http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2009/02/20/brk,20090220-161113,id.html

*Paris Menggali Energi Panas Bumi *

*TEMPO Interaktif, Paris*:Sebuah proyek baru berskala besar tengah
berlangsung di kota metropolitan Paris untuk menyediakan pemanas ramah
lingkungan bagi seluruh distrik dengan menyedot dan menyalurkan air panas
dari perut bumi. Air panas geothermal itu bersumber dari kedalaman sekitar
dua kilometer di dalam bumi.

Pengeboran dimulai di utara kota, tepatnya di sebuah gedung terlantar yang
sudah tak dihuni lagi yang diapit jalan raya yang padat dan kanal
Saint-Denis. "Di Paris, kami mencoba untuk mengadopsi strategi yang telah
terlebih dulu dilakukan oleh negara Eropa lainnya, dan Paris tertinggal jauh
di belakang karena kami kurang berinvestasi pada energi yang dapat
diperbarui," kata Denis Baupin, seorang deputi walikota Paris, pekan lalu.

Pada lokasi konstruksi tersebut, sebuah tiang kuning setinggi 36 meter
berdiri di atas sekumpulan mesin yang biasanya digunakan untuk  mengebor
minyak. Kali ini yang pengeboran bukan untuk mencari emas hitam itu,
melainkan air panas. "Makin dalam Anda menggali, makin panas airnya," kata
Michel Galas dari CPCU, perusahaan pemanas kota yang melakukan proyek itu.



Setelah selesai nanti, lubang pengeboran itu akan menembus 1,7 kilometer ke
dalam bumi. Pada kedalaman itu terdapat sebuah lapisan batuan geologi yang
disebut Dogger, tempat air dipanaskan secara alami sampai 57 derajat
Celsius, akan disedot naik ke permukaan. Air ini tak langsung disalurkan ke
konsumen, melainkan digunakan untuk memanaskan cadangan air lainnya.



Air inilah yang akan dipompakan ke sejumlah apartemen untuk memanaskan
radiator dan menghasilkan air panas. "Energinya 100 persen dapat
diperbarui," kata Galas, "Pengeboran akan berlangsung siang dan malam
sekitar 100 hari untuk mencapai kedalaman yang diinginkan."



Skema ini akan memanaskan sekitar 12.000 apartemen dan bangunan lain yang
akan selesai dibangun pada 2011 di daerah hunian baru di distrik ke-19 kota
itu. Proyek itu diperkirakan akan menghisap anggaran 31 juta euro. Sekitar
lima juta euro di antaranya berasal dari badan lingkungan dan dewan
regional.



Penggunaan sumber energi alami ini akan mengurangi emisi gas karbon dioksida
14.000 ton per tahun ke langit Paris yang saat ini sudah dikotori polusi
udara yang cukup parah. Jumlah itu hampir setara dengan emisi CO2 yang
dikeluarkan sebuah mobil standar ketika menempuh perjalanan sejauh 470 ribu
kilometer, atau jauh lebih panjang dibanding jarak bumi ke bulan. Jumlah
energi itu juga memasok 54 persen energi yang diperlukan daerah baru
tersebut.



Galas mengatakan pada tahun 1970-an sampai 1980-an terdapat lebih dari 30
lokasi yang menggunakan energi geothermal di wilayah Paris. "Sampai 25 tahun
tak ada proyek baru karena harga satu barrel minyak terus turun, namun dalam
beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan kesadaran tentang isu
lingkungan, ditambah lagi adanya kenaikan harga minyak," ujarnya.



Dengan diletakkannya isu lingkungan di barisan atas agenda politik Presiden
Prancis Nicolas Sarkozy, ditambah dukungan dari dewan kota, Paris siap
kembali ke geothermal. Pemanfaatan energi geothermal sebenarnya telah
dilakukan sejak masa Romawi untuk  memanaskan bangunan. Mereka menggunakan
energi yang berasal dari perut  bumi seperti terlihat pada gunung berapi,
geyser dan sumbe air panas.



Air panas yang naik ke permukaan juga dapat digunakan untuk menggerakkan
turbin pembangkit listrik, jika panasnya tidak terlampau tinggi. Di
Islandia, sekitar seperempat listrik yang digunakan di negara pulau itu
berasal dari pembangkit listrik tenaga panas bumi. Panas bumi juga
dimanfaatkan untuk menyediakan air panas dan pemanas di sebagaian besar
bangunan di negara tersebut.



Kondisi geologi Prancis tidak memungkinkan pemanfaatan energi geothermal
seperti yang dilakukan Islandia, namun masih banyak potensi yang belum
dimanfaatkan. Saat ini sekitar 170.000 perumahan di Prancis telah memakai
pemanas geothermal, tetapi pemerintah berencana untuk melipatgandakan
jumlahnya sampai enam kali lipat pada 2020. Kawasan Paris, Alsace di sebelah
timur dan Aquitaine di sebelah barat daya adalah wilayah yang secara
geologis cocok untuk proyek semacam itu.



Baupin, deputi walikota Paris yang bertanggung jawab atas pembangunan
berkelanjutan di kota itu mengatakan bahwa proyek kedua tengah dibangun di
utara kota. Tahun lalu, bandar udara Orly di Paris juga mengumumkan rencana
pemanfaatan energi panas bumi untuk memangkas biaya pemanasnya.



Galas tidak bisa menyebutkan perbandingan biaya penggunaan energi panas bumi
dengan gas atau atau minyak bumi, namun ia  memastikan bahwa pemanas
geothermal lebih kompetitf daripada gas.



Baupin mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud menyediakan semua energi yang
dibutuhkan Paris. "Itu terlalu ambisius," katanya. "Namun kami bertujuan
untuk menyiapkan diri agar tidak terlalu rapuh menghadapi krisis energi di
masa depan."


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke