Fenomena warung kopi muncul menjadi ajang sejarah baru yang selalu direkonstruksi tidak saja pada tingkat orientasi transaksionistis-nya, pola-pola estetis, performen yang khas, tetapi juga makna yang kini fungsinya semakin mendapatkan pengakuan baru di hati publik masyarakat Aceh. Mulai dari anak muda, pejabat pemerintah, politisi, pekerja NGO, penjual bakso, tukang becak dan berbagai kelas sosial, mulai dari tingkat ekonomi masyarakat yang paling bawah hingga pada kelas-kelas elit yang beragam juga ikut menikmati longgarnya ruang kebudayaan warung kopi di Aceh.
Lalu bagaimana Warkop menjadi sebuah transformasi ruang politik kebudayaan di Aceh? Baca: http://id.acehinstitute.org WARKOP: TRANSFORMASI RUANG POLITIK KEBUDAYAAN ACEH [Non-text portions of this message have been removed]

