Secara bahasa, terjemahan yang pas untuk "kemajemukan" saya kira adalah 
"pluralitas," bukan pluralisme.
 
Kemajemukan, yang secara faktual sudah hadir di Indonesia sejak dulu sampai 
sekarang, bukanlah suatu isme. Itu memang kondisi yang nyata ada dan diterima 
oleh rakyat Indonesia. 
 
Kalau dari dulu digunakan istilah kemajemukan, istilah bahasa Indonesia yang 
mudah dipahami, tidak akan ada ribut-ribut dan tidak perlu ada fatwa MUI.

 



Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  

--- On Tue, 3/3/09, Sunny <[email protected]> wrote:

From: Sunny <[email protected]>
Subject: [ppiindia] Pluralisme di Masa Depan Tak Bisa Dihindari
To: [email protected]
Date: Tuesday, March 3, 2009, 4:05 AM






http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0903/ 02/kesra02. html

Dawam Rahardjo: 
Pluralisme di Masa Depan Tak Bisa Dihindari 


Jakarta - Istilah pluralisme di Indonesia tampaknya akan terus menuai silang 
pendapat di banyak kalangan. Istilah yang tepat dan sesuai dengan asas Bhinneka 
Tunggal Ika ialah kemajemukan. Menurut cendekiawan muslim Prof Dr Dawam 
Rahardjo, kemajemukan merupakan kodrat alami yang dimiliki setiap manusia 
sehingga harus dihormati. "Tuhan menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan 
perempuan, bersuku-suku, dan agama. Dengan demikian kemajemukan masyarakat itu 
adalah kodrat yang alami," kata Dawam dalam acara temu nasional Persaudaraan 
Indonesia Raya (Persira) yang mengambil tema "Membangun Kerukunan Dalam 
Membangun Bangsa," di Jakarta, Sabtu (28/2). Turut hadir dalam acara, itu di 
antaranya, tokoh nasional Prabowo Subianto, Christianto Wibisono (Global Nexus 
Institute), Hashim Djojohadikusumo (pengusaha) dan Jenderal (Purn) Ryamizard 
Ryacudu.

Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan ras harus bangga 
dengan kemajemukan itu sendiri karena bisa menjadi kekuatan dan bisa menjadi 
sebuah identitas Indonesia itu sendiri, tegas Dawam. Pada mulanya, berbagai 
unsur masyarakat tersebut hanya ada di daerahnya sendiri, tetapi dengan 
perkembangan zaman terjadilah perpindahan penduduk dari satu kota ke kota yang 
lain yang membuat kemajemukan itu makin sering terjadi. "Sumber dari 
kemajemukan merupakan mobilitas dari penduduknya itu sendiri, yang berpindah 
dari satu kota ke kota lain," jelasnya.

Dawam mengakui, dengan kemajemukan yang dimiliki Indonesia sering kali terjadi 
diintegrasi yang disebabkan benturan dan kepentingan serta aspirasi. Negara 
pada dasarnya menginginkan kecenderungan integrasi, tetapi sering kali pengaruh 
suatu sektor seperti ekonomi, politik, agama menimbulkan kecenderungan konflik 
dan disintergrasi.

"Kemajemukan adalah sebuah kenyataan masa depan yang tidak bisa dihindari atau 
dicegah. Demi kepentingan masyarakat dan negara kemajemukan itu harus dijaga 
agar tidak menimbulkan konflik dan disintegrasi, " pesan Dawam. Untuk 
menghindari disintegrasi dan konfllik, ia mengajukan beberapa rekomendasi, di 
antaranya kestabilan masyarakat sebagai kemajuan, kerukunanan dan persaudaraan 
antarkelompok yang bisa melahirkan kerja sama dalam kebaikan, serta dinamika 
yang dapat dilahirkan oleh interaksi dan saling memahami sehingga ide-ide baru 
yang kreatif dapat lahir. "Pancasila adalah ideologi kebangsaan, salah satu 
acuannya adalah pluralisme/kemajemu kan sebagai azas kebangsaan. Untuk itu 
Demokrasi Pancasila kalau tanpa isi sama saja seperti pepesan kosong," tambah 
Dawam. (heru gunt

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke