http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/08/08051796/terima.kasih.dianne...

*JAZZ
Terima Kasih, Dianne...!*

Minggu, 8 Maret 2009 | 08:05 WIB


Oleh DAHONO FITRIANTO dan JIMMY S HARIANTO

Banyak orang berpendapat pergelaran *Jakarta International Java Jazz
Festival* makin kehilangan rasa jazz-nya. Makin banyak artis pop dan genre
musik selain jazz yang diundang tampil, sekadar untuk menarik massa
penonton.

Namun, jika mau lebih teliti membaca daftar artis penampil dan mencari di
venue yang tepat, kita akan menemukan artis-artis yang masih mengusung kadar
jazz kelas dunia.

Seperti pada hari pertama Axis Jakarta International Java Jazz Festival
(JJF) 2009, Jumat (6/3) lalu. Sebagian besar penonton (diperkirakan lebih
dari 8.000 orang) boleh saja menyesaki Exhibition Hall B untuk menyaksikan
penyanyi pop idola kawula muda, Jazon Mraz. Semua bergemuruh setiap kali
artis asal Mechanicsville, Virginia, AS, itu selesai membawakan lagu-lagu
pop bernuansa folk dengan gitar akustiknya.

Atau di Plenary Hall menjelang tengah malam, misalnya, ketika lebih dari
5.000 penonton ikut goyang kaki, lenggak-lenggok dalam entakan jazz-Latin:
samba, bossas, seiring ingar-bingarnya permainan grup Inggris, Matt Bianco,
dan penyanyinya, Mark Reilly.

”Ini kami rekam di Kuba,” ungkap mereka, ketika membahanakan entakan ”Cha
Cha Cuba”, atau lagu mereka yang pernah sangat populer di sini, seperti ”Wap
Bam Boogie”, ”Dancing in The Street”, ”Whose Side Are You?”, ”More Than I
Can Bear”, ”Half a Minute”, ”Yeah Yeah”...

Seolah nyaris tak ada ”ruang sunyi” bagi Matt Bianco, yang dari awal sampai
akhir seperti tak mengendorkan entakan irama Amerika Latin. Mereka terus
menggelitik pendengarnya untuk bergoyang, atau bernyanyi melantunkan
lagu-lagu mereka yang populer pada tahun 1980-an.

Namun, sajian yang sama sekali berbeda dapat ditemukan di venue Assembly 3.
Sejak sore nama-nama tangguh di dunia jazz tampil silih berganti. Pianis
cantik asal Brasil, Eliane Elias, membuka pertunjukan, yang dilanjutkan oleh
musisi senegaranya, Ivan Lins.

Sebagai komponis, karya-karya Lins pernah dibawakan oleh para raksasa jazz,
seperti Sarah Vaughan, Ella Fitzgerald, George Benson, Diane Schuur, hingga
Quincy Jones.

Akan tetapi, puncak penampilan di Assembly 3 pada hari pertama ini, tak
pelak lagi, adalah penampilan vokalis Dianne Reeves dan kelompok vokal New
York Voices.

Kepekaan jazz

Dianne Reeves (52), peraih empat Grammy Awards untuk kategori Best Jazz
Vocal Performance. Tiga di antaranya diraih berturut-turut sepanjang
2001-2003, rekor yang belum pernah disamai penyanyi lain.

Saudara sepupu George Duke ini membius penonton dengan suara emas dan teknik
improvisasinya. Dia, misalnya, mengucap salam ke penonton atau
memperkenalkan satu per satu personel bandnya dengan menyanyi. ”Menyanyi
bagiku adalah ekspresi jiwa, soul expression,” ungkap Reeves dalam sesi
wawancara khusus dengan Kompas.

Reeves bahkan tak kehilangan cita rasa jazz-nya saat menyanyikan When You
Know, lagu pop yang dibawakan Shawn Colvin dalam soundtrack film Serendipity
(2001). ”Saya suka lagu itu, jadi saya ambil, dibuatkan aransemen baru, dan
diberi semacam jazz sensibility, kepekaan dan cita rasa jazz. Artis jazz
sejak dulu melakukan itu, mengambil lagu-lagu yang populer pada masanya,”
tuturnya.

Bintang kedua malam itu adalah New York Voices (NYV), kelompok vokal yang
beranggotakan Darmon Meader, Peter Eldridge, Kim Nazarian, dan Lauren
Kinhan. Begitu mereka memulai pertunjukan dengan iringan Ron King Big Band,
mata dan telinga yang awam merasa seperti diingatkan pada penampilan
kelompok vokal dari New York yang lebih terkenal, The Manhattan Transfer,
tahun lalu. ”Kami hanya sempat latihan satu kali bersama Ron King dan
kawan-kawan, tetapi syukurlah semua berjalan lancar,” ujar Darmon Meader.

Terpesona dengan penampilan NYV, para penonton masih berteriak-teriak
meminta mereka tampil lagi ke panggung meski waktu sudah menjelang pukul dua
dini hari. Ruangan masih penuh sesak hingga Ketua JJF Peter F Gontha pun
terlihat duduk berselonjor di lantai di deretan belakang, karena tak
kebagian tempat duduk.

Akhirnya NYV tampil lagi untuk encore, dengan membawakan versi akapela dari
lagu The Beatles, In My Life. Hadirin pun tercekat.

Di tengah sebuah festival, yang didominasi musik yang ”tidak terlalu jazz”,
para penampil di Assembly 3 sungguh memberi kesegaran. Terima kasih NYV,
terima kasih Dianne...!


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke