http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009031200472116

      Kamis, 12 Maret 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
Pemerintah 'Broke', Belum 'Broken'! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "DI forum Hipmi, Presiden Yudhoyono mengakui, Government is 
broke!--pemerintah merugi!" ujar Umar. "Penyebabnya menurut Presiden, 
penerimaan pemerintah menurun karena pajak yang masuk berkurang, insentif 
banyak yang diberikan! Situasi demikian tak terhindarkan dalam suasana krisis 
ekonomi. Tugas utama pemerintah adalah terus menjaga agar roda perekonomian 
nasional tetap bergerak!"

      "Keterbukaan Presiden mengenai kondisi kurang ideal keuangan negara itu 
amat dihargai! Lewat itu rakyat yang dalam kesulitan juga tahu ujung pangkal 
masalah yang mengimpitnya, karena ekonomi rakyat dan keuangan negara merupakan 
kesatuan yang simultan!" sambut Amir. "Lebih lagi dengan kejelasan keuangan 
negara pada kondisi broke, merugi, belum broken--berantakan, rakyat bisa 
memelihara harapan badai pasti berlalu!"

      "Memang jauh berbeda persepsi rakyat seandai pemerintah menutupi situasi 
kurang ideal itu dengan menyebutkan semua dalam kondisi ideal, padahal rakyat 
secara nyata merasakan tekanan sosial-ekonomi yang semakin berat!" timpal Umar. 
"Justru dengan keterbukaan itu rakyat bisa mengukur kemampuan keluarga dengan 
realitas kurang ideal tersebut, sehingga tekanan bisa diperlonggar oleh 
penyiasatan dan adaptasi warga terhadap kesulitan yang dihadapi!" "Apalagi 
secara awam mudah dipahami situasi krisis dengan fluktuasi nilai tukar mata 
uang asing--melemahnya kurs rupiah terutama pada yen dan dolar AS--yang membuat 
pemerintah broke!" tegas Amir.

      "Nilai yen yang pada awal krisis--macetnya kredit sektor perumahan AS 
Juli 2008 mencapai kisaran Rp125 per yen--kurs naik hingga 60 persen! Artinya, 
tanpa menambah utang baru pun nilai utang luar negeri maupun kewajiban membayar 
pokok utang dan bunga dalam yen--utang luar negeri kita yang terbesar--naik 
60-an persen! Juga utang dalam dolar AS, yang diawal krisis kursnya masih 
Rp8.500 per dolar AS, kini sudah di kisaran Rp12 ribu!"

      "Akibat gejolak kurs mata uang dunia itu, terjadi tambahan beban utang 
luar negeri kita pada 2008 sebesar Rp5,871 miliar dolar AS!" timpal Umar. "Dari 
total utang luar negeri pemerintah 2008 jika didolarkan sebesar 59,576 miliar 
dolar AS, akibat fluktuasi mata uang bertambah menjadi 65,447 miliar dolar AS! 
(Kompas, 11-3) Berapa besar itu dalam rupiah, hitung sendiri dengan kurs Rp12 
ribu per dolar AS!"

      "Tambahan utang akibat fluktuasi kurs itu saja sekitar Rp70 triliun, 
setara stimulus yang akan diluncurkan pemerintah mulai April nanti guna meredam 
bantingan krisis global terhadap perekonomian nasional!" tukas Amir. "Broke 
sebesar itu jelas tak bisa ditutup-tutupi! Maka itu, lebih tepat pemerintah 
sendiri yang mengungkapkan, ketimbang pihak lain yang tak urung diiringi 
tudingan bermuatan kebenaran cukup telak--pemerintah menutupi borok pada 
keuangan negara! Lalu dipelintir pula, agar rakyat tak bisa memahami dan 
menimpakan kesalahan pada pemerintah atas kebijakannya yang broke! Ini bukti 
keterbukaan lebih aman dari tertutup!"
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke