana hampir semua buruh mempunyai 
paradigma yang salah tentang lembur, mereka masih saja tidak belajar dari 
krisis '98 dalam memandang lembur, saat itu juga sama kondisi perusahaan 
sempoyongan, banyak PHK dan lembur dipangkas habis sehingga sebagian besar kaum 
buruh yang menjadikan penghasilan lemburnya sebagai penghasilan utama yang 
bahkan dijadikan dasar untuk membiayai kehidupan konsumtifnya langsung 
sempoyongan, sehingga tidak sedikit dari para buruh yang lemudian saat itu 
semakin tertekan dan pada akhrinya semakin merugikan dirinya sendiri dan 
lingkungannya tentunya.

Seharusnya jadikanlah lembur sebagai lembur yaitu pandapatan tambahan yang 
digunakan untuk menabung dan investasi sedangkan untuk biaya hidup gunakan 
pendapatan pastinya dari gaji, paksa pengeluarannya untuk mengikuti itu jangan 
terbalik memaksa pendapatan kita untuk memenuhi pengeluaran kita yang mengikuti 
gaya hidup konsumtif kota, kalau anda bilang nggak bisa dan lain sebagainya 
maka saya sampaikan masih banyak orang yang tidak memiliki pendapatan tetap 
atau penghasilan jauh dibawah UMP buruh tetapi tetap memiliki hidup yang 
berkualitas tetapi kenapa kita tidak bisa.? Jadi semuanya kembali tergantung 
kepada diri kita masing-masing bukan.?

 

                Untuk beberapa buruh mungkin nasi sudah menjadi bubur dengan 
hangusnya lembur dan terjerat hutang konsumtif maka saya hanya bisa berikan 
sedikit tips :

1.       Segera lunasi semua hutang untuk biaya hidup konsumtif, misal mobil, 
motor atau yang lainnya. Tidak perlu malu untuk melego barang berharga kita 
untuk menutup semua hutang kita termasuk hutang kartu kredit yang konon saat 
ini dimana begitu mudahnya bank mengeluarkan kartu kredik kepada para buruh 
menjadikan banyak buruh yang terjerat dalam hutang yang berbunga sangat tinggi 
tersebut.

2.       Lupakan lembur dan marah-marah karena tidak dapat lembur karena hal 
ini sangat kontra produktif dan sama sekali tidak memberikan nilai positif 
kepada hidup anda, yang ada buruh akan semakin tidak produktif dan akan 
cenderung merusak dirinya sendiri. Toh ngamuk dan marah-marah juga nggak 
membuat ekonomi jadi lebih baik sehingga jauh lebih baik kalau energi kita 
dipakai untuk yang lebih manfaat saat ini.

3.       Atur biaya pengeluaran kita, dan prioritaskan yang penting - penting 
saja dan mulailah belajar untuk mengatur keuangan kita baik pemasukan dan 
pengeluaran dengan lebih baik dan terencana sehingga kita tidak terkaget-kaget 
dengan berbagai tagihan yang tiba-tiba.

4.       Mulailah ajak diri anda dan keluarga anda semakin hidup hemat dan 
gunakan penghasilan yang ada semaksimal mungkin, jangan pernah menyerah untuk 
berhemat dan menabung karena itu yang menjadikan kita tetap bisa bertahan dalam 
impitan krisis ini.

5.       Jadikan waktu senggang anda dengan tidak ada lembur saat ini dengan 
produktif dan membayar hutang-hutang kegiatan sosial untuk masyarakat dan 
keluarga yang selama ini anda lupakan karena mengejar pendapatan lembur.

6.       Tetap berfikirlah positif, selalu bersyukur dengan yang kita terima 
dan jangan lupa semakin mendekat kepada Tuhan karena bagaimanapun tidak ada 
alasan yang indah dari Tuhan untuk semua kejadian didunia ini termasuk krisis 
dan bencana yang terus menerus menggerus hidup kita.

 

Jadi buat rekan-rekan buruh dan pekerja, masihkan anda bersedih karena 
kehilangan lembur.?

Saya kira tetap semangat bukan.? Bahkan dibalik PHK dan kehilangan 
pendapatanpun tetap selalu ada rencana yang indah dari Tuhan yang maha Indah 
buat kita semua ciptaannya.

 

Regards,

KangNoer120209

 

 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke