http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=63929


Bu Mus Laskar Pelangi Raih Muhammadiyah Award


Kamis, 12 Maret 2009 , 17:48:00
YOGYAKARTA, (PRLM).- Ny.Muslimah, tokoh sentral yang disapa Bu Mus dalam novel 
dan film Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, meraih Universitas Muhammadiyah 
Yogyakarta (UMY) Award. Bagi perempuan asal Belitung yang dikenal sebagai guru 
SD Muhammadiyah Gantung, Belitung Timur, bersama ayahnya KA Abdul Kadir Hamid 
(Harfan) merupakan kesekian kalinya sebagai penghormatan atas dedikasinya di 
bidang pendidikan. 
Dia sebelumnya mendapat Aisyiah Award, Satya Lencana, serta mendapat program 
khusus pemberdayaan pendidikan dan ekonomi dari Medco Foundation. 

Dalam novel Laskar Pelangi, penulis menggambarkan Bu Mus sebagai guru dari 10 
siswa pada sekolah reot. Tampilannya sederhana, penyabar dan penuh dedikasi 
bagi murid-muridnya dan dunia pendidikan. Andrea Hirata sebagai penulis novel 
merupakan satu dari 10 murid dia. 

Ketua PP Muhammadiyah Dr.Haedar Nashir menyatakan, Bu Mus sangat pantas meraih 
penghargaan di bidang pendidikan. "Bu Mus mencerminkan pelajaran atas 
ketulusan, kesahajaan, mendidik dengan hati. Sekarang, tidak begitu banyak 
orang menjadi dosen, guru dengan ikhlas, tulus, bersahaja karena berhadapan 
dengan suasana serba kecukupan," kata dia dalam sambutan usai penyerahan 
penghargaan. 

Dari cara pengajaran Bu Mus, menurut Haedar, ada pelajaran penting bahwa 
mendidik anak bukan semata menjadikannya cerdas secara akal. Mendidik harus 
menjadikan anak cerdas secara rokhani dan memiliki kepribadian. Pola pendidikan 
ini diterapkan Bu Mus saat mendidik Harun, seorang siswa defabel/cacat. 
Walaupun otaknya tidak mampu mencerna pelajaran, Bus Mus menganggap Harun bukan 
anak cacat tetapi memiliki kelebihan lain dalam bentuk karakter atau 
kepribadian. 

"Orangtua sekarang kebanyakan hanya menginginkan anak-anaknya cerdas otak, 
rangking 1, kurang memikirkan kecerdasan spiritual. Maka jangan disalahkan anak 
bila hasil pendidikan kita justru menghasilkan anak berpenampilan layaknya 
robot," kata Haedar. 

Rektor UMY Dasron Hamid menyatakan, Bu Mus merupakan sosok guru tanpa tanpa 
jasa yang sesungguhnya. "Dia patut diteladani, dalam situasi apapun selalu 
mengabdi, mendidik anak-anak," ujar dia. 

Bu Mus menyatakan dirinya tidak pantas menerima berbagai macam penghargaan. 
"Macam-macam penghargaan lebih pantas diterima orang-orang yang mendahului saya 
dan banyak orang lain di sekolah yang berjasa. Penghargaan ini untuk mereka 
semua melalui saya," ujar dia merendah. 

Bu Mus mengaku mengajar di Muhammadiyah sejak 1 Januari 1973-1 Juli 1986. Sejak 
1986 diangkat pegawai negeri sipil (PNS), Dinas Pendidikan setempat 'melarang' 
tetap mengabdi di Muhammadiyah karena statusnya sebagai PNS. 

"Saat itu, saya jadi menangis terus, bagaimana saya harus meninggalkan 
perguruan yang saya bina. Teman-teman membesarkan hati saya, mereka mendorong 
saya untuk mengikuti ketentuan penempatan di SDN 1 Lintang, Kec. Gantung dengan 
alasan banyak anak-anak seperti di SD Muhammadiyah yang membutuhkan 
bimbingannya. Dengan berat hati saya mengajar di sana," kata dia dengan nada 
tersendat. (A-84/das)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke