http://www.poskota.co.id/redaksi_baca.asp?id=982&ik=31


Kampanye Untuk Siapa 


Selasa 24 Maret 2009, Jam: 9:07:00 
Di tengah kekisruhan menyoal Daftar Pemilih Tetap (DPT), jadwal kampanye pemilu 
terus berlanjut. Kampanye yang digelar oleh parpol peserta pemilu tak bergeming 
dengan isu DPT fiktif yang mengehebohkan itu. Bahkan, para aktor dan elit 
politik acap menjadikan kekisruhan DPT ini sebagai manuver terhadap lawan 
politiknya. Dalam masa kampanye sekarang ini menjadi sah - sah saja mengemas 
sebuah isu yang sekiranya dapat menguntungkan dirinya dan partainya dalam 
mendulang suara pada pemilu legislatif yang bakal digelar 9 April mendatang. 

Persyaratan yang begitu berat untuk dapat melangkah ke kursi legislatif , 
begitu juga persaingan ketat menuju kursi RI 1 dan RI 2, menjadikan masing - 
masing parpol peserta pemilu harus bekerja ekstra keras. Persoalan mencuat 
manakala penetapan anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak, bukan nomor 
urut. 

Dari sinilah kemudian terindikasi bahwa perjuangan caleg sebagai pribadi tampak 
lebih menonjol ketimbang untuk parpolnya. Meski pada akhirnya perjuangan caleg 
itu akan berimbas kepada persentase perolehan suara parpol secara keseluruhan. 
Makin banyak jumlah caleg yang terpilih, kian besar perolehan suara parpol 
dalam pemilu. 

Yang jadi soal adalah sudahkah ajang kampanye digunakan selain untuk menarik 
simpati massa, juga sebagi arena pendidikan politik masyarakat. 

Kampanye sebenarnya identik dengan janji politik. Logika kita pun berpikir 
janji akan ditepati, jika ia (caleg) yang bersangkutan telah terpilih. Janji 
menjadi tidak bisa ditepati jika ia tidak terpilih.Namun, logika itu boleh jadi 
melenceng karena meski ia telah terpilih, kenyataannya tidak pula menepati 
janjinya kepada massa pemilihnya. 

Kondisi inilah yang kemudian melunturkan makna dari kampanye. Massa menjadi 
jenuh atas janji - janji politik selama masa kampanye.Pendidikan politik yang 
disuguhkan kepada khalayak kemudian dimaknai sebuah kepalsuan dan kejenuhan. 
Masyarakat menjadi antipati merespons kampanye sebagai bagian dari pendidikan 
politik. Ini menyebabkan partisipasi aktif politik masyarakat menjadi rendah. 
Tak heran, jika mencuat prediksi bakal merosotnya angka golput. 

Indikasi ini terlihat dari sikap masyarakat yang merasa enggan untuk mengecek 
kepada institusi terkait apakah dirinya ikut terdata dalam DPT atau 
tidak.Artinya, dia akan menggunakan hak suaranya jika ada panggilan untuk ikut 
pemilu. Sebaiknya, akan pasif sekiranya tidak ikut dipanggil untuk mencoblos 
(mencontreng). 

Yang perlu dipersoalkan apakah ada yang salah dalam sistem dan mekanisme 
penyelenggaraan pemilu? Sistem dan mekanisme sudah benar. Boleh jadi kekeliruan 
terletak kepada para pelaku, termasuk elit politik yang kadang melalaikan 
konstituennya. 

Begitu juga pola kampanye sudah sepatutnya diubah. Pengerahan massa sebanyak 
mungkin dalam sebuah kampanye tidak selamanya efektif apalagi jika sebagian 
massa yang hadir adalah bayaran atau karena tekanan. Pengerahan massa dapat 
dijadikan sebagai salah datu prediksi peroleh suara kalau yang datang murni 
simpatisan atau pendukung. 

Hal lain adalah materi kampanye yang digelorakan di hadapan massa. Dalam 
beberapa kasus, sering tidak terjalin interaksi antara caleg jurkam dengan 
massanya. Begitu juga materi yang dikampanyekan. Caleg terkesan lebih 
memetingkan dirinya sendiri untuk menang. Padahal kampanye selain untuk 
kepentingan dirinya sendiri juga untuk kepentingan rakyat. Nah, kepentingan 
untuk rakyat inilah yang acap diabaikan. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke