Tanggapan Surat Terbuka untuk PKS

Kamis, 02/04/2009 11:43 WIB 
Assalamu'alaikum Wr Wb

Saya adalah pembaca setia Eramuslim sejak pertama mengenal Internet.
Bahkan konten dalam situs ini sering saya jadikan bahan mading kantor
dengan tetap mencantumkan sumbernya. Harapannya, para pembaca mading
akan menjadikan Eramuslim sebagai sumber rujukan.
Sebagai media Islami tentunya mampu menghadirkan semangat Islam yang
memberi kabar gembira (bashiro) dan peringatan (nadhiro). Namun,
belakangan ini, dua hal itu cenderung berkurang. Khususnya ketika
menyangkut momen Pemilu yang akan dilaksanakan. Hampir seluruh bahasan
khususnya Opini n Artikel justru menghadirkan pesimistis dan membuat
pembaca jadi cenderung pasif. Hal itu tak beda dengan media sekuler
lainnya. Bila seperti itu, mana semangat menyebarkan Kabar gembira dan
peringatannya? Sedangkan tidaklah orang yang putus asa dari rahmat
Alloh itu selain orang kafir. Apakah Eramuslim akan menjadikan para
pembacanya tergiring ke arah kekafiran?
Saya pernah membaca dalam sebuah buku yang mengetengahkan hadits
tentang tiga golongan yang selalu mendapatkan pertolongan Alloh, yaitu:
para mujahid yang berjuang di jalan Alloh, orang yang menikah untuk
menjaga kemaluannya, dan penulis yang dengan tulisannya memberikan
penawar. Disinilah peran Eramuslim yang sudah sepatutnya memberikan
penawar dengan mencerahkan dan mencerdaskan pembacanya. Dan saya yakin
dan percaya bahwa redaksi Eramuslim masih komitmen dengan itu.
Sedang menyikapi surat pembaca yang berjudul “Surat Terbuka untuk
PKS” menghadirkan pertanyaan ini sebagai unek-unek pribadi atau untuk
publik? Bila sebagai unek-unek pribadi, terserah kita untuk menulis
apa. Tapi tentu bukan tempatnya untuk dimuat dalam media public seperti
Eramuslim. Bila ini untuk publik, tentu ada adab yang sudah sepatutnya
dijunjung.
Penulis sendiri mengakui bahwa dia tidak terlibat dan tidak tahu
latar belakang pemikirannya. Tapi kenapa langsung mengkritik di media
publik tanpa ada Tabayun (konfirmasi) kepada pihak yang berwenang?
Bukankah Islam itu sangat indah dengan mengajarkan Tabayun saat
mendengar berita tentang saudara sesama Muslim? Saya sangat salut saat
penulis masih berusaha untuk khusnudzon sebab sikap itulah yang kini
mulai menghilang di kaum muslimin sehingga yang hadir adalah
ketidakpercayaan.
Untuk PKS sendiri, meski mereka bukan jama’ah malaikat, saya melihat
masih lebih baik daripada yang lain. Coba anda bandingkan dengan konser
dalam kampanye PKB (maaf jadi nyebut nih soalnya dah spesifik sih) yang
justru menghadirkan Mulan Jamela dengan pakaian yang seronok. Padahal
disitu banyak para Kyai yang pasti tahu soal ini. Sedangkan vocalis
Coklat masih lebih baik dengan busana tidak transparan dan memakai
kerudung. Dalam fikih bukankah ada kaidah memilih yang paling sedikit
mudlorotnya.
Dakwah dalam memperjuangkan syariat di pemerintahan memang sangat
berat. Bagaimana berat dan sangat spesifiknya dakwah disana ya mungkin
hanya bisa dirasakan dan diketahui oleh mereka yang terjun langsung.
Berbeda dengan mereka yang hanya melihat dari luar. Dan saya yakin
serta percaya saudara-saudara kita di PKS yang memiliki orang-orang
yang kompeten dalam menyikapi masalah agar tidak bertentangan dengan
kaidah syar’i.
Pelajaran pun bisa kita ambil dari kasus Afghanistan, Alajazair,
Turki, dan banyak negara lain dalam memperjuangkan syariat. Di
Afghanistan yang mencoba menerapkan syariat dengan versi mereka justru
mendapat penolakan dari umat Islam sendiri yang ternyata belum siap
sepenuhnya disana. Ada pula Aljazair dan Turki (partai Refah) yang
berhadapan dengan kudeta militer saat mereka mencoba menerapkan syariat
disana. Sementara ketika berusaha adaptif dengan wujud AKP di Turki
mereka justru mendapat dukungan masyarakatnya.
Tapi memang, umat Islam saat ini cenderung untuk perfeksionis
sehingga saat terlihat sedikit saja kekurangan seolah menutup semua
kebaikan yang ada. Saat ini terlihat dari kasus partai AKP Turki yang
turun suaranya karena dianggap tidak sempurna. Padahal kondisi ekonomi
global memang sedang tidak baik.
Saya jadi teringat dengan film “Perempuan Berkalung Surban” yang
banyak dikritik oleh orang Islam. Yaitu saat sang Ibu membolehkan
perempuan itu dihukum rajam oleh orang yang tidak pernah berdosa.
Padahal siapa manusia yang tak pernah berdosa? Itu adalah kalimat kaum
liberal untuk menyatakan secara implisit bahwa hukum rajam sebagai
bagain tak terpisah dari syariat tak mungkin bisa dilaksanakan di muka
bumi ini karena tidak ada manusia yang bebas dosa untuk menjalankannya.
Dan nyatanya sebagian yang disampaikan di film itu diterapkan bagi
para pejuang dakwah di pemerintahan yang berjibaku dengan seluruh yang
mereka mampu untuk ummat tapi justru mendapat celaan dahsyat seolah
mereka lebih buruk dari pejabat yang selingkuh, pezina dan pelaku
korupsi. Akibatnya bangunan ummat yang baru mereka susun hancur kembali
dengan mereka tertimpa reruntuhannya. Padahal mereka yang meruntuhkan
itu tidak berkontribusi. Hal itu tidak adil. Dan bukankah adil adalah
ajaran inti dari Islam dengan menempatakan segala sesuatu pada tempat
dan porsinya. Maka hendaklah setiap muslim itu harus berbuat adil.
Sebagai akhir dari surat ini, mari kita tanamkan sikap percaya dan
optimis dalam hidup ini agar keindahan Islam itu terpancar dari sikap
ummatnya sendiri. Dan berhentilah bicara hanya untuk mencela yang
mengakibatkan kerusakan. Sebagaimana orang kafir yang ketika diingatkan
agar tidak membuat kerusakan mereka justru berdalih sebagai orang yang
berbuat kebaikan. Bukankah Harapan itu selalu ada bagi kaum muslimin?!
Wassalamu’alaikum wr wb
Sarimin ([email protected])Wa'alaikumussalam wr. wb.
Terima kasih atas tanggapan dan kritiknya untuk eramuslim. Kami mengucapkan 
banyak terima kasih.
Kami memuat surat pembaca dengan maksud sebagai jembatan komunikasi
antara rakyat, umat, konstituen dengan pemerintah, pejabat, atau
pimpinan organisasi publik. Dari surat inilah, kami berharap ada
klarifikasi atau jawaban dari pihak yang berwenang. Bukan hal lain yang
tidak kita inginkan bersama.
redaksi.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke