http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=6343#
2009-03-27 itu Gintung Jebol, 41 Tewas Kelelap Tanggul itu buatan Belanda. Salah satu penutupnya yang jebol, karena mungkin saat hujan lebat saluran pembuangannya yang kecil tak mampu menampung air. SP/Alex Suban Tim SAR mencari korban di antara reruntuhan bangunan yang diterjang banjir di Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (27/3). Akibat tanggul Situ Gintung jebol, aliran air menerjang rumah-rumah di kawasan itu. Karena peristiwa ini, sedikitnya 41 warga tewas. [TANGERANG] Tanggul penahan Situ (danau) Gintung yang terletak di Ciputat, Kabupaten Tangerang Selatan, Banten, Jumat (27/3) sekitar pukul 04.30 WIB jebol, karena tak mampu menahan volume air di dalam situ yang melimpah, menyusul hujan deras Kamis (26/3) sore hingga malam. Arus air yang sangat deras seketika menerjang dan menenggelamkan permukiman yang ada di sekitarnya. Hingga pukul 11.00 WIB, data yang dihimpun menyebutkan, korban tewas mencapai 41 orang, umumnya terseret derasnya arus air. Korban tewas diperkirakan bertambah karena banyak warga yang masih tidur saat peristiwa berlangsung. Korban yang telah dievakuasi, hingga Jumat siang disemayamkan secara terpisah, yaitu di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), STIE Ahmad Dahlan, RS Cipto Mangunkusumo, RS Fatmawati, dan beberapa rumah penduduk. "Kita mendapat laporan dari masyarakat sekitar pukul 02.00 dini hari pintu air tanggul danau jebol," ungkap Kapolsek Ciputat, AKBP Ngisa Asngari, di lokasi kejadian. Tim SAR, aparat kepolisian, TNI, dan warga masih mencari korban tewas. Proses evakuasi terkendala oleh wilayah genangan cukup luas dan berbukit-bukit. Selain itu, kondisi sejumlah bangunan yang hancur, mempersulit proses pencairan. Kondisi di lapangan mirip dengan gambaran saat terjadi tragedi tsunami di Aceh, Desember 2004, namun dalam skala yang lebih kecil. "Hampir seluruh warga yang bermukim di sekitar danau, rumahnya hancur," ujar Ngisa. Sementara itu, koordinator dari tim Palang Merah Indonesia (PMI), Agus Ramadhani menjelaskan, hampir seluruh korban tewas ditemukan dalam posisi tersangkut di antara semak-semak karena terseret arus air deras yang mengalir. Dia menambahkan, di sekitar waduk bermukim sekitar 300 sampai 400 warga. Jumlah itu belum termasuk puluhan mahasiswa UMJ yang tinggal di rumah kos di sekitar tanggul. Ribuan warga yang rumahnya hancur dan tergenang cukup tinggi, terpaksa mengungsi. Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati mengungkapkan, banyak korban tewas tidak membawa identitas, sehingga menyulitkan proses identifikasi. "Kita berharap keluarga datang ke lokasi penampungan korban tewas dan luka-luka untuk membantu identifikasi," ujarnya. Adita, kerabat dari korban menuturkan, sepupunya yang bernama Indah (9) turut menjadi korban tewas. Saat dibawa ke RS Fatmawati, Indah sebenarnya masih dalam kondisi kritis, namun akhirnya tak dapat diselamatkan. "Selain Indah, di rumahnya juga ada kedua orang tuanya, beserta dua orang saudaranya," kata Adita saat ditemui di kamar jenazah RS Fatmawati. Tanggung Jawab Pusat Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Budi Widiantoro menjelaskan, jebolnya tanggul Situ Gintung merupakan tanggung jawab pemerintah pusat. Sebab, pengelolaan di bawah Departemen Pekerjaan Umum. Dia menambahkan, sejumlah kompleks permukiman terendam air, seperti Perumahan Bukit Pratama dan perumahan Sespol. "Kami telah menyiapkan kantong ber- isi pasir untuk mencegah luapan air di permukiman warga," ujar Budi. Sekitar pukul 10.00 WIB, Wapres Jusuf Kalla tampak meninjau lokasi bencana. Selain melihat dari dekat wilayah genangan, Wapres juga tampak menjenguk korban tewas dan berdialog dengan warga di Aula STIE Ahmad Dahlan. Terkait dengan tragedi tersebut, Direktur Sungai, Danau, dan Waduk, Ditjen Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum, Widagdo mengatakan, saat ini pihaknya berusaha mencegah ambrol susulan tanggul Situ Gintung. "Kalau hujan turun lebih lebat, bisa terjadi panjang tanggul yang jebol akan makin lebar. Kami sudah menyiapkan bronjong-bronjong guna menahan tanggul agar tidak jebol. Namun, kondisinya masih kami analisis terus, sampai ditemukan solusi mencegah jebol susulan," kata Widagdo. Dikatakan, tanggul yang jebol, melebar, yakni selebar 25 meter, sementara ketinggian tanggul tak lebih dari lima meter. "Yang jebol adalah tanggul salah satu pintu pembuangan air, dari tiga pintu yang ada. Namun, kami tak bisa langsung menutup saluran pembuangan yang jebol itu," katanya. Widagdo menambahkan, usia tanggul itu sudah cukup tua. "Tanggul itu buatan Belanda. Salah satu penutupnya yang jebol, karena mungkin saat hujan lebat saluran pembuangannya yang kecil tak mampu menampung air. Jadi pintunya yang jebol," katanya. [YRS/HTS/B-15/N-6] [Non-text portions of this message have been removed]

