Refleksi :  Sekalipun dana pendidikan  30% atau 40%  dari APBN, tetapi kalau 
politik pendidikan tak karuan  arahnya, maka angka buta  aksara akan  
membengkak sesuai  trend  pertumbuhan demografi. Selain itu kalau penguasa 
negara terdiri dari oknom-oknom tukang catut maka yang dibutuhkan bukan rakyat 
cerdas, tetapi yang mudah digembalakan yaitu yang buta huruf dan buta 
pengetahuan umum agar apa yang dimanipulasikan bisa berhasil guna menggemukan 
kantong  para kantong tukang catut tsb.

http://www.balipost.co.id:80/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=5&id=1627

      Kamis, 12 Maret 2009
     
      Buta Aksara Tingg, Dana Pendidikan 20% untuk Apa? 
      DARI WARUNG GLOBAL


      SULIT dipercaya bahwa di Bali banyak yang buta aksara, padahal sudah 
dianggarkan 20 persen dari anggaran pemerintah untuk pendidikan. Apalagi Bali 
memiliki kabupaten yang PAD-nya sangat besar karena sebagai daerah pariwisata. 
Sehingga perlu dipertanyakan apakah data tersebut benar. Kalau benar wajarlah 
kalau Gubernur Mangku Pastika kecewa dan mempertanyakan apa saja yang telah 
dilakukan untuk pendidikan di Bali. Karenanya harus ada Perda yang berani, 
klian banjar harus ke pelosok-pelosok untuk mengetahui siapa yang tidak 
sekolah. Jangan sampai kita mendengung-dengungkan alokasi anggaran pendidikan 
20%, tapi untuk apa? Demikian disampaikan warga masyarakat yang bergabung dalam 
Warung Global Radio Global FM Bali, Rabu (11/3) kemarin. Berikut rangkuman 
selengkapnya.

      Pande di Pandak Gede mengatakan jumlah buta aksara 8 persen memang cukup 
mengecewakan karena di atas rata-rata nasional. Padahal Bali sangat populer 
dengan budaya yang adiluhung. Budaya secara konotatif identik dengan bahasa dan 
ekspresi serta sikap laku masyarakat Bali, bahwa secara kualitatif memiliki 
intelektualitas, emosional, spritualitas cukup bagus. Namun, ketika 
disandingkan dengan konteks buta aksaranya begitu tinggi 8 % maka semuanya 
menjadi bohong. Pada konteks ini database menjadi kambing hitam yang akan 
bersuara, bahwa si pembuatnya yang penuh dengan segala kepentingan. Yang paling 
bertanggung jawab dalam urusan Bali adalah pemimpinnya karena di sana ada pusat 
kekuasaan dan pemerintahan yang justru harus menguasai dan memahami data secara 
baik sekalipun secara teknis dibuat oleh departemen bawahannya.

      Menurut Gede Biasa di Denpasar Bali yang ternyata di atas rata-rata 
nasional angka buta hurufnya tidak terlepas dari laporan ABS/asal bapak senang. 
Setelah ada pemimpin yang baru, barulah ketahuan karena selama ini tidak 
terendus. Kalau pemimpin tidak pernah turun ke lapangan tidak memiliki gambaran 
yang jelas bagaimana keadaan masyarakat yang sebenarnya. Inilah yang tidak 
nyambung. Program-program yang dicanangkankan selama ini ternyata tidak 
nyambung dengan fakta, hanya di atas kertas.

      Suardana di Negara berpendapat bahwa ini mencengangkan juga. Dia 
mengharapkan agar data ini diperjelas per kabupaten sehingga Gubernur Bali bisa 
menekan sedikit. Kadang-kadang kita di Bali lucu, APBD meningkat padahal petani 
miskin sementara pejabat kaya. Karenanya harus ada Perda yang berani seperti di 
Jembrana kelian banjar harus ke pelosok-pelosok untuk mengetahui siapa yang 
tidak sekolah. Jangan sampai kita mendengung-dengungkan alokasi anggaran 
pendidikan 20%, tapi untuk apa?

      Dewa Putu Tirta di Tabanan mengatakan bahwa yang buta aksara mereka yang 
berusia di atas 40 tahunan saja, sedangkan yang sekarang banyak adalah yang 
putus sekolah. Hal ini terjadi karena banyak faktor, semisal jarak sekolah yang 
jauh.

      Menurut Edy di Denpasar aksara wajar-wajar saja masih ada. Pejabat juga 
buta pada hati rakyat. Buta aksara ada dua yakni yang tua dan muda, yang muda 
kemungkinan karena keluarga tidak mampu. Ini bisa kita lihat dari keberadaan 
para gepeng. Berikutnya yang tua-tua ngekoh belajar lagi karena sudah tua. 
Kalau Pak Gubernur kecewa tandanya bagus karena pasti Bapak Gubernur mencari 
solusi ke depan. Apalagi dana pemerintah untuk pendidikan besar, ini harus 
ditelusuri.

      Made Bukit di Jimbaran memaparkan setiap pejabat mempunyai sensasi. Kita 
ingat di tahun 60-an ada program PBH (pemberantasan buta huruf), kemudian 
setelah itu ada sekolah-sekolah.

      Sutama di Denpasar memperkirakan bahwa data tersebut tidak benar karena 
sudah ada PBH, juga program kejar paket C sebagai bukti di desa-desa paling 
tidak sudah banyak yang bisa bahasa Indonesia. Bali sampai di mana? Karena 
sekarang Bali majemuk. Karenanya yang memberi data agar berhati-hati.

      Dewa Winaya di Tabanan menilai bahwa data tersebut mendekati kebenaran. 
Yang didata bukan orang Bali tapi penduduk Bali termasuk juga pendatang. Karena 
padatnya pendatang sehinggapemberantasan buta aksara sulit. Juga banyak 
orangtua murid berada di bawah garis kemiskinan sehingga ada yang putus sekolah.

      Santa di Sayan Ubun mengatakan inilah kebiasaan elite-elite kita dari 
atas sampai bawah selalu berpura-pura.

      Anton di Klungkung menjelaskan bahwa datanya tidak komplit sehingga 
meragukan, karena kalau kita lihat anak muda sekarang rata-rata cukup pintar. 
Justru yang perlu ditanyakan adalah penyaji datanya. Semisal kalau kita ngumpul 
dengan anak-anak gepeng maka datanya bisa 50% sementara kalau kita ngumpul 
dengan orang-orang tua 60 tahun ke atas bisa 75 %. Pengumpulan dan penyajian 
data sebaiknya dengan benar, delapan persen itu dari mana? Karena sesungguhnya 
pemerintah sudah berusaha melalui program wajib belajar 12 tahun, juga BOS, 
maka rasanya sulit dipercaya angka buta aksara itu. Kalau putus sekolah bisa 
dipercaya dan jumlahnya banyak karena masalah ekonomi.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke