Posted by: "rzain" [email protected] rzain Fri Feb 20, 2009 4:31 am (PST) Di bawah ini saya meneruskan cerita teman yang menghadiri serah terima pembelian kapal Angkatan Laut di Belanda. rZain
====== ========= ========= ========= === Di balik pembelian kapal baru ALRI (Oleh W.Moekti) Kami,saya dan isteri mendapat undangan untuk menghadiri upacara serah terima kapal perang-corvet KRI Frans Kaisiepo di galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding di kota Vlissingen. KRI Frans Kaisiepon adalah kapal perang yang ke-4 dan yang terakhir yang dipesan oleh TNI AL .Menurut cerita orang ,ini adalah buat pertamakalinya TNI AL membeli kapal perang yang baru. Sedangkan sebelumnya hanyalah kapal2 perang tweedehand atau kapal2 perang bekas. Kami ikut berbangga hati Indonesia bisa memeperkuat armada kapal perangnya dengan kapal2 perang modern dengan perlengkapan serta persenjataan yang modern, sehingga bisa lebih mampu menjaga wilayah peairan yang begitu luas.Tetapi dilain pihak ada perasaan yang kurang enak jika kita sedikit mendalami proses pembelian kapal2 tersebut. Galangan kapal di Vlissingen asalnya adalah galangan kapal milik negara dengan na-ma -De Schelde-.Galangan kapal ini khusus hanya untuk membangun kapal2 perang. Karena kesulitan mendapat order,maka sekitar akhir 2006 ,De Shelde dinyatakan bangkrut. Pada tahun2 akhir 70-an,banyak galangan kapal di Belanda yang besar2 pada gulung tikar sebagai akibat dari persaingan pembangunan kapal yang relatif lebih murah di Jepang dan Korea. Galangan pembuatan kapal selam pun bernasib sama karena ti- dak adanya order. Tetapi ada satu perusahaan kapal yang tetap berjaya,sekarang malahan berkembang begitu rupa, sehingga cabang2nya tersebar ke segala penjuru dunia.Perusahaan kapal ini bernama Damen Shipyads yang berpusat di kota Gorinchem di Belanda te- ngah.Saya pernah bekerja selama 7 tahun di perusahaan dibagian engineering. Damen Shipyards memusatlan aktivitetnya pada pembuatan kapal2 kerja seperti sleepboat (kapal pandu),kapal patroli,kapal penangkap ikan,kapal pemadam kebakaran,kapal pembersih pencemaran minyak di laut,kapal pengangkut container (peti kemas),dll.Keistime waan dari Damen Shipyards,yalah semua jenis kapalnya distandardtisasi, dan diadakannya suku cadang yang memadai sehingga memudahkan bagi pelanggan. Adanya persediaan casco2,badan kapal yang relatif murah dipesan di Eropa Timur,memungkinkan memenuhi pesanan kapal dengan waktu yang singkat.Karena adanya standadrtisasi, mumudahkan di bagian enginering untuk bergerak dengan cepat.Oleh karena itu dari segi kwalitet dan harga bisa bersaing,terlebih lagi dengan waktu pesan yang singkat serta adanya suku cadang.Dari perusahaan kelu- arga,Damen Shipyards telah berkembang menjadi perusahaan multi nasional. Setelah perusahaan kapal negara De Schelde dinyatakan bangkrut,Damen mulai melirikkan mata,buat memperluas lagi aktivitetnya. Setelah lama berunding maka didapatlah win-win solution.Jika tidak diambil alih,De Shelde akan menjadi besi tua senua pekerjanya jadi pengangguran, pengetahuan serta dokumentasi tehnik masuk ke keranjang sampah. Maka isi kesepakatan mereka yalah, Damen Shipyards boleh mengambil alih De Shelde,dengan harga simbolis 1 (satu) Euro,dengan syarat bahwa tak boleh seorangpun pekerjanya dipecat.Sejak itu De Schelde menjadi bagian dari Damen Holding dengan nama Damen Schelde Naval Shipbuilding. Sementara itu pemerintah Indonesia mendapat bantuan pinjaman lunak dari pemerintah Belanda buat pengadaan 4 buah kapal perang jenis corvet,dan nampaknya dengan syarat harus dibelanjakan di Belanda.Harga sebuah kapal kalau tidak salah sebesar 370 juta US Dollar. Jadi untuk setiap kapal Indonesia meneima 370 juta US Dollar,mungkin dengan bunga 3-6 persen setahun,jumlah tsb.langsung secara kontant dibayarkan ke Damen Schelde NS.Yng menarik yalah jika kita telusuri uang 370 juta tsb. Di Belanda dalam memperhitungkan harga apa saja ,itu sudah termasuk apa yang dinamakan BTW(Belasting Toegevoegde Warde),atau Pajak Pertambahan Harga,yang berjumlah 20 %.Dari 370 juta,BTW yang masuk kas pemerintah Belanda sekitar lebih dari 60 juta. Dalam mengkalkulasi harga kapal biasanya ditambahkan 5- 6 % laba,dan pajak laba perusahaan sekitar 30%.Dari sini masuk lagi sekitar 2% masuk ke kas pemerintah Belanda. Harga setiap kapal excl.BTW ,serta pajak laba perusahaan,sekitar 300 juta US Dollar.Sekitar separohnya atau 150 juta buat pembelian persenjataan, radar,serta alat2 lainnya,yang itu pasti dibeli diluar Belanda.Begitu masuk Belanda dikenakan pajak import sebesar 30%.Dengan begitu sekitar 50 juta masuk lagi ke kas pemerintah Belanda. Segala keperluan plat2 baja ,besi2 profil,serta segala macam pipa2 baja,bisa dibeli di Belanda, ini kira2 15-20 % dari harga kapal,dan dikenakan 20% BTW.Jdi sekitar 10-12 juta lagi masuk ke kas pemerintah Belanda. Sebuah kapal diselesaikan selama 6 bulan oleh 60-70 orang tehnisi dan pekerja2 lain- nya.Sekitar 40-50% dari gaji bruto mereka masuk ke kas negara.Jadi kalau dihitung- hitung dari apa yang dikatakan bantuan 370 juta US dollar buat setiap kapal dari pe- merintah Belanda, kembali ke kas pemerintah Belanda lagi sekitar tak kurang dari 130 juta US dollar.Sedangkan Indonesia harus tetap membayar buat setiap kapal 370 juta US dollar ditambah dengan bunganya.Hitung saja berapa yang kembali ke kas Belanda untuk 4 buah kapal.Sebenarnya Indonesialah yang telah membantu Belanda ,menyelamatkan industri pembangunan kapal perang dari kebangkrutan. Pesanan 4 buah kapal perang tsb.telah memberi kehidupan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding selama 2 tahun suntuk.Pada saat ini mereka sedang menggarap 4 buak kapal pesanan Marokko,mungkin dengan resep yang sama. Inilah ironinya, bangsa yang miskin menopang bangsa yang kaya.Sejak dulu begitu, memang selamanya begitu jika kita cermati baik2. Jika kita lihat di website nya www.Damen Schelde Naval Shipbuilding , pemerintah Belanda sedang memesan 4 buah kapal perang yang baru.Kita bisa menduga-duga dari mana sebagian besar dana pembeayaanya. Itulah mengapa saya katakan disatu pihak bangga melihat Indonesia bisa memperku- at armadanya dengan kapal2 perang dengan perlengkapan serta persenjataan yang modern,tetapi dilain pihak sedih melihat bagaimana semuanya itu terjadi. Ada satu segi positif dalam pemesanan kapal oleh TNI ALRI kali ini.Kapal2 yang di buat d Damen Shipyards,tergantun g pemberi order,umumnya dikontrol dan disahkan oleh salah satu buro,apakah itu Buro Veritas,Buro Lloyds of Shipping ataukah ABS (American Buro of Shipping).Tetapi pembuatan 4 kapal perang TNI ALRI ini pembu- atannya dikontrol,diperiksa dan disahkan oleh instansi TNI ALRI sendiri.Dengan begitu disamping mengontrol,mereka bisa melihat dari dekat bagaimana efisiensi pembangu- nan kapal di Belanda,bisa dipakai sebagai bahan pelajaran di Indonesia. Menurut kalangan TNI ALRI ,sebenarnya Indonesia dengan PTPAL di Surabaya,mam- pu membangun kapal perang semacam itu,tetapi harganya lebih mahal.Keterangan ini membuat saya tercengang-cengang. Menurut fikiran saya,jika dibuat di Indonesia akan jauh lebih murah,dan memberi kesempatan kerja kepada orang2 Indonesia. Harga motor2 utama,motor2 pembantu,gear box,segala macam pompa dan kompres- sor,serta peralatan radar,komunikasi serta sisitem persejataan, dll.,adalah menurut harga internasional. Tentu tak banyak berbeda dengan kapal2 tsb.dibangun di Belanda. Mungkin hanya beda sedikit buat ongkos transport,karena letak Indonesia lebih jauh. Tetapi soal beaya buat tenaga yang mengerjakan, di Indonesia haruslah jauh lebih murah.Di Belanda dalam mengkalkulasi harga sebuah kapal,buat tenaga tehnisi 100 euro per-jam-orang, dan buat pekerja 60 euro per-jam- orang.Bandingkan dengan di Indonesia,dan itu dikalikan buat 60-70 orang selama 6 bulan untuk menyelesaikan sebuah kapal.Keterangan yang saya peroleh yalah menjadi lebih mahalnya jika di- bangun di Indonesia yalah pertama-tama kurang efisien dalam bekerja,dan yang paling parah yalah banyaknya PT di dalam PT PAL.Hal ini yang memacu ongkos pembangunan kapal.Saya hanya bisa mengomentari sayang seribu sayang.Semo- ga keadaan tersebut suatu kali bisa diatasi demi kemajuan industri perkapalan di Indonesia. Roosendaal,medio februari 2009. Satrio Arismunandar Executive Producer News Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed]

