http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/06/sh03.html
Gejala Keniscayaan Deindustrialisasi Oleh Mohamad Ridwan JAKARTA - Menyimak data statistik yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal pekan lalu, membuat kita tersadar bahwa kinerja industri nasional saat ini sedang tidak sehat. BPS mencatat selama periode Januari 2009, terjadi penurunan ekspor yang sangat tajam di sektor industri. Jika pada Januari 2008 sektor industri mampu menyumbang sebesar US$ 7,6 miliar, pada Januari 2009 nilai ekspor yang dibukukan sektor industri hanya sekitar US$ 4,9 miliar atau merosot hingga 35,52%. Melemahnya kinerja ekspor industri di awal tahun tersebut bisa menjadi pertanda bahwa industri nasional memang benar-benar sakit. Terlebih lagi selama ini kinerja industri nasional memang sangat bergantung pada kinerja ekspor tersebut. Gejala penyakit lainnya juga terlihat dari kemampuan industri nasional untuk membeli bahan baku produksi yang memang selama ini harus diimpor. Pada periode Januari 2009, industri kita hanya sanggup mengimpor bahan baku senilai US$ 4,53 miliar, padahal pada Januari 2008 angka belanja impor bahan baku yang dihabiskan industri nasional mencapai US$ 7, 35 miliar atau minus 38,33%. Terlalu Dini Melihat data tersebut, memang terlalu dini jika kita memvonis kondisi industri nasional kini sedang sekarat. Tapi setidaknya, data BPS tersebut bisa kita jadikan bahan diagnosis awal untuk segera mencari obat yang mujarab agar kinerja industri nasional bisa pulih dari sakitnya. Sebab, jika tidak segera diobati, bisa jadi kondisi industri nasional akan makin parah dan mengarah pada gejala deindustrialisasi. Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Departemen Perindustrian Dedi Mulyadi mengatakan, sebenarnya pemerintah melalui Departemen Perindustrian telah mengupayakan berbagai cara agar bisa menyelamatkan kinerja industri nasional. Salah satu upaya yang saat ini tengah mereka lakukan adalah dengan meningkatkan kompetensi industri dalam negeri sehingga bisa menghasilkan produk yang memiliki daya saing, baik di pasar domestik maupun di pasar global. Mengomentari tentang turunnya nilai ekspor serta melemahnya daya beli industri nasional dalam membeli bahan baku, Dedi mengatakan bahwa kedua hal tersebut sangat terkait dengan melemahnya daya beli pasar global yang selama ini menjadi andalan ekspor kita. "Oleh karena permintaannya sedikit, industri kita juga tidak banyak membeli bahan baku," ungkapnya. Kalau mau jujur, sejak tiga tahun terakhir kinerja industri nasional memang terus mengalami kemerosotan. Berdasarkan catatan SH, tahun 2006 realisasi pertumbuhan industri masih berada di angka 5,3%, tahun 2007 turun menjadi 5,1%, dan turun tajam di tahun 2008 menjadi 4,8%. Sementara itu, pada tahun ini pemerintah hanya berani menargetkan pertumbuhan industri di kisaran 3,6% hingga 4,6%. "Sebenarnya keterpurukan industri dalam negeri sudah terjadi sejak satu dekade silam, terutama setelah reformasi, dan sampai saat ini tidak ada tanda-tanda membaik. Kalau dulu sektor industri manufaktur (pengolahan-red) selalu menjadi penolong dalam pendapatan domestik bruto, saat ini sektor tersebut justru menjadi penghambat karena sumbangsihnya terlalu kecil," kata pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sri Adiningsih kepada SH, Kamis (5/3) kemarin. Banyak yang Gulung Tikar Bahkan, menurut Sri, penyakit yang dialami oleh industri nasional saat ini tergolong sangat parah dan merupakan gejala-gejala deindustrialisasi. "Kita tinggal tunggu saja, mungkin setelah pemilu April 2009 ini bakal banyak industri yang gulung tikar dan melakukan PHK secara besar-besaran," ungkapnya. Dia menambahkan, untuk bisa melihat kinerja industri nasional agar kembali pulih dan dapat kembali diandalkan, pemerintah harus segera melakukan langkah-langkah perbaikan, terutama di sektor mikro seperti penyediaan energi yang memadai, perbaikan infrastruktur, serta penyederhanaan birokrasi perizinan di sektor industri yang selama ini masih dirasakan cukup rumit. "Pedekatan yang harus diambil pemerintah bukan hanya pada penyelesaian masalah-masalah di tingkat makro saja, tapi juga harus menyentuh ke masalah-masalah mikro lainnya," ujar Sri. Realisasi pertumbuhan industri yang terus merosot dari tahun ke tahun tersebut, seharusnya sudah bisa dijadikan indikasi bahwa gejala sakit yang dialami industri nasional saat ini bukanlah penyakit sesaat, melainkan penyakit kronis menahun dan progresif yang terus menggerogoti kinerjanya. Tentu saja, jika penyakit tersebut terus dibiarkan, gejala deindustrialisasi bukan lagi kemustahilan, melainkan sebuah keniscayaan. n [Non-text portions of this message have been removed]

