http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/16/pol02.html

Bersama Kita Bisa Bercerai!



JAKARTA - Duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dalam Pemilihan Presiden 
(Pilpres) 2009 sepertinya hanya tinggal kenangan saja. Hanya dalam hitungan 
hari, Kalla memutuskan untuk "bercerai" dari Yudhoyono dan melenggang maju 
sebagai calon presiden (capres) dari Partai Golkar.

Pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok merupakan pemicu 
Golkar mengusung Kalla meninggalkan Yudhoyono. Mubarok, di sela-sela Rapimnas 
Partai Demokrat, di Jakarta (9/2), mengatakan bahwa Demokrat belum membicarakan 
soal calon wakil presiden (cawapres) karena diperkirakan Golkar hanya meraih 
suara 2,5 persen dalam Pemilu Legislatif 2009.


Pernyataan Mubarok ini kontan membuat Kalla tersinggung. Kalla yang saat itu 
tengah melakukan kunjungan kerja ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa, 
langsung membalas pernyataan Mubarok yang dinilai meremehkan Golkar.


"Jangan bermimpi (Golkar-red) hanya akan mendapatkan 2,5 persen suara dalam 
pemilu mendatang. Silakan saja yang bermimpi buruk, yang (bilang-red) itu cuma 
seseorang yang tidak tahu hal-hal itu (Golkar-red)," kata Kalla yang saat itu 
tengah berada di Den Haag, Belanda.


Reaksi keras Kalla membuat Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Yudhoyono 
langsung menggelar jumpa pers di kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Jawa 
Barat, dua hari setelah pernyataan Kalla, Rabu (11/2). Yudhoyono mengatakan, 
bisa memahami perasaan tidak enak Kalla saat mendengar pernyataan Mubarok 
tersebut. Namun, Yudhoyono mengatakan, apa yang dikatakan Mubarok di luar 
sepengetahuan dirinya. Menurutnya, Mubarok keseleo lidah dan ungkapan 
ketidaksadaran.
Meski sudah mengklarifikasi, sejumlah fungsionaris Partai Golkar, termasuk 
Kalla, tidak bisa memendam kekecewaan. Kalla, misalnya, dijadwalkan kembali ke 
Tanah Air pada 12 Februari 2009, namun memperpanjang kunjungannya ke Amerika 
hingga tiba di Tanah Air pada 15 Februari 2009.


Tidak seperti biasanya ketika kembali dari kunjungan kerja ke luar negeri, 
Kalla tidak langsung menemui Yudhoyono untuk melaporkan hasil kerjanya. 
Sesungguhnya, esoknya tanggal 16 Februari, Kalla dijadwalkan akan menemui 
Yudhoyono di Istana Kepresidenan. Namun tanpa alasan yang jelas, acara itu 
dibatalkan. Kalla malah hadir dalam acara "Pengusaha Bertanya, Parpol Menjawab" 
yang digelar Apindo. Malamnya, Kalla membatalkan diri datang ke acara HMI yang 
juga dihadiri Yudhoyono.

Komitmen
Namun, pada 20 Februari 2009, Kalla menyatakan siap menjadi capres pada Pemilu 
2009 karena usulan dari bawah. Meski siap menjadi capres, Kalla berkomitmen 
akan menyelesaikan pemerintahan dengan Yudhoyono sampai akhir masa jabatan 
tanggal 20 Oktober 2009. Setelah mengungkapkan kesiapannya menjadi capres, 
barulah ada pertemuan antara Yudhoyono dan Kalla di kediaman Yudhoyono di Puri 
Cikeas, Jawa Barat, Minggu (22/2) malam, secara tertutup. Seusai pertemuan 
sekitar 45 menit, keduanya tidak memberikan keterangan. Juru Bicara 
Kepresidenan Andi Mallarangeng mengungkapkan, pertemuan itu membahas tiga hal, 
yaitu laporan hasil kunjungan kerja Kalla ke luar negeri, evaluasi Aceh, serta 
masalah antara Golkar dan Demokrat. Dalam pertemuan, keduanya sepakat untuk 
menjaga hubungan baik Golkar dan Demokrat, termasuk mengurangi kesalahpahaman 
hingga akhir periode Kabinet Indonesia Bersatu.


Meski keduanya sepakat untuk tetap bersama hingga akhir jabatan, nyatanya 
nuansa keretakan antara keduanya tak bisa dipungkiri. Baik Yudhoyono maupun 
Kalla menjadi jarang bertemu dan masing-masing disibukkan dengan pekerjaan, 
entah kunjungan kerja ke luar kota maupun temu kader seperti yang dilakukan 
Kalla di sela-sela kunjungannya, seperti ke Pontianak, Bangka Belitung, 
Makassar, dan Riau.


Saat bertemu kader Golkar, Kalla mengungakpkan kalau dirinya berkompeten 
menjadi pemimpin bangsa karena memiliki segudang pengalaman, seperti 
menyelesaikan berbagai konflik di Aceh dan pernah menjadi Menperindag, 
Menkokesra, hingga menjadi Wapres. Belum reda konflik di tubuh Golkar-Demokrat, 
partai berlambang beringin itu dibuat kesal dengan iklan Demokrat yang 
mengklaim program-program yang dibuat pemerintah selama hampir lima tahun. 
Membalas aksi Demokrat, Golkar mengeluarkan iklan dengan slogan "Lebih cepat, 
lebih baik".


Selain itu, Kalla juga makin getol bertemu dengan sejumlah ketua umum parpol 
besar, seperti PKS, PPP, dan puncaknya adalah dengan Ketua Umum PDIP Megawati 
Soekarnoputri yang merupakan "musuh politik" Yudhoyono.


Kebetulan pada saat Kalla dan Mega bertemu, Yudhoyono yang tengah melakukan 
kunjungan kerja ke Sulawesi Selatan, Kamis (12/3), mengalami gangguan nyeri 
lambung yang menyebabkan Yudhoyono harus membatalkan kunjungannya di Sulsel dan 
Banjarmasin. Akibatnya, muncul berbagai isu seputar kesehatan Yudhoyono, mulai 
dari stres akibat pertemuan Kalla-Mega hingga serangan jantung.

Selalu Mungkin
Keretakan hubungan Yudhoyono-Kalla patut disayangkan karena berdasarkan 
beberapa hasil survei maupun jajak pendapat, sesungguhnya mereka masih dipilih 
sebagai pasangan duet paling ideal. Kubu Demokrat maupun Yudhoyono sudah 
berupaya untuk berbaikan kembali dengan Golkar.


Situasi menjelang Pemilu 2009 ini tentu berbeda ketika menjelang Pemilu 2004. 
Sedikit ke belakang, duet Yudhoyono-Kalla tampil sebagai pasangan calon setelah 
keduanya mengundurkan diri sebagai Menkopolkam dan Menkokesra dalam Kabinet 
Gotong Royong pimpinan Megawati. Dengan slogan "Bersama Kita Bisa", keduanya 
berhasil menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Namun, untuk Pemilu 2009, semakin 
sulit untuk mengulangi duet 2004. Justru, keduanya sudah diambang "Bersama Kita 
Bisa Bercerai". 


Hanya saja, politik bukan ilmu pasti, melainkan seni untuk memungkinkan hal 
yang nyaris tak mungkin. Jadi, apa pun bisa terjadi dalam pemilu presiden 
mendatang. Hal itu hanya dapat dipastikan ketika KPU membuka pendaftaran 
pasangan calon presiden dan cawapres 2009. Apalagi, Yudhoyono dalam pertemuanya 
dengan pers di Cikeas, Minggu (15/3), mengatakan bahwa Demokrat masih membuka 
peluang untuk berkoalisi dengan Golkar. Demokrat menyadari kalau Golkar sebagai 
partai besar dan berpengalaman tidak boleh diremehkan. Golkar yang dalam Pemilu 
1999 dan 2004 diprediksi bakal anjlok, ternyata tidak terbukti. Selain itu, 
Golkar terbukti merupakan penopang utama stabilitas pemerintahan 
Yudhoyono-Kalla. Sebaliknya, Kalla tentu menyadari, popularitasnya masih kalah 
jauh dibanding Yudhoyono untuk saat ini. (dina sasti damayanti


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke