http://www.antara.co.id/arc/2009/3/5/bppt-korsel-kerjasama-300-ekstrak-tanaman-liar-tropis/

*BPPT-Korsel Kerjasama 300 Ekstrak Tanaman Liar Tropis*


*Jakarta* (ANTARA News) - *Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) *dan
*Korea Research International Bioscience and Biotechnology
(KRIBB)*melakukan kerjasama riset tanaman liar hutan Indonesia untuk
dicari
kasiatnya sebagai obat-obatan dan pangan kesehatan.

"BPPT sudah mengekstrak 300 jenis tanaman liar dari Taman Nasional Ujung
Kulon dan Gunung Halimun pada 2008," kata Deputi Agroindustri dan
Bioteknologi BPPT Prof Dr Wahono Sumaryono di sela penandatanganan MoU
kerjasama riset lanjutan kedua institusi itu di Serpong, Tangerang, Banten,
Kamis.

Tahun ini, urai Wahono, 300 jenis ekstrak itu selain diriset sendiri oleh
BPPT, juga dibawa ke Korea dan diriset oleh KRIBB dilengkapi Material
Transfer Agreement sesuai peraturan yang ada di Indonesia.

Khasiat yang ditemukan baik oleh BPPT atau oleh KRIBB di masa depan,
ujarnya, menjadi hasil yang akan bermanfaat bagi kedua pihak dan bertujuan
komersil.

"Kalau 20 persen saja dari 300 jenis tanaman baru itu berkasiat sebagai obat
dan bermanfaat bagi kesehatan, misalnya bagus untuk menurunkan darah tinggi
atau gula darah, itu sudah luar biasa," katanya.

Kerjasama riset tersebut bagi Indonesia, ujarnya, cukup menguntungkan,
karena Korea juga ikut mendanai riset tersebut senilai 100 ribu dollar AS
pada 2008 dan sekitar 840 ribu Won pada 2009.

Dana tersebut antara lain untuk mendanai eksplorasi tanaman liar, koleksi,
metode uji kasiat, penyediaan bahan-bahan kimia hingga pelatihan bagi
peneliti BPPT di Korea.

"Kalau hanya menunggu dana APBN sangat terbatas dan lambat. Jadi kalau ada
yang bisa menambah dan bisa mempercepat hasil riset, mengapa tidak
bekerjasama," katanya.

Sedangkan keuntungan bagi negeri ginseng tersebut, tambahnya, KRIBB bisa
memperoleh 300 spesimen dan ekstrak tanaman tropis Indonesia untuk mereka
riset.

Sementara itu Presiden KRIBB Dr Young Hoon Park mengatakan, riset ini masih
sangat dini untuk menghasilkan suatu obat-obatan herbal ataupun pangan
kesehatan yang bersifat komersil.

"Suatu riset bisa memakan waktu delapan hingga lebih dari 10 tahun sampai
bisa menjadi komersil," katanya.

Menurut Kepala BPPT Dr Marzan Aziz Iskandar, Korea Selatan sudah sangat maju
dalam soal bioteknologi dan sudah mampu melampaui Jepang.

"Jika Indonesia ingin banyak belajar soal bioteknologi yang maju, kerjasama
dengan Korsel sangat bagus. Apalagi pada 2030 dunia akan masuk ke era
bioekonomi," katanya.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke