israel memang PENJAHAT PERANG!
Derita Ghada Abu Halima, Korban Bom Fosfor Israel
Ghada Abu Halima merasakan sakit tak terkira akibat luka bakar yang
dideritanya. Ia terkena bom fosfor yang dijatuhkan Israel adalam agresi
brutalnya ke Jalur Gaza bulan Januari lalu. Pada B'Tselem-lembaga
pemantau HAM didaerah pendudukan Israel-Ghada menceritakan awal
penderitaannya.
Hari Sabtu malam tanggal 3 Januari, pesawat-pesawat tempur Israel
menyebarkan selebaran berisi peringatan agar warga Beit Lahiya
meninggalkan rumah mereka karena tentara Israel akan melakukan
serangan. Israel sudah sering melakukan hal itu pada serangan-serangan
sebelumnya. Seperti yang sudah-sudah, Ghada dan keluarganya yang
tinggal di rumah berlantai dua berukuran 250 meter persegi, tidak
meninggalkan rumah.
Keluarga besar Ghada tinggal di rumah itu. Mereka mencari nafkah dengan
mengolah tanah pertanian yang ada di sebelah rumah.
Hari Minggu, 4 Januari, sekitar jam 04.00 sore, seluruh keluarga
sedang berkumpul di dalam rumah ketika tentara-tentara Zionis
membombardir Beit Lahiya. Sebuah selongsongan mortir tiba-tiba jatuh di
rumah itu dan pecahannya langsung membakar tubuh ayah mertua, tiga
puteranya bernama Abdu Rahim, Zeid dan Hamzah, serta puterinya yang
masih bayi, bernama Shahd. Mereka semua meninggal seketika.
Sedangkan ibu mertuanya beserta tiga anak lelakinya yang lain, Omar,
Yusuf dan Ali menderita luka bakar. Percikan api merambat kemana-mana
dan membakar rumah mereka. Ghada memeluk puterinya Farah, keduanya juga
mengalami luka bakar.
"Baju saya terbakar, kulit saya dan Farah hangus. Untunglah, bayi
saya Aya tidak terluka. Saya langsung melepas pakaian saya ketika api
mulai menjalar ke tubuh saya. Saya telanjang di depan semua orang yang
ada di rumah ketika itu. Kulit saya terbakar dan rasanya sakit sekali.
Saya bahkan bisa mencium bau daging yang terbakar," tutur Ghada.
Kondisi Ghada saat itu sangat parah. Ia mencari apa saja untuk
menutup tubuhnya dan terus berteriak. Saudara lelaki suami Ghada
melepas celana panjangnya dan memberikannya pada Ghada. Tubuh bagian
atas Ghada masih terbuka, sampai suaminya datang dan menutupinya dengan
jaket.
Suami Ghada lalu keluar mencari pertolongan, menemukan banyak korban
yang tewas dan luka-luka di sekitar rumahnya. Tidak ada ambulan atau
mobil pemadam kebakaran yang bisa dimintai pertolongan. Lalu, sepupu
suami Ghada yang tinggal dekat rumah datang dan memberikan pertolongan.
Keluarga Ghada yang terluka diangkut ke sebuah gerbong yang
bergandengan dengan traktor dan dibawa ke Rumah Sakit Kamal 'Adwan.
Di perjalanan, mereka bertemu dengan tentara-tentara Israel sekitar
300 meter dari Lapangan al-'Atatrah. Tentara-tentara Israel itu
menembaki traktor mereka dan membunuh sepupu suami Ghada Matar dan
Muhammad Hikmat. Ali yang sudah mengalami luka bakar, berusaha
melarikan diri bersama Omar dan sepupunya, Nabilah.
Tentara Israel menyuruh suami Ghada melepas pakaiannya dan
digeledah. Setelah itu, tentara-tentara Zionis mengembalikan pakaian
suaminya dan menyuruh mereka semua melanjutkan perjalanan dengan jalan
kaki. Ghada, suaminya dan Farah akhirnya jalan kaki sampai ada sebuah
mobil yang lewat dan menolong mereka pergi ke Rumah Sakit a-Shifaa.
Mereka tiba di rumah sakit sekitar pukul 06.00 sore. Di dalam gerbong
traktor, terdapat tiga jenazah yang terpaksa mereka tinggal.
"Seluruh tubuh saya terbakar, wajah saya juga. Farah mengalami luka
bakar tingkat tiga. Kami semua dirawat di rumah sakit itu," ujar Ghada.
Ghada dan puterinya direferensikan untuk mendapatkan perawatan lebih
lanjut ke Mesir. Petugas rumah sakit berusaha membawa mereka ke Mesir
lewat perbatasan Rafah dengan ambulan, tapi di perjalanan
tentara-tentara Israel menembaki ambulan mereka. Sopir ambulan
luka-luka di bagian wajahnya dan mereka terpaksa kembali ke rumah
sakit. Sejak itu Ghada menunggu ijin agar boleh melewati perbatasan
Rafah menuju Mesir.
Ghada menuturkan pengalamannya itu pada tanggal 9 Januari 2009 lalu
pada Muhammad Sabah dari B'Tselem di RS a-Shifaa. Ghada dan puterinya
memang akhirnya dibolehkan mendapatkan perawatan lebih lanjut ke Mesir.
Tapi pada tanggal 29 Maret kemarin Ghada Abu Halima menutup mata
selama-lamanya di sebuah rumah sakit Meisr, akibat luka bakar bom
fosfor yang dideritanya.
Kisah duka Ghada adalah bagian dari nestapa yang dialami ribuan warga
Gaza saat pesawat-pesawat tempur Israel menjatuhkan bom-bom
mematikannya selama 22 hari ke wilayah Gaza. Ghada menyusul keluarganya
yang lain yang lebih dulu syahid. (ln/IMEMC)
[Non-text portions of this message have been removed]