Caleg Hantu..hantu Caleg

 

Dear all

 

Entah kenapa saya saat ini lagi suka menggunakan kata hantu, mungkin 
terinspirasi berbagai film hantu yang terus dan nggak pernah habis untuk 
dijadikan komoditas penglaris. Cuman kali ini saya mau menulis tentang caleg 
hantu dan hantu caleg, jangan-jangan nanti dibaca sama ram punjabi dijadikan 
ide cerita untuk filmnya yang berikutnya nich, mumpung masih musim kampanye 
parpol. Lha nanti kalau ada filmnya terus dijadikan tontonan bersama para caleg 
jadinya hantu nonton hantu dong J

 

Caleg hantu adalah caleg yang tiba-tiba muncul, tidak pernah kelihatan track 
record dimasyarakat dan tanpa bekal ilmu politik yang cukup, hanya sekedar 
mengisi euforia politik setelah reformasi atau menggunakan alasan-alasan 
lainnya diluar alasan politik untuk maju menjadi caleg.

Biasanya model kampanyenya meniru saja gaya yang sudah ada, kalau musim pasang 
foto dan baliho maka ikutan pasang, musimnya pakai kata-kata kontrak politik 
maka pakai kata-kata itu juga, jadi pokoknya mengikuti tren saja, padahal apa 
yang namanya kampanye, sosialisasi, kontrak politik dan sebagainya pada kagak 
tahu, apalagi begitu masuk menjadi anggota legislatif maka bisa dipastikan 
mereka-mereka ini hanya sekedar penghias saja dalam daftar penerima gaji 
anggota legislatif yang dibiayai oleh rakyat sedangkan benefit dan hasil 
kerjanya buat rakyat sama sekali nggak kelihatan alias nol potol. Dan saat ini 
dengan semakin banyaknya parpol dan juga semakin sering parpol pecah serta 
tidak dibukanya keran caleg independent menjadikan semakin berjibunnya caleg 
hantu yang mengisi ruang kampanye dengan baliho dan foto disekitar rumah kita, 
apalagi begitu MK memutuskan suara terbanyak maka semakin masif para 
caleg-caleg hantu itu menampakan batang hidungnya melalui berbagai poster 
disekitar kita agar semakin dikenal, lha padahal kalau cuman foto dan nama 
bagaimana orang bisa mengingat dan kenal..aya..aya wae gaya caleg hantu ini.

 

Ciri dari caleg hantu ini adalah sama sekali nggak dikenal masyarakat, foto 
yang dipasang pasti sudah memakai edit yang luar biasa dalam sehingga mukanya 
yang hitam legam bisa seputih salju.ech mayat wong hantu kok, kemudian diisi 
jargon - jargon yang norak dan kadang bikin kita pada ketawa misal "yen pancen 
melas" , "stop import batik", kemudian bisa dipastikan satupun konstituen yang 
dibawah ketika ditanya kenal nggak sama mereka pasti jawabnya nggak kenal, lha 
bagaimana bisa kenal kalau selama berpuluh tahun nggak ketahuan kegiatannya dan 
memang domisilinya juga nggak disitu, tiba-tiba mengaku caleg dan memajang 
ratusan foto sebagai sarana kampanye saja.

 

Itu baru caleg hantu, bagaimana dengan hantu caleg. Nah ini istilah baru juga 
jadi bentuknya manusia tapi kelakuannya kaya' hantu (setan) jadi mereka 
menggunakan segala macam cara agar kepilih yang penting jadi, itu idiom mereka 
untuk urusan pantas nggak pantas, efeknya bagi masyarakat nggak mereka 
perdulikan maklum mereka perduli setan katanya kalau diingatkan.

Caleg yang ini mulai kasak kusuk muncul semakin masif setelah MK memutuskan 
sistem dengan suara terbanyak sehingga apa aja mereka lakukan agar bisa 
dicontreng, dari yang pasang foto dibuku yasin, buat pengajian yang diisi 
kampanye, bagi-bagi duit, apa saja lah yang jelas tetap membodohi masyarakat 
dan sama sekali nggak perduli efek yang akan timbul dtengah imasyarakat.

Padahal dengan kondisi sekarang efek yang ditimbulkan para caleg hantu ini 
semakin dahsyat, masyarakat sudah semakin terkotak-kotak dan saling bermusuhan 
sesuai celeg yang dibela masing-masing, bahkan antar satu partaipun saling 
berseteru. Saat ini dilapangan yang saya tahu masih sebatas saling kampanye 
hitam dan saling ejek para caleg yang menjadi musuh mereka entah mendekati 
pencontrengan apakah bentrokan fisik bisa dihindari atau nggak kalau calegnya 
semua berbentuk hantu yang nggak perduli dengan efek dari kegiatan mereka 
ditingkat bawah. 

Bahkan sebagian pemilih sekarang menggunakan ukuran jumlah uang yang akan 
mereka terima sebagai prasyarat untuk mencontreng, jadi seberapa duit yang 
pemilih terima itu yang akan mereka contreng, kalah menang mereka tidak 
perduli, siapa yang lima tahun menjadi anggota legislatif yang melayani mereka 
sama sekali tidak mereka ambil pusing. Jadi setelah sepuluh tahun reformasi 
mereka dikadali para anggota legislatif yang sebelumnya mereka pilih dan model 
- model caleg saat ini yang menggunakan uang untuk berkampanye dan dipastikan 
setelah terpilih juga sama saja untuk membalikkan modal mereka, menjadikan para 
pemilih semakin apatis dan apolitis, apalagi memang bisa dikatakan tidak ada 
cukup pendidikan politik bagi mereka maka jangan salahkan rakyat pemilih kalau 
semakin apatis dan apolitis serta menuhankan uang saat memilih, karena caleg 
yang ditawarkan mereka hanya diisi caleg hantu dan hantu caleg saja.

 

Regards,

KangNoer


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke