http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/20/17332248/monyet.mengerti.operasi.pengurangan

*Monyet Mengerti Operasi Pengurangan*

Jumat, 20 Februari 2009 | 17:33 WIB

BAGI manusia, kemampuan matematika, seperti penambahan, pengurangan,
perkalian, dan pembagian, bukanlah hal yang terlalu istimewa. Namun, untuk
seekor monyet, hal tersebut tentu sesuatu yang luar biasa.

Bahkan, monyet merupakan makhluk hidup pertama selain manusia yang terbukti
mengerti operasi pengurangan. Pada penelitian sebelumnya tahun 2007, monyet
telah terbukti mengerti operasi penambahan. Pembuktian secara ilmiah telah
dilakukan para peneliti di Universitas Duke, AS.

Pada penelitian tersebut, beberapa monyet macaca dihadapkan kepada layar
sentuh yang menampilkan simulasi operasi pengurangan. Mula-mula
diperlihatkan sejumlah lingkaran di depan layar. Kemudian, sebuah lingkaran
besar akan menutupi seluruh lingkaran kecil yang tampil sebelumnya. Satu
demi satu, lingkaran kecil digeser keluar lingkaran besar sehingga
menyisakan lingkaran besar dengan lingkaran kecil yang telah berkurang.

Beberapa saat kemudian, muncul dua kelompok berisi lingkaran yang jumlahnya
berbeda. Masing-masing monyet diminta memilih kelompok yang sama dengan
percobaan pertama. Monyet yang sukses akan mendapat hadiah minuman segar
Kool-Aid.

"Di sebagian besar percobaan, monyet-monyet tersebut memilih jawaban benar
tanpa menghitung," ujar psikolog Jessica Cantlon, ketua penelitian tersebut.
Dalam matematika, kemampuan menghitung tanpa merinci satu demi satu seperti
ini disebut peka angka.

Ketika percobaan yang sama dihadapkan pada sejumlah mahasiswa, tingkat
kesuksesannya tidak jauh berbeda. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan
ini tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada monyet.

"Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan ini bagian dari sistem primitif untuk
mendasari kepekaan terhadap angka yang diturunkan selama jutaan tahun kala
evolusi," ujar Cantlon.

Menurutnya, peka angka sangat membantu hewan di alam liar untuk bertahan
hidup. Misalnya, kemampuan monyet besar untuk memilih ketersediaan buah yang
paling melimpah sebagai tempat hidupnya.

WAH
Sumber : National Geographic News


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke