Intinya apa nih Pak Menteri? Mau bilang tarif akan dinaikkan?
Kalau penghasilan rakyat Indonesia dibandingkan negara" di Asia,
masuk yang termurah atau bagaimana?
Waktu BBM mau dinaikkan juga kampanye-nya begini.. :-p

CMIIW..

-- 
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com

Pada 16 Februari 2009 20:29, Akbar Nusantara <[email protected]>menulis:

>
>
> http://www.antara.co.id/arc/2009/2/16/tarif-seluler-indonesia-termurah-di-asia/
>
> Tarif Seluler Indonesia Termurah di Asia
>
> Jakarta (ANTARA News) - Tarif telekomunikasi telepon seluler Indonesia pada
> 2008 adalah yang paling murah di Asia dengan harga hanya 0,015 dollar AS per
> menit.
>
> "Kalau sebelumnya (2005) Indonesia dalam kategori termahal di Asia setelah
> China, dengan tarif sebesar 0,15 dollar AS per menit, pada 2008 menjadi
> negara bertarif termurah dengan harga 0,015 dollar AS per menit," kata
> Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Mohammad Nuh, di Jakarta,
> Senin.
>
> Ia mengatakan, kebijakan pemerintah berkait dengan program keterjangkauan
> tarif telepon seluler memang telah mendapat apresiasi lembaga perbankan
> internasional, Deutche Bank.
>
> Lembaga tersebut dalam laporan terbarunya, menyatakan, kalau tarif telepon
> seluler di Indonesia merupakan paling murah di Asia setelah melalui studi
> yang mereka lakukan beberapa waktu lalu.
>
> "Kita mempunyai 3 pondasi yaitu ketersediaan terkait coverage,
> keterjangkauan dari sisi tarif, dan yang terpenting adalah kualitas,"
> katanya.
>
> Jika dua hal yaitu ketersediaan dan keterjangkauan terpenuhi tetapi
> kualitas tidak optimal maka kepuasan konsumen belum tercapai. Oleh karena
> itu pada 2009, pihaknya akan menekankan perlunya kualitas ditetapkan.
>
> Ia mengatakan, pemerintah selama kuran waktu 2006-2008 telah menjalankan
> program berkait dengan kebijakan availability (ketersediaan),
> keterjangkauan.
>
> Dan hasilnya dalam dunia seluler kini tampak bila sebelumnya tarifnya
> termahal se-Asia kini menjadi termurah. Bukan hanya itu, dalam dunia telepon
> seluler, bila pada 2005 jumlah pelanggan baru mencapai 46.912.118, maka pada
> 2008 telah melewati angka 124.865.871 pelanggan.
>
> Sesuai logika, bila harga turun, maka keuntungan akan berkurang pula. Namun
> karena terjadi peningkatan jumlah pelanggan yang mencapai lebih dari 200
> persen, maka sepertinya telah terjadi anomali berkait dengan tingkat
> penghasilan para operator.
>
> "Meski tarif turun tapi yang menarik adalah EBITDA di atas 60 persen, itu
> luar biasa," katanya.
>
> Pada 2005 earning before interest, taxes, depreciation and amortization
> (EBITDA) atau laba bersih ditambahkan kembali dengan beban bunga, pajak,
> depresiasi dan amortisasi, para operator seluler mencapai angka 65,5 persen,
> kini turun sedikit menjadi hanya 61,6 persen. Artinya, meski terjadi
> penurunan harga, penurunan EBITDA-nya tidak terlalu signifikan.
>
> Pada 2010, ia mengatakan, Indonesia akan memasuki fase kedua pengembangan
> ICT yaitu "costumize services" di mana para operator telepon dan
> penyelenggara ICT dapat memberikan layanan yang spesifik kepada masyarakat.
>
> "Jadi semakin banyak kebutuhan masyarakat yang sifatnya khas bisa
> dipenuhi," katanya.
> (*)
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke