http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009030205523311

      Senin, 2 Maret 2009 
     

     
     
     
     

Miliaran Rupiah Aset Mubazir di Lampung 

           
            ASET TERBENGKALAI. Kalianda Trade Center (KTC) di tepi jalinsum 
Kelurahan Way Urang, Kalianda, Lampung Selatan, ini hanyalah salah satu dari 
banyaknya aset yang terbengkalai. Gedung senilai Rp13 miliar yang dibangun pada 
2005 dan terdiri atas 224 kios itu hanya diisi satu pedagang. 
            (LAMPUNG POST/AAN KRIDOLAKSONO) 

      BANDAR LAMPUNG (Lampost): Di tengah minimnya dana untuk pembangunan 
fasilitas umum, sejumlah bangunan bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah 
di Provinsi Lampung malah terbengkalai.

      Bangunan-bangunan telantar itu, baik dibangun dengan dana pusat, APBD 
provinsi, maupun kabupaten, hampir terdapat di seluruh kabupaten yang ada di 
provinsi ini. Diduga, bangunan itu tak dimanfaatkan karena dibangun tanpa 
perencanaan matang atau tidak diupayakan untuk dimanfaatkan kembali.

      Bangunan yang tak optimal digunakan sejak dibangun itu, di antaranya 
Kalianda Trade Center (KTC) di tepi jalinsum Kelurahan Wayurang, Kecamatan 
Kalianda, Lampung Selatan.

      Gedung senilai Rp13 miliaran yang dibangun tahun 2005 itu kini sunyi 
senyap. Satu-satunya pedagang yang tersisa di situ hanyalah warung soto. 
Sebagian kios kini digunakan untuk kantor notaris, disewa LSM atau organisasi 
masyarakat lainnya. Padahal, gedung itu terdiri atas 224 kios.

      Lainnya, stadion sepak bola yang dibangun tahun 1993. Setelah 
terbengkalai belasan tahun, stadion itu bakal direhab menyambut Pekan Olah Raga 
Provinsi (Porprov) 2010.

      Masih di Lampung Selatan, ada juga pembangunan terminal dengan dana APBD 
kabupaten senilai miliaran rupiah yang tak bisa digunakan sesuai rencana.

      Terminal yang dibangun 2004--2005 itu tak mendapat izin operasional dari 
Departemen Perhubungan karena menyalahi aturan, yaitu berada di tepi jalinsum. 
Bangunan yang cukup megah itu akhirnya digunakan untuk pengujian kendaraan 
bermotor.

      Di Kabupaten Lampung Tengah ada juga beberapa bangunan yang terbengkalai 
karena pembangunannya tak selesai. Di antaranya, gedung calon perpustakaan di 
lokasi yang direncanakan menjadi Kawasan Pendidikan Terpadu yang dibangun 
dengan dana APBD provinsi di Kampung Sulusuban, Kecamatan Seputih Agung, yang 
telah menelan dana Rp3,5 miliar.

      Kemudian, gedung Dekranasda dan PKK di jalinsum Kampung Gunungsugih yang 
menelan dana Rp3,7 miliar. Kondisi kedua bangunan itu memprihatinkan.

      Irigasi Mubazir

      Di Kabupaten Tulangbawang, proyek irigasi Way Rarem yang dibangun tahun 
1987, melintasi Kampung Karta, Way Sido, dan Kartasari Kecamatan Tulangbawang 
Udik, juga mubazir.

      Pemerintah sudah meminta masyarakat yang saat itu menanam singkong dan 
karet agar mencetak sawah. Namun, ketika masyarakat beramai-ramai mencetak 
sawah, air irigasi tak mengalir. Akhirnya, masyarakat mulai tahun 1991 kembali 
menanami lahannya dengan singkong, sawit, dan karet.

      Di Kabupaten Tulangbawang, juga ada kantor perikanan senilai ratusan juta 
rupiah, semua kacanya pecah dan sekeliling kantor ditumbuhi rumput liar.

      Selain itu, dermaga kapal cepat di Kampung Bugis yang menghabiskan dana 
Rp200-an juta. Belum digunakan, pengadaan kapal cepat bermasalah sehingga 
dermaga itu tak digunakan hingga rusak.

      Bangunan lain yang mubazir adalah tempat pelelangan ikan (TPI) di Kuala 
Teladas dan Mahabang serta kantor pertanian di Kampung Kekatung, Kecamatan 
Dente Teladas.

      Di Lampung Barat, bangunan yang tidak difungsikan, di antaranya Kantor 
Pelayanan Terpadu di Pekon Pagar Dewa, Kecamatan Sukau.

      Bangunan di perbatasan antara Provinsi Sumatera Selatan dengan Lampung 
Barat itu kini ditempati warga.

      Selanjutnya, Dermaga Tembakak di Pantai Pekon Tembakak, Kecamatan Pesisir 
Utara, senilai miliaran rupiah. Dermaga yang dibangun tahun 2001 itu tak 
dimanfaatkan dan kini rusak karena tergerus ombak.

      Selain itu, pembangunan calon Terminal Krui di Kecamatan Pesisir Tengah 
di tanah seluas sekitar satu hektare dan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di 
Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balik Bukit di atas tanah seluas 1 hektare.

      Di Kota Metro, juga ada bangunan terbengkai seperti Terminal Tejoagung di 
Kelurahan Tejoagung, Kecamatan Metro Timur yang dibangun tahun 2002-2003 dengan 
dana ratusan juta rupiah.

      Semula, terminal yang dibangun pada masa pemerintahan Mozes Herman-Lukman 
Hakim itu akan digunakan sebagai tempat bongkar muat kendaraan barang dan 
sayuran.

      Di Bandar Lampung, sekitar 500 toko di enam pasar milik Pemkot Bandar 
Lampung tidak terisi sejak belasan tahun terakhir. Bahkan, ratusan toko di 
Pasar Panjang, Tamin, Tugu, Cimeng, Pasar Tengah Telukbetung, dan Pasar Smep 
Tanjungkarang tidak termanfaatkan sejak dibangun.

      Kini, Pemkot berencana mengucurkan dana lagi untuk merenovasi 162 toko di 
Pasar Panjang.

      Selain pasar, aset Bandar Lampung yang hingga kini belum dikelola optimal 
adalah pasar seni Enggal. Sejak tahun 2001 lalu, 27 pondokan di Pasar Seni 
Enggal tidak berpenghuni.

      n AL/CK1/OGI/WID/HEN/UNA/ITA/R
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke