Jawa Pos
 Sabtu, 07 Maret 2009 ] 

Menyambut Peringatan Hari Perempuan Sedunia 8 Maret Besok 
Properempuan, Investasi Sangat Menguntungkan 
Oleh: Hillary Clinton *


Dalam sebuah perjalanan ke Tiongkok sebelas tahun lalu, saya bertemu dengan 
sejumlah aktivis perempuan yang menceritakan kepada saya upaya-upaya yang 
mereka lakukan untuk memajukan kaum perempuan di negara mereka. Mereka 
memberikan sebuah gambaran yang jelas tentang berbagai tantangan yang dihadapi 
kaum perempuan: diskriminasi dalam bekerja, layanan kesehatan yang tak memadai, 
kekerasan dalam rumah tangga, dan adanya sejumlah undang-undang usang yang 
menghambat kemajuan perempuan.

Saya bertemu kembali dengan sebagian di antara mereka beberapa minggu lalu 
dalam perjalanan pertama saya ke Asia sebagai Menlu AS. Kali ini saya 
mendengarkan cerita mereka tentang kemajuan yang dicapai dalam dasawarsa 
terakhir. Meskipun telah ada sejumlah langkah maju yang penting, para perempuan 
Tiongkok itu sangat yakin bahwa masih ada berbagai tantangan dan 
ketidaksetaraan sebagaimana yang juga ditemukan di banyak negara lain.

Saya sudah sering mendengar cerita-cerita serupa dari berbagai belahan dunia 
seiring dengan upaya kaum perempuan dalam mencari peluang untuk berpartisipasi 
secara penuh dalam kehidupan politik, ekonomi, dan budaya di negara mereka. 
Pada 8 Maret, yang merupakan Hari Perempuan Sedunia, kita memiliki peluang 
untuk mengevaluasi kemajuan yang telah kita raih dan juga tantangan yang ada di 
depan, serta memikirkan tentang peran penting yang harus dimainkan kaum 
perempuan dalam membantu menyelesaikan berbagai tantangan global yang sangat 
kompleks pada abad ke-21 itu. 

Hari ini kita lihat lebih banyak perempuan yang menjadi pemimpin dalam 
pemerintahan, bisnis, maupun lembaga swadaya masyarakat dibandingkan dengan 
generasi-generasi sebelumnya. Namun, selain kabar gembira itu, ada kabar 
buruknya. Sebagian besar di antara populasi dunia yang miskin, kelaparan, dan 
tak berpendidikan adalah kaum perempuan. Mereka masih rawan menjadi korban 
pemerkosaan sebagai taktik perang dan eksploitasi oleh para pedagang manusia di 
berbagai wilayah dunia dalam sebuah bisnis kriminal yang menghasilkan jutaan 
dolar.

Pembunuhan demi kehormatan, penyiksaan fisik, sunat perempuan, dan 
praktik-praktik kasar lain yang merendahkan martabat wanita masih dibiarkan di 
banyak negara hingga hari ini. Baru beberapa bulan lalu seorang gadis kecil di 
Afghanistan sedang menuju ke sekolahnya ketika sekelompok pria menyiramkan 
cairan asam ke wajahnya -yang mengakibatkan cacat permanen pada matanya- hanya 
karena mereka tak suka melihat gadis tersebut mengenyam pendidikan. Upaya 
mereka meneror gadis tersebut beserta keluarganya gagal. Kata gadis itu, 
''Orang tua saya menyuruh saya tetap bersekolah, meskipun saya harus dibunuh 
gara-gara itu.''

Keberanian dan kebulatan tekad gadis tersebut semestinya menjadi inspirasi bagi 
kita semua -laki-laki maupun perempuan- untuk terus bekerja keras demi 
memastikan bahwa para gadis dan perempuan dewasa diberikan hak-hak dan 
kesempatan yang layak mereka terima.

Masalah global sangat besar dan rumit untuk diselesaikan tanpa partisipasi 
penuh dari kaum perempuan. Memperkuat hak-hak perempuan bukan hanya sebuah 
kewajiban moral yang berkelanjutan. Itu juga merupakan keharusan seiring dengan 
krisis ekonomi global yang kita hadapi, meluasnya terorisme dan senjata nuklir, 
konflik regional yang mengancam keluarga dan masyarakat, serta perubahan iklim 
dan bahaya yang muncul terhadap kesehatan dan keamanan dunia. 

Semua tantangan itu menuntut semua yang kita miliki. Kita tidak akan bisa 
menyelesaikan semua tantangan tersebut hanya dengan langkah yang 
setengah-setengah. Bahkan, pada isu-isu tersebut dan isu yang lain, separo 
dunia tertinggal. 

Khusus di tengah krisis finansial ini, kita harus ingat hasil-hasil penelitian 
yang menunjukkan bahwa mendukung kaum perempuan adalah investasi yang sangat 
menguntungkan, yang menghasilkan ekonomi yang kuat, masyarakat sipil yang lebih 
dinamis, masyarakat yang lebih sehat, serta perdamaian dan stabilitas yang 
lebih luas. Dan, berinvestasi pada kaum perempuan adalah satu cara untuk 
mendukung generasi akan datang; perempuan menghabiskan sebagian besar 
pemasukannya untuk makanan, pengobatan, dan biaya sekolah bagi anak-anak. 

Bahkan, di negara-negara maju kekuatan penuh ekonomi perempuan belum terwujud 
sepenuhnya. Perempuan di banyak negara masih menerima upah jauh lebih kecil 
daripada kaum pria untuk pekerjaan yang sama -sebuah jurang yang akan diakhiri 
oleh Presiden Obama di Amerika Serikat tahun ini ketika dia menandatangani 
Lilly Ledbetter Fair Pay Act, yang menegaskan kemampuan perempuan untuk 
menghadapi ketidaksetaraan pengupahan. 

Perempuan harus diberi kesempatan untuk bekerja, mendapatkan upah yang adil, 
akses ke pinjaman, dan membangun usaha. Mereka berhak atas kesetaraan di arena 
politik, dengan akses yang setara di kotak suara dan kebebasan untuk mengajukan 
petisi kepada pemerintah mereka serta menduduki jabatan di pemerintahan. Mereka 
punya hak untuk memperoleh layanan kesehatan bagi diri mereka dan keluarga 
mereka, serta hak untuk menyekolahkan anak mereka -laki-laki dan perempuan. 
Mereka juga berperan sangat penting dalam menciptakan perdamaian dan kestabilan 
di seluruh dunia. Di daerah yang tercabik oleh perang, kaum perempuan kerap 
menjadi pihak yang menemukan cara untuk menjembatani perbedaan dan menemukan 
hal-hal yang membawa pada persatuan.

Dengan lawatan saya ke seluruh dunia dalam posisi saya yang baru, saya akan 
selalu mengingat perempuan-perempuan yang pernah saya temui di setiap negara; 
perempuan yang telah berjuang melawan kesulitan besar untuk mengubah 
undang-undang sehingga mereka bisa memiliki harta benda, mempunyai hak dalam 
perkawinan, bersekolah, membiayai keluarga mereka, bahkan bertindak sebagai 
penjaga perdamaian. 

Dan, saya akan menjadi pendukung yang kuat -bekerja sama dengan rekan sejawat 
saya di negara lain serta lembaga swadaya masyarakat, kelompok bisnis, dan 
perorangan- untuk terus mengedepankan isu-isu ini sehingga dunia akan semakin 
erat yang akhirnya mewujudkan janji secara penuh pada perempuan dewasa dan 
anak-anak perempuan.***

*) Menteri Luar Negeri Amerika Serikat 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke