http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=25899
Selasa, 07 Apr 2009, | 4
Siapa Yang Harus Kupilih
Elisabeth Tan
Tanggal 9 April 2009 akan menjadi momentum dan tonggak penting bagi
perjalanan bangsa ini selama 5 tahun kedepan.
Betapa tidak karena saat itu semua warga masyarakat di negara Republik
Indonesia, bahkan yang mendiami bumi seribu pulau ini akan memberikan hak
suaranya untuk menentukan wakil rakyatnya. Pertanyaannya adalah dari begitu
banyak calon yang ada, siapa sih yang harus kita pilih ? Beberapa orang
cenderung mengatakan bahwa pilihannya tentu tidak jauh dari kerabat dekatnya,
tetangganya, orang sekampungnya, satu organisasi dengannya, satu kelompok
panguyupan, dan lain sebagainya, yang tentu saja sah-sah dan tidak ada salahnya.
Beragam jawaban yang disampaikan memberi gambaran bahwa pilihan terhadap
calon legislatif umumnya masih didasarkan pada pandangan primodialisme yang
memperhitungkan kondisi budaya dan kentalnya kekerabatan. Hal ini tidak salah
dan sah - sah saja bagi setiap orang, bukankah Undang-Undang Dasar 1945
menjamin hal tersebut, " sesuai bunyi Pasal 27 : 1 Segala warga negara
bersamaan di dalam hukum dan Pemerintahan wajib menjunjung tinggi hukum dan
Pemerintahan dengan tidak ada kecualinya.
Berkenan dengan hal itu maka keterlibatan peran perempuan menjadi
fenomena yang menarik, apalagi keberadaan dan hak- hak perempuan telah diterima
secara universal yang mana penetapannya terlihat dengan jelas baik dalam
konvensi hak- asasi manusia maupun hak asasi perempuan. Pengakuan ini telah
membuka kesempatan dan penguatan terhadap keberadaan perempuan didalam memberi
kontribusi pemikiran bagi pembangunan bangsa sekaligus sebagai fungsi kontrol
terhadap jalannya pembangunan kedepan melalui keterlibatannya dalam Dewan
Perwakilan Rakyat. Tidak tanggung- tanggung berbagai lembaga kemanusiaan yang
menaruh perhatian terhadap hak-hak perempuan telah memberikan kontribusi baik
sumbangan dana maupun aktivitas lainnya bagi upaya meningkatnya keterlibatan
perempuan dalam quota lembaga perwakilan rakyat, sungguh menggembirakan bahwa
perempuan pun menjadi bagian yang tetap harus diperhitungkan dalam peta
percaturan politik negeri ini sebagai konsekwensi pengakuan terhadap kesetaraan
antara perempuan dan laki-laki didalam lini kehidupan.
Wow, kalau sekarang pertanyaan ini harus dijawab oleh saya sendiri "
siapa yang harus saya pilih " maka dalam pandangan idealisme keperempuanan saya
akan menjawab " hmmm " saya kira sudah saatnya perempuan bicara " atau ..
mengapa tidak " saya adalah perempuan maka figur yang saya pilih tidak masalah
siapapun dia, tetapi dia haruslah perempuan !
Ini tentu akan memberi jawaban yang tepat, tetapi belum tentu bijaksana
karena tidak didahului oleh sebuah pertimbangan yang rasional. Pilihan yang
rasional dan tertanggung jawab, tentu tidak hanya didasarkan atas sebuah
persamaan jenis kelamin, persamaan adat, budaya, suku, golongan, ras, etnis,
maupun persamaan lainnya yang bersifat primordialisme. Sebab kesalahan kita
didalam memilih akan memberi dampak yang luar biasa buruk bagi pergerakan dan
perkembangan bangsa dan negeri ini kedepan.
Itu berarti pilihan kita tentu harus didasari oleh kepekaan kita didalam
melihat figur - figur yang layak menduduki peran penting sebagai anggota
legislatif di negeri ini. Figur pilihan haruslah yang memahami sungguh tugas
dan perannya didalam menyampaikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat, figur
pilihan haruslah yang menyadari bahwa kantor megah yang bakal ditempatinya
adalah rumah rakyat dan bukan sarana pelacuran mentalitas dan perdagangan
moralitas karena menganggap bahwa disana terdapat banyak kemudahan untuk
mengeruk keuntungan dari aliran dana proyek yang bakal disetujui dalam sidang
dewan perwakilan rakyat, figur pilihan juga bukan mereka yang lebih
mengutamakan insentif kesejahteraan dan peningkatan tunjangan A, B dan C bagi
anggota dewan sebagai prioritas keputusan dewan ataupun memiliki banyak program
kerja berupa jalan-jalan keluar daerah hingga keluar negeri dengan alasan
melakukan studi banding bagi peningkatan kapasitas anggota, tentu saja dengan
berlindung pada tujuan akhirnya yaitu perbaikan kualitas hidup masyarakat.
Bahkan dalam kesehariannya sementara ketika berada didalam mobil mewah penuh ac
dengan kaca tertutup tanpa disadari telah memercik deru debu bahkan sisa
genangan hujan pada masyarakat yang lewat di jalan raya, ataupun tukang becak
dan pedagang kaki lima yang kumal namun note bene adalah masyarakat yang akan
memilihnya...Ups Betapa pilu dan menyedihkan sekali potret seperti ini.
Figur pilihan haruslah yang memiliki ketajaman visi dan mentalitas yang
baik dan berdayaguna didalam memperjuangkan dan melindungi hak-hak masyarakat,
khususnya hak masyarakat adat, masyarakat miskin, marginal, maupun yang
terpinggirkan, figur pilihan bukanlah yang baru berteriak memanggil masyarakat
sebagai mitra saat melakukan kampanye tetapi dalam kesehariannya hidup berbaur
dan bermasyarakat, melakukan sosialiasi tidak hanya karena ingin memberitahukan
tanda contreng yang tepat dengan memberi tanda pada namanya, tetapi keseharian
hidupnya selalu memperlihatkan keterbukaan dan kesehajaan di dalam masyarakat,
memiliki rasa cinta kebangsaan, dan patriotisme yang sejati yang mana berani
melakukan control sosial terhadap pemerintah terkait kebijakan kebijakan
pemerintah yang mungkin saja tidak memihak kepada masyarakat. Sebagai figur Ia
tahu kiblatnya adalah masyarakat, karena ia berasal dari dan untuk mereka. Oleh
karenanya ia memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan masyarakat. Ia
sanggup untuk meneriakan dan mengaktualisasikan penderitaan dan kebutuhan
masyarakat, mampu menajamkan suaranya terhadap pembenaran keputusan yang salah
atas kesewenang-wenangan terhadap penghancuran hutan mangrove, ataupun mencari
solusi terhadap konflik internal yang seringkali muncul diwilayah negeri ini
dengan memanfaatkan sejumlah kearifan lokal yang ada. Ia Bahkan tidak
membiarkan pikirannya beristirahat namun memikirkan kemungkinan bagaimana
membuka akses bagi berbagai persoalan kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan
tingginya jumlah pengangguran di daerah ini yang tentu saja tidak hanya sebatas
wacana.
Sejatinya berada dalam posisi dipilih sebagai wakil rakyat adalah sebuah
keputusan yang memiliki konsekwensi berupa kewajiban dan tanggungjawab kepada
Tuhan Yang Maha Esa maupun maupun sesama manusia. Hal ini pun berimpikasi sama
kepada yang memilih para wakil rakyat, karena Siapapun yang menjadi pilihanmu
harus dapat kau pertanggung jawabkan kepada Tuhan yang memberimu kesempatan dan
sesamamu manusia yang akan menerima akibat dari konsekwensi pilihanmu.
Pilihannya ada ditanganmu, ingatlah bahwa keputusanmu itu akan menentukan
5 tahun perjalanan negeri dan bangsa ini kedepan., jadi berdoalah. untuk
mendapatkan pencerahan sebelum engkau memberi pilihan.
Shoot your choiche to who hide of soul on one's part community*)
*) Pemerhati Masalah Politik
[Non-text portions of this message have been removed]