Refleksi : Sungai sekalipun kecil kalau diolah bisa sangat banyak manfaatnya, 
antara lain sebagai  tempat rekreasi, sumber irigasi, sumber air minum  dan 
juga bisa diolah menjadi mirco hydro eletric power, jadi jangan dijadikan 
tempat pembuangan sampah, tetapi peliharalah sebagamana mestinya.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/27/sh03.html

Sungai Bukan Bak Sampah     

Oleh
Sulung Prasetyo



JAKARTA - Ketika Pantai Kuta di Bali diserang sampah awal tahun ini, ratusan 
turis yang sedang berjemur tiba-tiba panik. Tak cuma turis, pecalang, petugas 
pantai, masyarakat, dan pemerintah daerah seperti secara tiba-tiba diserang 
makhluk halus. Sepertinya Pulau Dewata mendapat kutukan karena kurangnya 
persembahan yang biasa diletakkan di jalan-jalan.

Lalu doa-doa di pura-pura dilakukan dengan makin khusuk, ditambah persembahan 
yang diperbanyak. Tapi tampaknya dewa tetap tak senang, Pantai Kuta kembali 
diserang kedua kalinya oleh sampah di bulan Februari. Kali ini sampah 
kebanyakan berjenis plastik dan tempat-tempat persembahan kecil berbahan daun 
kelapa. Usut punya usut, ternyata bukan kemarahan dewa sebagai musabab Pantai 
Kuta dihantui sampah. Tapi, tampaknya pengelolaan sampah di Bali memang perlu 
dibenahi.  Budaya masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan di sungai, 
ditelisik menjadi awal musibah tersebut. Jadi, pantas bila persembahan menjadi 
seperti tak ada gunanya karena bukannya membuat Pantai Kuta tak diserang sampah 
kembali, namun justru membuat sampah menjadi makin banyak, karena makin banyak 
persembahan yang diberikan. 


Pangkal Masalah
Maggie Dunkle, seorang warga negara Australia yang kerap mengunjungi Bali jeli 
melihat pangkal masalah tersebut. Kemudian dengan nalar pintar, wanita berusia 
52 tahun itu mengejewantahkannya dalam sebuah buku anak-anak. Buku yang 
bercerita mengenai perjalanan seekor burung Camar dan Kokokan menyusuri sungai 
itu dan menjabarkan cerita mengenai sungai yang makin tak bersahabat. "Ada dua 
hal yang ingin disampaikan buku ini," ujar Maggie saat peluncuran bukunya di 
Ubud Bali, Sabtu (14/3) lalu. "Yang pertama, menolong anak-anak untuk belajar 
memahami masalah dan menyebarkan semangat harapan," tambah Maggie dengan senyum 
lebarnya. 

Buku itu sendiri merupakan buku kedua, setelah tahun lalu diluncurkan pula buku 
dengan gaya serupa berjudul Penyu dan Lumba-Lumba. Margiyono, pelukis dari buku 
tersebut kali ini mengaku agak kesulitan mengilustrasikan gambar. "Kalau untuk 
buku pertama butuh tiga bulan untuk menggambar, sekarang butuh enam bulan," 
ujar pria dengan rambut gondrong ini. 


Melukiskan masalah dengan gambar memang menjadi cara Maggie menyampaikan pesan 
lingkungan di dalamnya. Dengan cara tersebut diharapkan anak-anak menjadi 
tertarik dan ingin turut menyelamatkan lingkungan, terutama sungai. Di dalam 
buku tersebut memang digambarkan bagaimana burung Camar dan Kokokan merasa 
sedih melihat pantai yang penih sampah. Kemudian mereka terbang menyisiri 
sungai untuk mencari sumber masalah. Di sepanjang perjalanan mereka menemukan 
banyak orang yang membuang sampah sembarangan. Beberapa pemancing hanya 
mendapatkan sandal dan beberapa anak sedang bermain-main di sungai. 
Dharma, yang tinggal di Bali bagian barat membenarkan asumsi kalau sungai di 
Bali sekarang tambah buruk rupa. Sekarang sulit melihat dasar beberapa sungai 
di sekitar tempatnya. "Padahal dulu kami bisa berenang-renang dan mencari ikan 
disana," ujar Dharma, mengenang masa kecilnya. 

Mencemaskan
Kondisi sungai di sebagian besar wilayah Indonesia kini memang mencemaskan. 
Kalau diibaratkan secara negatif, sekarang sungai seperti tempat sampah 
berjalan saja. Di Sungai Kapuas Kalimantan Barat, sampah pernah terjebak di 
pinggir-pinggir ponton yang sedang diistirahatkan. Di Sungai Palu Sulawesi 
Tengah, orang-orang membuang sampah di malam hari. Di Sungai Musi, beberapa 
anak sungainya seperti Sungai Jeruju, Bayas, Karang, Sungai Tawar, Sungai 
Bendung, Rendang, dan Sungai Kedukan, tampak dipenuhi sampah. Apalagi, di 
Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta. Dalam sebuah laporan di awal tahun ini 
setidaknya 90 truk sampah harus disediakan untuk mengangkut sampah yang 
tersangkut di jembatan pascabanjir. Jumlah tersebut setara dengan 1.800 meter 
kubik per hari. 


Sementara itu, menurut Tri Mumpuni, Direktur Eksekutif Institut Bisnis dan 
Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) yang banyak berkecimpung dalam pemanfaatan listrik 
menggunakan arus sungai menyatakan, banyak Pembangkit Listrik Tenaga Mikro 
Hidro (PLTMH) saat ini rusak karena pasokan air sungai yang makin sekarat. 
Seperti di Lamajan, Bengkok di Dago Pakar, Bandung, PLTMH milik PLN sebanyak 
dua buah saat ini dinyatakan tak berfungsi lagi. 


Sementara itu, di Cijambe dan Cinangkling, PLTMH yang telah dibangun dari zaman 
Belanda juga rusak. "Produksinya turun karena memang sudah terlalu banyak 
manusia, dan lokasinya sudah tidak di hutan seperti dulu lagi karena sudah 
banyak permukiman," urai Tri Mumpuni melalui surat elektroniknya, Jumat (20/3) 
lalu. 


Sementara itu, PLTMH yang dibangun Ibeka biasanya masih di pedesaan yang 
lokasinya sangat terpencil serta memiliki hulu sungai yang baik, sehingga minim 
kerusakan. Memang, sungai-sungai yang digunakan untuk beberapa PLTMH banyak 
mengandung sampah sekarang. Jenisnya seperti sampah kasur dan sofa. Itu kalau 
di kota, kalau di desa biasanya sampah organik dan plastik pembungkus. Meskipun 
juga mengganggu produksi listrik dari PLTMH, Tri Mumpuni menganggap sampah 
tersebut belum mengganggu. Sebab, sistem desain PLTMH sudah menggunakan 
saringan sedemikian rupa sehingga air yang masuk sudah benar-benar tersaring.
Dalam pengamatan SH di Sungai Cisadane bersama Mapala UI, akhir minggu pertama 
bulan Maret 2009 ini, sampah masih tampak memenuhi bagian sungai antara Bantar 
Kambing hingga daerah Karikil. Warna air juga makin bertambah cokelat. Beberapa 
anak sungai Cisadane seperti Ciareuteun dan Cianten, bernasib sama. 

Bau Tak Sedap
Pengalaman SH melintasi beberapa sungai di Jawa menunjukkan kondisi yang tak 
jauh berbeda. Di Sungai Citarum, dekat lokasi Sang Hyang Sirah, bau sungai 
sangat tak sedap. Sungai Cimandiri, tak kontan debit airnya, pertanda kondisi 
hutan-hutan di hulunya makin tak baik. Bahkan di sungai-sungai yang kerap 
dijadikan lokasi arung jeram, seperti Cicatih dan Citarik, kondisi sungai 
sepertinya tak lebih baik. Beberapa sungai yang jauh dari permukiman seperti 
Cikandang, Cikaso, dan Cibuni, tampak agak lebih bersih. Namun sungai besar 
seperti Cimanuk, tak luput dari serangan sampah yang makin besar jumlahnya. 
Tampaknya jumlah sampah di sungai juga berhubungan erat dengan jumlah orang 
yang tinggal di sekitarnya. Sungai-sungai dekat perbatasan Sulawesi Selatan dan 
Sulawesi Tenggara, seperti Sungai Balease, Pattikala, dan Kalaena, tampak 
aliran airnya masih jernih. Sementara itu, sungai di Yogyakarta seperti Kali 
Code, terus mengalami penurunan kejernihan karena tabiat warganya yang membuang 
sampah secara serampangan. (sulung prasetyo) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke