http://www.antara. co.id/arc/ 2009/2/16/ tarif-seluler- indonesia- termurah- 
di-asia/

Tarif Seluler Indonesia Termurah di Asia

Jakarta (ANTARA News) - Tarif telekomunikasi telepon seluler Indonesia pada 
2008 adalah yang paling murah di Asia dengan harga hanya 0,015 dollar AS per 
menit.

"Kalau sebelumnya (2005) Indonesia dalam kategori termahal di Asia setelah 
China, dengan tarif sebesar 0,15 dollar AS per menit, pada 2008 menjadi negara 
bertarif termurah dengan harga 0,015 dollar AS per menit," kata Menteri 
Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) , Mohammad Nuh, di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, kebijakan pemerintah berkait dengan program keterjangkauan tarif 
telepon seluler memang telah mendapat apresiasi lembaga perbankan 
internasional, Deutche Bank.

Lembaga tersebut dalam laporan terbarunya, menyatakan, kalau tarif telepon 
seluler di Indonesia merupakan paling murah di Asia setelah melalui studi yang 
mereka lakukan beberapa waktu lalu.

"Kita mempunyai 3 pondasi yaitu ketersediaan terkait coverage, keterjangkauan 
dari sisi tarif, dan yang terpenting adalah kualitas," katanya.

Jika dua hal yaitu ketersediaan dan keterjangkauan terpenuhi tetapi kualitas 
tidak optimal maka kepuasan konsumen belum tercapai. Oleh karena itu pada 2009, 
pihaknya akan menekankan perlunya kualitas ditetapkan.

Ia mengatakan, pemerintah selama kuran waktu 2006-2008 telah menjalankan 
program berkait dengan kebijakan availability (ketersediaan) , keterjangkauan.

Dan hasilnya dalam dunia seluler kini tampak bila sebelumnya tarifnya termahal 
se-Asia kini menjadi termurah. Bukan hanya itu, dalam dunia telepon seluler, 
bila pada 2005 jumlah pelanggan baru mencapai 46.912.118, maka pada 2008 telah 
melewati angka 124.865.871 pelanggan.

Sesuai logika, bila harga turun, maka keuntungan akan berkurang pula. Namun 
karena terjadi peningkatan jumlah pelanggan yang mencapai lebih dari 200 
persen, maka sepertinya telah terjadi anomali berkait dengan tingkat 
penghasilan para operator.

"Meski tarif turun tapi yang menarik adalah EBITDA di atas 60 persen, itu luar 
biasa," katanya.

Pada 2005 earning before interest, taxes, depreciation and amortization 
(EBITDA) atau laba bersih ditambahkan kembali dengan beban bunga, pajak, 
depresiasi dan amortisasi, para operator seluler mencapai angka 65,5 persen, 
kini turun sedikit menjadi hanya 61,6 persen. Artinya, meski terjadi penurunan 
harga, penurunan EBITDA-nya tidak terlalu signifikan.

Pada 2010, ia mengatakan, Indonesia akan memasuki fase kedua pengembangan ICT 
yaitu "costumize services" di mana para operator telepon dan penyelenggara ICT 
dapat memberikan layanan yang spesifik kepada masyarakat.

"Jadi semakin banyak kebutuhan masyarakat yang sifatnya khas bisa dipenuhi," 
katanya.
(*)

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke