http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009021905483716

      Kamis, 19 Februari 2009
     
     
Hillary, Kebijakan Mendengarkan! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "DALAM jumpa pers bersama Menlu Hasan Wirajuda di Jakarta, Menlu AS 
Hillary Clinton menyatakan kebijakan AS kini akan lebih mendengarkan!" ujar 
Umar. "Maksudnya tentu, tidak lagi lebih mendikte seperti kebijakan pemimpin AS 
sebelumnya!"

      "Syarat untuk berdialog memang kesiapan untuk mendengarkan sebanding 
dengan berbicara!" timpal Amir. "Kebijakan sedemikian yang ditempuh Obama jelas 
jauh lebih baik dari hanya mendikte! Lebih-lebih dilihat dari kepeloporan AS 
dalam demokrasi!"

      "Dalam hal demokrasi, Hillary menyatakan agar kerja sama AS-Indonesia 
ditingkatkan untuk mencapai kesejahteraan bersama!" tegas Umar. "Demokrasi dan 
kesejahteraan harus kita jaga bersama, tegas Hillary!"

      "Dari pidato Hillary yang disiarkan langsung Metro-TV itu memang terlihat 
perubahan gaya Hillary sekarang dibanding dengan saat konvensi!" timpal Amir. 
"Ia tampak lebih luwes, terutama dalam sikap respektif dengan menempatkan peran 
penting Indonesia baik untuk regional Asia Tenggara, maupun dalam posisi 
Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar! Untuk perannya di kawasan 
Asia Tenggara, Indonesia diharapkan bisa membantu penyelesaian di Myanmar! 
Sedang sebagai negara berpenduduk Islam terbesar, peran Indonesia sangat 
diharapkan dalam usaha menciptakan perdamaian di Timur Tengah!"

      "Memang, sikap empati Hillary sebagai menlu tampak menonjol! Bahkan, 
dengan empatinya itu, banyak ucapannya yang justru serasa seperti yang ingin 
kita sampaikan padanya, pada Obama, pada bangsa Amerika!" tegas Umar. 
"Penampilan Hillary berhasil menempatkan dirinya dalam situasi ideal kita! 
Ekspresi yang cukup aspiratif! Sehingga, kita yang sejak awal terkungkung 
prasangka buruk terhadap sikap penakluk lewat kekerasan--conqueror--yang lazim 
melekat pada umumnya pemimpin AS, malah berbalik kesan membuat penasaran--ingin 
tahu lebih banyak hal baru terkait perubahan AS di balik penampilan Hillary 
itu!"

      "Dari dua simpul pembuka kehadirannya di Indonesia tadi saja kita 
terenyuh, mendesak nurani introspeksi dalam kehidupan kita berdemokrasi, 
terutama para politisi nasional di Senayan, yang kurang siap mendengarkan 
sehingga justru dalam sidang membahas masalah penting, selalu hujan interupsi!" 
sambut Umar. "Juga terkait peran negara kita baik regional maupun 
global--seperti di Timur Tengah, kita malah miris karena selama ini para 
peimimpin negara kita lebih suka bersembunyi dari tuntutan kiprahnya yang lebih 
proporsional sebagaimana diharapkan Hillary!"

      "Belum lagi penekanan Hillary tentang keselarasan demokrasi dan 
kesejahteraan, membuat kita rikuh sendiri!" tegas Umar. "Soalnya, sampai hari 
gini, para politisi kita masih berpraktek demokrasi hanya untuk kesejahteraan 
pribadi dan kelompok semata, belum untuk kesejahteraan bersama rakyat!"

      "Maka itu, kerja sama dengan AS perlu ditingkatkan agar mereka bisa 
mendengar kepentingan kita, sekaligus memacu akselerasi transformasi 
nilai-nilai demokrasi ke negeri kita!" timpal Amir. "Nilai demokrasi dari 
rakyat untuk rakyat, bukan dari rakyat hanya untuk kenikmatan elite semata!"
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke