http://www.antara.co.id/arc/2009/3/9/seikat-mawar-katarsis-brian-mcknight/

*Seikat Mawar Katarsis Brian McKnight*


Oleh A.A. Ariwibowo

*Jakarta*, (ANTARA News) - Kalau saja dia diibaratkan selembar teks, maka
dia bukan sebatas tanda baca titik, melainkan tanda koma yang mengajak
pembaca untuk tiada henti menyiram nurani dengan imajinasi kata-kata,
menajamkan mata hati dengan selaksa makna dalam serentetan tangga nada.

Ketika didaulat tampil di hari penutupan ajang pesta jazz berlabel *Axis
Jakarta International Java Jazz Festival 2009*, penyanyi dan penulis lagu
asal Buffalo, New York yang mengusung genre Soul/R&B, Brian McKnight
mengirim seikat mawar katarsis. Sebuah pesta bukan berkutat sekedar pesta,
dia ada dan bertumbuh sebagai perayaan kehidupan.

Ribuan pecinta musik jazz yang memadati Plenary Hall, Jakarta Convention
Centre pada Minggu malam (8/3) seakan membiarkan diri untuk menerima getar
hipnotis. Mereka berharap dapat berbicara secara leluasa mengenai aneka
pengalaman masa lalu, dari pengalamanan menyesakkan sampai pengalaman
menggembirakan. Selembar malam yang menyembuhkan.

Tampil dengan jas dan celana warna gelap, ditingkahi oleh sorot lampu warna
warni, penyanyi yang dapat memainkan piano, gitar dan trumpet itu, hadir
dengan membawakan tembang bernuansa cinta. Sebut saja beberapa lagu yang
dibawakan antara lain "One last Cry", "Back At One", "Your Love is Ooh",
"Can You Read My Mind", "Do I ever Cross Your Mind?", Find Myself in You",
"For You", "I Belong To You".

Untuk membuat publik makin merasakan greget katarsis cinta, seorang
perempuan muda tampil ke atas panggung kemudian dipersilakan duduk oleh
McKnight. "Nama saya Angel," katanya singkat. Tidak lama berselang, penyanyi
berzodiak Gemini itu menyerahkan seikat mawar merah yang kemudian diserahkan
kepada gadis itu. Penonton pun bersorak lantaran menyaksikan bumbu
romantisme.

Setelah seikat mawar merah berada di genggaman orang yang dikasihi, penyanyi
yang lahir pada 5 Juni 1969 itu, memuntahkan amunisi cinta dengan ajakan
menerima bunga cinta meski untuk aroma satu malam saja. Seperti salah satu
nukilan lirik lagu "One Last Cry".

"I was here/ You were there/ Guess we never could agree/ While the sun
shines on you/ I need some love to rain on me/ Still I sit all alone/
Wishing all my feelings was gone/ Gotta get over you/ Nothing for me to do
But have one last cry...." Akhir lagu, McKnight memberi satu kecupan di pipi
kiri sang gadis. Penonton pun bergumam, "Hemm...."

Memulai karierya sebagai anggota paduan suara Gereja Adven Hari Ketujuh,
dalam usia 19 tahun, McKnight telah meneken kontrak perdana dengan
perusahaan rekaman Mercury Records. Ia melaju dan menyelesaikan tiga album.
Album terakhirnya bersama perusahaan tersebut menembus angka penjualan lebih
dari dua juta copy dan masuk nominasi Grammy.

Dalam perjalanan kariernya, ia tidak ingin sekedar tampil sebagai sosok yang
mencari kenikmatan belaka (pleasure seeking animal), tetapi mengisi jejaring
hidupnya dengan mengusung panji hidup "yang rileks apa adanya". Tidak heran
ia menawarkan katarsis cinta dari satu lagu ke lagu lain.

"It`s Undeniable/ That we should be together/ It`s unbelievable/ How I used
to say/ That I`d fall never/ The basis is need to know/ If you don`t know/
Just how I feel/ Then let me show you now/ That I`m for real/ If all things
in time/ Time will reveal...." Nukilan ini dipungut dari lagu ciptaannya
bertajuk "Back At One".

Meski perjalanan perkawinannya berakhir dengan perceraian, ia kini
dianugerahi dua anak laki-laki yang beranjak dewasa yakni Brian Jr. 19 dan
Niko 17. "Sekarang, saya ingin berkata mengenai sebuah kisah perjalanan
hidup. Kedua anakku kini beranjak dewasa. Mereka kini makin mengetahui
mengenai banyak hal meski hubungan kami sangat erat. Mereka tahu banyak hal
dari saya," kata McKnight.

Mengaku lebih banyak mengeksplorasi sisi sensual dari cinta, McKnight
menghentak para pendengarnya dengan sentuhan penyembuhan akan luka batin
manusia akibat trauma kehidupan. Dengan mengandalkan lirik bernuansa cinta,
ia seakan ingin mengajak publik untuk sejenak menoleh noktah dari trauma,
dendam dan prasangka yang membuat manusia tampil bukan sebagai tuan atas
dirinya.

Ketika mengomentari perjalanan kariernya yang relatif panjang, ia
mengatakan, "Inilah saya. Sebagai penyanyi yang juga penulis lagu, saya
berkeyakinan bahwa kuncinya yakni menciptakan lagu-lagu berkualitas.
Mulailah dengan satu lagu yang meledak di pasaran, maka engkau tidak akan
pernah menemui kegagalan."

Pada hari ketiga Java Jazz 2009, McKnight paling tidak membangkitkan gairah
untuk menatap masa depan dengan membawa narasi cinta dalam tembang-tembang
musikal sarat inspirasi. Karena ia membawa dan memberi seikat mawar merah
agar massa yang didera krisis global tidak terus meratap, melainkan menatap
satu teks berisi penegasan bahwa "semuanya akan menjadi baru. Mulailah
dengan hal-hal yang bergairah."

Dan malam makin larut. Ribuan penonton berteriak berbarengan, "We want
more." Padahal McKnight telah menyapa Jakarta dengan, "Good evening,
Jakarta. See You." Seikat mawar katarsis dari Brian McKnight bagi mereka
yang tidak ingin tercekik oleh khayalan mengenai kebahagiaan.

"One, You`re like a dream come true/ Two Just wanna be with you/ Three,
Girl, it`s plain to see/ That you`re the only one for me/ And four, Repeat
steps on thru three/ Five, Make you fall in love with me...." Tembang
katarsis dari Brian McKnight bagi mereka yang mengandalkan romantisme
cinta.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke