Dikutip dari blog Kompasiana 
<http://public.kompasiana.com/2009/04/01/surat-terbuka-untuk-mas-prabowo-subianto-kultus-individu/>hari
 ini (01-04-2009):
============================================

*Mas Prabowo Subianto yang baik*

di-tempat

Dengan hormat,

Tiada untaian kata paling indah selain puja dan puji syukur ke hadirat
Illahi Rabbi, yang telah mencurahkan rahmat, hidayah dan barokah-Nya
sehingga kita masih diberi kesempatan bertatap muka dan bertegur sapa di
forum *Kompasiana* yang cukup bergengsi ini.

Selasa malam (31-03-2009) saya hadir acara temu blogger *Kompasiana *dan
komunitas *Facebook for Prabowo Subianto* (FBPS) di Cafe Amigos Bellagio
Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan. Dimana aktor utama di panggung utama
temu bloger tersebut Mas Prabowo sendiri. Ada beberapa catatan yang melintas
di langit pikiran, coba untuk diungkapkan di blog terhormat ini.

*Pertama*, aksi panggung dan pemaparan pokok-pokok pikiran. Penampilan
sederhana, gaya bertutur lugas, cerdas dan tangkas serta agak teatrikal Mas
Prabowo di temu blogger semalam mengesankan diri saya. Pula penyampaian dua
pokok pikiran mengenai neraca perdagangan Indonesia sejak 1997 yang
senantiasa surplus dan upaya sistematis “penggelembungan” rata-rata 25 %
Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilu 2009.

Untuk soal neraca perdagangan yang senantiasa surplus sejak tahun 1997
hingga 2008, namun kondisi ekonomi masih tergantung hutang-hutang baru luar
negeri memang bagi saya cukup memprihatinkan.  Perlu terobosan-terobosan dan
inovasi fenomenal guna mengangkat harkat, martabat dan kemakmuran negeri dan
masyarakat kita ini agar dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah
maju.

Sedangkan soal DPT yang rebut akhir-akhir ini, hemat saya semua pihak yang
berkepentingan terhadap pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 perlu duduk
bersama mencari solusi yang terbaik. Hal ini diperlukan agar hasil pemilu
legislatif bulan April nanti dapat diterima semua pihak.

Terhadap semua persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan negara, benar
apa yang Mas Prabowo katakan bahwa muara kesemuanya terletak pada
kepemimpinan atau *leadership* di semua tingkatan pemerintahan.

*Kedua*, ungkapan lapang dada dalam hal menerima kritik. Pada salah satu
bagian paparan, dikatakan bahwa Mas Prabowo termasuk tipe orang yang lapang
dada dalam hal menerima kritik. Itu sudah saya cermati sejak lama.
Kenyataannya memang demikian adanya. Banyak pihak yang suka atau tidak suka
dengan sepak terjang Mas Prabowo selama ini. Ada yang diungkapkan dengan
terbuka dan lugas (bahkan di forum publik). Ada yang mengungkapkan dengan
tertutup dan diam-diam. Ada yang menyebarkan  desas-desus dengan menambahi
bumbu-bumbu sendiri yang jauh panggang daripada api. Bahkan ada yang
membatin buat catatan khusus dirinya sendiri.

Kesemua yang baru saya ungkap di atas merupakan sifat natural manusia;
bermacam-macam kemauan dan motif serta beda antara satu kepala dengan kepala
lainnya. Diantara ragam ungkapan suka atau tidak suka itu, seperti
ditandaskan Mas Prabowo sendiri semalam, ungkapan pujian atau kritik secara
terbuka dan lugaslah yang diharapkan. Kira-kira semalam Mas Prabowo berujar,
“Sebuah bangsa tidak akan maju bila pemimpinnya tidak mau dikritik. Karena
dari kritiklah akan lahir formula baru atau sintesis untuk memperbaiki
keadaan. Ada tesis, anti tesis dan kemudian lahir sintesis demikian
seterusnya.”

Mudah-mudahan surat terbuka ini merupakan cara pengungkapan suka atau tidak
suka diri saya melalui cara terbuka dan lugas seperti yang diharapkan Mas
Prabowo.

*Ketiga*, hakikatnya blogger itu independen. Menyimak dan menikmati aksi
panggung dari awal hingga menjelang akhir pemaparan pokok pikiran Mas
Prabowo, saya cukup terkesima. Namun demikian ada hal yang cukup menyentak
hati tatkala diakhir pemaparan, Mas Prabowo “mengajak” hadirin untuk
bergabung dalam “Barisan Prabowo Subianto”. Saya rasa bila ajakan itu
ditujukan untuk para blogger yang hadir di Café Amigos, ajakan semacam itu
kurang tepat dan salah alamat. Sekalipun mungkin seorang blogger menjadi
anggota atau simpatisan tokoh dan partai politik tertentu, dalam aktivitas
nge-blog seorang blogger bersifat independen. Seorang blogger bukanlah
corong atau kepanjangan tangan tokoh, partai politik, dan ideologi tertentu.
Segala hal yang berkaitan dengan aktivitas nge-blog, blogger sendiri yang
akan menentukan. Tanpa ia bisa diintervensi oleh pihak manapun.

*Keempat*,  pengkultus individuan Mas Prabowo. Poin terakhir ini saya kira
yang terpenting sebagai masukan Mas Prabowo. Usai acara temu blooger,
penyelenggara menambah acara selingan sebagai pernak-pernik yang dimaksudkan
untuk menyemarakkan acara. Tampil ke depan panggung, beberapa anak muda
menyampaikan aspirasi. Tujuan mereka yang pokok menyerahkan beberapa ikat
bunga  dan suka cita bertemu idolanya. Namun demikian, kesan yang saya
tangkap,a da ungkapan-ungkapan mereka untuk mengkultus individukan Mas
Prabowo. Dan nampaknya Mas Prabowo menikmati hal demikian?

Saya rasa ke depannya, ungkapan yang bernada pengkultus individuan semacam
yang saya saksikan di Café Amigos semalam itu tidak perlu terulang.
Penyelenggara acara atau tim sukses PS perlu mem-*filter *dan mewaspadai
upaya pengkultus individuan itu. Disamping tidak mendidik bagi kalangan
muda, ungkapan kultus individu itu merugikan ditinjau dari strategi
perjuangan jangka pendek Mas Prabowo sendiri. Lantaran saya yakin Mas
Prabowo sendiri juga tidak ingin dirinya dikultus individukan, bukan?

Kita perlu belajar dari publik Amerika Serikat. Dalam sejarahnya pernah
tampil Franklin Delano Roosevelt  (FDR) sebagai sosok pemimpin kuat dan
cakap dalam mengatasi keadaan kacau pasca malaise tahun 1929. Sekalipun
dalam masa 4 periode masa kepresidenannya yang cukup berhasil, namun ia
tidak pernah dikultuskan oleh rakyatnya. 

Di blog ini saya juga pernah menulis dua serial postingan soal kepemimpinan
FDR<http://public.kompasiana.com/2009/02/28/mendambakan-pemimpin-alai-franklin-d-roosevelt/>.

Dibagian awal postingan, saya kutip kata-kata FDR, “*Tugas pemimpin negara
ialah: membujuk, memimpin, berkorban serta selalu mengajari rakyat. Tugasnya 
yang terpenting ialah mendidik”* *.*

Mudah-mudahan Mas Prabowo mampu mendidik rakyat agar tidak mengkultuskan
para pemimpinnya.

Demikian surat terbuka berdasarkan catatan yang masih hangat melintas di
langit pikiran dari acara temu blogger semalam. Ada kurang lebihnya saya
mohon maaf sebelumnya.

Oya, sampaikan salam saya kepada orang-orang dekat yang selama ini
menginspirasi dan mendampingi perjuangan Mas Prabowo, bahwa seorang teman
baru blogger, Dwiki namanya, menyimpan kerinduan yang dalam di hatinya buat
mereka. Terima kasih.

*****

*DWIKI SETIYAWAN*, seorang blogger pendatang baru. Anggota komunitas Blog *
Kompasiana.* Hoby membaca dan corat-coret.


com/info/terms/


      

Kirim email ke