http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/15/04465611/g-20.optimistis.bisa.bersepakat

*G-20 Optimistis Bisa Bersepakat*
(AS dan UE Mulai Sependapat soal Krisis)


*Horsham*, Sabtu - Para anggota G-20, di dalamnya termasuk *Indonesia*,
optimistis terjadi kesepakatan soal cara mengatasi krisis global. Sebelumnya
terjadi perbedaan kontras antara AS dan Uni Eropa. AS menginginkan
pengguyuran dana ke pasar, UE menginginkan pengetatan aturan.

Meski demikian, dalam pertemuan para menteri keuangan G-20 di Horsham,
selatan London, Inggris, Sabtu (14/3), mencuat isu perpecahan G-20. Isu ini
bermunculan di sejumlah kantor berita dengan menyebutkan sumber anonim.

AS meluncurkan stimulus ekonomi sebesar 678 miliar dollar AS atau lebih
kurang setara dengan 600 miliar euro. Uni Eropa (UE) meluncurkan dana
stimulus ekonomi lebih dari 400 miliar euro.

*Presiden AS Barack Obama* dan tim ekonominya setuju menghidupkan ekonomi
dengan rangsangan permintaan lewat peningkatan anggaran pemerintah. Uni
Eropa, yang ketat menjaga inflasi dan memelihara anggaran agar tidak
mengalami defisit terlalu besar, menolak peningkatan dana stimulus.

UE menjaga agar defisit anggaran setiap anggota maksimal 3 persen dari
produk domestik bruto (PDB). Tujuannya agar inflasi terkendali dan kurs euro
relatif stabil. Hal itu relatif berhasil dipertahankan UE selama ini.

Kini AS sudah memiliki defisit anggaran sekitar 6 persen dari PDB dan
kemungkinan akan naik lagi menjadi 12 persen karena dorongan stimulus.

Dalam pertemuan G-20 di Horsham, topik yang mencuat ke publik adalah
keinginan semua negara anggota G-20 agar Dana Moneter Internasional (IMF)
meningkatkan dana untuk membantu negara-negara yang mengalami kekeringan
dana.

AS menginginkan 750 miliar dollar AS dana untuk disiapkan IMF dan UE hanya
menginginkan sekitar 500 miliar dollar AS.

Dalam pertemuan itu belum dibahas isu peningkatan stimulus ekonomi, isu yang
menjadi favorit AS. Juga belum muncul isu soal pengaturan sektor keuangan
global, isu favorit UE.

Titik temu

UE berpendapat, seberapa banyak pun dana diguyur ke pasar, hal itu tidak
akan mengatasi masalah. Mantan mahaguru spekulan, George Soros, pun sudah
berkali-kali mengingatkan, pengguyuran dana di pasar hanya memicu aksi-aksi
spekulasi, yang membuat suntikan dana dari sejumlah bank sentral menjadi
sia-sia.

Oleh karena itu, trio UE (Inggris, Perancis, dan Jerman) lebih fokus pada
pengaturan sektor keuangan, penertiban aksi-aksi spekulan yang dilakukan
hedge fund, dan bank-bank gelap (shadow banking), yang melakukan transaksi
keuangan yang penuh tipu daya dan menjadi akar dan sumber krisis global.

Namun, Menkeu Inggris Alistair Darling menyatakan optimistis akan ada temu
pendapat antara UE dan AS. Hal itu dinyatakan PM Inggris Gordon Brown dan
Kanselir Jerman Angela Merkel, yang optimistis soal cara mengatasi krisis
global.

Lawrence Summers, Penasihat Ekonomi Presiden Obama, Sabtu di Washington,
mendukung keinginan UE untuk penciptaan sebuah pengaturan sektor keuangan
global. Hal itu tidak saja penting untuk mengamankan aksi spekulasi liar
bank-bank gelap dan hedge fund, tetapi juga menertibkan negara-negara safe
haven seperti Swiss yang menjadi markas dan pelindung spekulan serta markas
para penghindar pembayaran pajak.

Sementara itu, PM China Wen Jiabao mengatakan, dana-dana investasi di AS
senilai 1 triliun dollar AS berada dalam ancaman. Investasi China dalam
bentuk surat-surat berharga, antara lain terbitan Departemen Keuangan AS,
berisiko merugi.

Namun, Presiden Obama dan Summers memberi jawaban bahwa kini sudah mulai
muncul optimisme soal perekonomian. REUTERS/AP/AFP/MON)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke