Posted by: "MGR"
[email protected]
indunisi
Sun Feb 15, 2009 6:43 pm (PST)
Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra di TUK
Komunitas Utan Kayu mengundang anda hadir dalam acara "Dialog Manifes
Kebudayaan dan Lekra" yang akan diselenggarakan di Teater Utan Kayu
(TUK), Rabu 18 Februari 2009 pukul 14.00 WIB. Acara ini diadakan untuk
mendiskusikan buku "Menoleh Silam Melirik Esok" karya JJ Kusni (anggota
Lekra) yang diterbitkan oleh Ultimus Bandung Februari 2009. Akan hadir
sebagai pembicara JJ Kusni (Pengarang) dan Taufiq Ismail (Pengulas) dan
Ikranegara sebagai moderator.
Dalam diskusi ini nanti, kami mengundang tokoh-tokoh dari Manifes
Kebudayaan dan Lekra serta organisasi-organisa si yang terlibat polemik
di Indonesia tahun 60-an. Seperti Joesoef Isak, Amarzan Loebis,
Goenawan Mohamad, Putu Oka Sukanta, Amrus Natalsya, dan lain-lain. Kami
juga berharap sastrawan dan aktivis generasi muda hadir dalam acara ini
untuk memberikan komentar dan tanggapan baik atas polemik yang pernah
terjadi antara Manifes Kebudayaan dan Lekra atau dalam dialog ini nanti.
Kami tunggu kehadiran anda di Teater Utan Kayu (TUK), Jalan Utan Kayu No 68H
Jakarta Timur
Salam,
Mohamad Guntur Romli
============ ========= ========= =
Buku ini menarik untuk dibaca bagi mereka yang ingin menilik lebih jauh
perselisihan sastra di Indonesia di tahun 1960-an—yang umumnya
disederhanakan sebagai “polemik antara Lekra dan Manikebu�. Ia
dimulai dengan statemen Taufiq Ismail untuk menyambut “perdamaian
total�, atau “rekonsiliasi� antara kedua “kubu� itu.
Â
Dengan bahasa yang santun dan jelas, Kusni menyusun jawabannya terhadap
statemen Taufiq Ismail. Maka sebuah dialog tampaknya kembali
dibuka—meskipun saya tak tahu pasti apakah dengan demikian kita akan
bisa menyaksikan sebuah “rekonsiliasi�. Sangat mungkin yang terjadi
adalah sebuah daur ulang—meskipun tak berarti hanya sia-sia.
Goenawan Mohamad dalam Pengantar di buku ini.
Sebuah audit dendam akan berkepanjangan dan tak jelas kesudahannya. Dan
dari kuburnya Marx dan Lenin tetap saja mengulurkan rantai kesumat yang
di Indonesia ujungnya masih membelit bangsa. Saya menyarankan
perdamaian total, lebih maju selangkah ketimbang rekonsiliasi.
PERDAMAIAN TOTAL. Rantai dendam yang membelit bangsa itu harus segera
dipotong habis.
Taufiq Ismail "Tentang Rekonsiliasi, Tentang Perdamaian Total"
Dogmatisme, keusangan, kerapuhan, dan kekeroposan terjadi baik pada kalangan
kiri dan maupun golongan kanan
JJ. Kusni
[Non-text portions of this message have been removed]