http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/20/00254583/hillary.padanan.ideal.bagi.obama


*Hillary Padanan Ideal bagi Obama*
Jumat, 20 Februari 2009 | 00:25 WIB

Neli Triana dan Simon Saragih

Nada ucapannya simpatik layaknya seorang diplomat. Itulah *Menlu AS*, *Hillary
Diane Rodham Clinton*. Bisa jadi itu hanya sekadar trik untuk menambah citra
elegan sebagaimana ditampilkan mantan Menlu AS Condoleezza Rice, yang juga
pernah berkunjung ke *Indonesia*.

"Namun, jujur saya katakan, Hillary itu orang yang menyenangkan dan rileks,"
kata seorang staf Kedutaan Besar AS kepada wartawan yang diberi kesempatan
wawancara di rumah Duta Besar AS Cameron Hume di Jakarta, Kamis (19/2).

Hillary memesona. Hal itu mendukung perannya sebagai menlu baru AS. Tutur
katanya apik dipadu dengan bahasa tubuh yang sepadan. Hillary cocok sebagai
corong AS dalam hubungan internasional. Hillary cocok sebagai perpanjangan
tangan *Presiden AS Barack Hussein Obama* dalam menarik simpati dunia.

Sikapnya yang rileks dan memosisikan diri setara dengan lawan bicaranya
menghilangkan kesan tegang dan kaku yang muncul akibat berseliwerannya
agen-agen Dinas Rahasia AS di lokasi pertemuan.

Sebagai Ibu Negara AS periode 1992-2000, Hillary selalu dijaga oleh
agen-agen Dinas Rahasia AS. Sikapnya yang tenang juga menghilangkan kesan
keterburu-buruan yang diperlihatkan aparat yang mencoba membatasi waktu
bertemu dengan Hillary.

"Tidak, ambil lagi. Blitz-nya belum nyala," kata Hillary. Ia sabar melayani
keinginan beberapa orang yang ingin berfoto bersamanya. Hillary bereaksi
atas sikap aparat Kedubes AS yang ingin segera mengakhiri pertemuan. Ia
melayani hingga setiap orang puas dan punya kesempatan berfoto bersama.

Saat mengunjungi daerah Petojo, lokasi proyek MCK yang dibiayai dari bantuan
AS, Hillary menyapa seorang wanita hamil. Ia bertanya kapan anaknya lahir
dan siapa nama yang akan diberikan. Fitria Yaningsih (25), perempuan yang
hamil sembilan bulan warga RT 03 RW 08, menjawab, "Valeri."

Sambil mengusap perut Fitria, Hillary mendoakan agar anak pertama Fitria
lahir selamat dan sehat, apalagi setelah tahu Fitria aktif memeriksakan
kandungan di posyandu yang dibiayai atas bantuan AS. "Aduh, senang banget.
Saya akan memberi nama anak saya ini Valeri, diilhami dari nama Hillary,"
kata Fitria.

Di tengah satu acara pada hari Kamis, wartawan tak leluasa. Ada seseorang
yang mencoba memanggil Hillary, asal Illinois, yang lahir 26 Oktober 1947.
Ia pun menoleh dan melayani untuk wawancara.

Mengapa ke Indonesia

Dalam berbicara, ia menyapa nama lawan bicaranya, menimbulkan kesan serius
dan kesediaan mendengar. Baru saja beberapa menit berkenalan, ia ingat nama
lawan bicaranya.

Mengapa Hillary berkunjung ke Indonesia? Apa karena Obama meminta demikian?
"Tentu saja, ia pernah empat tahun tinggal di Indonesia. Bahkan,
keberadaannya di Indonesia membentuk pandangannya tentang dunia," kata
Hillary merujuk pada visi Obama yang ingin merangkul dunia.

"Anda tahu, adiknya sendiri (Maya Soetoro) juga keturunan Indonesia. Tentu
ini suatu hal yang penting juga baginya (Obama). Kesan keharmonisan dan
keramahan Indonesia melekat baginya," kata Hillary yang menimpali bahwa ia
sendiri pun memang memilih dan suka mengunjungi Indonesia.

"Saya bukan kali ini saja datang ke Indonesia. Setelah 15 tahun saya
berkunjung, saya masih mempunyai teman-teman Indonesia yang juga bertemu
saya sekarang ini," kata Hillary yang mengunjungi Indonesia pada pertemuan
APEC 1994.

"Orang-orang Indonesia begitu ramah dan menyenangkan," kata Hillary. "Saya
melihat keterbukaan dan kesediaan menerima peranan wanita di sebuah negara
Muslim. Ini adalah satu hal yang bisa saya bawa ke negara saya untuk
membuktikan bahwa Muslim tidak sekaku yang diduga," ujar Hillary yang
menjabat Senator AS mewakili New York periode 2000-2008.

Hidup itu hadiah

Di dalam bukunya, Living History, terbitan 2003, Hillary juga menyinggung
soal itu menyangkut Indonesia. "Anda juga tahu suami saya punya kenangan
indah dan memiliki beberapa teman di Indonesia, termasuk kunjungannya
setelah terjadi bencana tsunami," kata Hillary. Bill Clinton, suaminya yang
juga mantan Presiden AS, berkunjung ke Indonesia tahun 2005 sebagai Utusan
Khusus PBB.

"Saya bahkan bisa mengatakan kepada siapa saja di AS yang ingin melihat
Muslim yang bisa menghargai peranan wanita, saya akan suruh mereka melihat
keadaan di Indonesia," kata Hillary. Ia menegaskan bahwa Indonesia akan
menjadi mitra AS yang penting, termasuk soal itu.

"Banyak warga AS yang tidak mengerti soal Indonesia. Saya berharap akan
banyak orang Amerika yang berkunjung ke Indonesia. Ini penting sebagai
sarana untuk memperdalam rasa saling pengertian," kata Hillary, pesaing
Presiden Obama saat pemilihan pendahuluan Partai Demokrat dalam status
sebagai bakal calon presiden tahun 2008.

Pada kesempatan itu, Hillary juga secara implisit memberikan tips kepada
politisi yang ingin terjun ke dunia politik. Lakukan sesuatu yang menurut
nurani Anda akan bermanfaat. "Inilah yang menjadi pegangan sehingga saya
bersedia terjun ke politik," kata Hillary yang ingin terus membela hak-hak
wanita dan pemberdayaan anak-anak.

"Politik itu berat. Ada banyak energi yang harus Anda curahkan," kata
Hillary, yang ditanyai soal perasaannya ketika ia kalah setelah berusaha
maksimal meraih tujuannya menjadi presiden AS tetapi gagal.

"Saya tidak mau terbenam dengan persoalan itu," kata Hillary, yang
mengatakan, setelah pertarungan selesai, hal yang harus dipikirkan adalah
langkah selanjutnya. Hillary terlilit utang dan ditalangi oleh Presiden
Obama. Ia juga mendapatkan kritik keras dari sejumlah media konservatif AS.

Hidup itu bagaikan sebuah hadiah (life is a gift). "Saya tidak pernah
berpikir menjadi seperti sekarang saat saya seusia Anda. Kita juga tidak
selalu bisa menebak apa yang akan terjadi pada kita," katanya kepada
rekan-rekan wartawan yang berusia 20-an hingga 40-an.

"Karena itu saya merasa beruntung. Anda tidak tahu apa saja yang akan
terjadi, hanya saja tetaplah mencoba melakukan yang terbaik," kata Hillary.
Hal itu membuatnya bisa menerima hadiah apa pun yang ia dapatkan di dalam
hidup.

Ayahnya, Hugh Ellsworth Rodham, imigran Inggris, pernah memprediksi bahwa
Hillary akan mampu bertarung dengan kaum pria. "Obama menawari saya, dan
suami saya mengatakan, itu ide yang sangat bagus," katanya menjelaskan
bagaimana ia terpilih sebagai Menlu AS.

Hillary mengatakan, ia tidak segan-segan bekerja sama dengan pesaingnya
karena ada banyak hal yang perlu dilakukan bersama dan tugas-tugas itu
adalah kepentingan bersama. "Kebetulan kami berteman walau tidak selalu
bersepakat. Teman tidak selalu bersepakat, tetapi dengan Obama kebetulan
kami ada di dalam nada yang sama."

Kesepakatannya dengan Obama, bagaimana memperbaiki citra AS yang memburuk
sebelumnya. Hillary mengakui, itu bukan pekerjaan mudah dan butuh perjuangan
untuk memperbaiki kesalahan.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke