Insiden alarm jangan sampai mengganggu modernisasi sistem persenjataan.
Modernisasi alutsista TNI jalan terus.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=8681

*PANGKOOPSAU II: SISTEM ALARM SUKHOI AKAN DITELITI*

Jakarta - *Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Pangkoopsau) II
Marsekal Muda Yushan Sayuti* mengatakan, pihaknya akan mencek seluruh sistem
radar peringatan (Radar Warning System) pesawat Sukhoi SU-30MK2.

Ketika dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Jumat, ia mengatakan, pihaknya akan
mengecek segala kemungkinan yang menimpa pesawat Sukhoi saat sedang berlatih
tersebut.

"Apa pun kemungkinannya akan kita cek, mulai dari sistem radar pesawat
sampai kemungkinan ada pihak asing yang me-"lock" (mengunci) pesawat
tersebut," katanya menambahkan.

Yushan mengemukakan, kerusakan atau `trouble` pada sistem radar pesawat
mungkin saja terjadi baik di pesawat tempur buatan barat maupun timur.

Jadi, meski pesawat tersebut sudah diuji coba dan hasilnya negatif, tetap
ada kemungkinan saat latihan sistem tidak berjalan baik sebagaimana
mestinya.

"Ini yang harus dan akan kita cek lebih teliti, tanpa mengabaikan
kemungkinan adanya pihak asing yang "mengunci" pesawat tersebut," tuturnya

Yushan mengemukakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Komandan Pertahanan
Udara Nasional (Kohanudnas) TNI dan pihak TNI Angkatan Laut. Dari hasil
koordinasi tersebut, tidak ditemukan adanya penerbangan gelap (black flight)
atau permintaan ijin terbang lintas di wilayah Indonesia.

Sedangkan dari TNI AL juga dikabarkan tidak ada ijin melintas dari kapal
perang dari pihak lain. "Meski begitu, kita akan lakukan pengecekan pula
dengan melakukan penyisiran dan kita sudah kerahkan pesawat intai Boeing
dari Skadron Udara 5," ungkapnya.

TNI AU baru saja mendapat tiga pesawat Sukhoi SU-30MK2 dari enam yang
dipesan untuk melengkapi empat pesawat Sukhoi SU-27SK dan SU-30MK yang telah
dimiliki sebelumnya.

Tiga unit Sukhoi SU-30MK2 yang tiba di Indonesia akhir 2008 dan awal Januari
2009 itu, telah mengalami ujicoba oleh pilot-pilot Rusia setelah dirakit di
Skadron Teknik 044 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Dalam ujicoba selama satu jam tersebut, seluruh sistem ketiga pesawat
masing-masing TS-3003, TS-3004 dan TS-3005, dinyatakan berjalan baik
termasuk sistem radar peringatan.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama Ida Bagus Putu Dunia,
ketika dihubungi menjelaskan, di masing-masing pesawat yang sedang berlatih
itu terdapat instruktur terbang dari Rusia yang sedang melatih dua penerbang
tempur TNI AU.

"Alarm missile lock" kedua pesawat berbunyi secara tiba-tiba, tetapi kedua
pesawat canggih yang dibeli dari Rusia itu tidak bisa mengenali siapa pihak
yang mengunci mereka dengan tembakan misil.

Kedua instruktur itulah yang menyatakan alarm berbunyi karena pesawat
di-"lock missile". "Saya menerima laporannya sekitar pukul 09.00 WITA," kata
Putu.

Menurutnya, pesawat itu melakukan terbang pada ketinggian 15.000-20.000
kaki, atau sekitar 4.572 meter hingga 6.096 meter di atas permukaan laut.

"Kami belum mengetahui siapa yang mengunci pesawat kami. Kami telah
melakukan pencarian dengan mengirimkan pesawat intai Boeing 737-400 yang
telah terbang berkeliling dalam radius sekitar 370 km dari VOR MKS di
Makassar, tetapi pencarian itu tidak menemukan apa-apa," katanya.

Pesawat Boeing itu, kata Putu, sekarang dalam perjalanan ke Bali, dan
melanjutkan pencarian di sekitar wilayah yang dilintasi.


Sumber : Antara


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke