kompas.com-Setengah bulan sudah selembar spanduk terbentang di ujung Jalan 
Sosio-Humaniora, tepat di pojok gedung Fakultas Filsafat Universitas Gadjah 
Mada. Spanduk merah itu menandai berdirinya Posko Tolak Pemilu 2009 yang 
digawangi sekitar 30 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. 
Dari jalan, para pengendara bisa membaca dengan jelas kalimat berhuruf putih 
yang tertera di atasnya: Apa pun partainya, siapa pun capresnya, kuliah tetap 
mahal, rakyat tetap miskin.

Inilah wujud konkret kekecewaan sekaligus pesimisme sebagian masyarakat 
terhadap Pemilu 2009. "Kami yakin, Pemilu 2009 tidak akan membawa perbaikan 
pada kondisi rakyat. Lebih mungkin justru membuat kondisi lebih buruk lagi," 
kata koordinator posko, Mutiara Ika P (22), yang Selasa (24/3) siang itu 
mendapat giliran berjaga bersama dua rekannya, Christina Yulita (20) dan Ganjar 
K (32).

Posko yang menurut rencana dibuka hingga 31 Maret itu memang selalu berpenghuni 
di setiap hari kerja. Sesekali tampak pengunjung datang. Para anggota yang 
mendapat giliran jaga pun dengan senang hati menjawab semua pertanyaan. Mereka 
juga dengan terbuka melayani setiap perdebatan. "Lha, gimana kita mau yakin 
akan ada perbaikan nasib? Para politisi yang muncul saja tidak ada yang 
meyakinkan, ujar Mutiara menjelaskan latar belakang pendirian posko tersebut.

Mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta itu 
menjelaskan, semua tokoh tersebut adalah tokoh-tokoh lama yang diduga mempunyai 
dosa masa lalu kepada rakyat. Di zaman Megawati, misalnya, harga bahan bakar 
minyak melambung tinggi. Prabowo pun dikenal dekat dengan pemerintahan Orde 
Baru. Dia juga dicurigai punya peran dalam sejumlah kasus pembunuhan dan 
penculikan mahasiswa. "SBY, JK, dan Wiranto pun tak lebih baik," katanya.

Masih dalam sudut pandang mereka, tak satu pun dari calon presiden yang mungkin 
muncul itu yang bisa memperjuangkan perbaikan nasib untuk rakyat Indonesia. 
Bagi mereka, pemilu tahun ini hanya akan menjadi apa yang mereka sebut sebagai 
demokrasi semu. "Demokrasi di Indonesia hanya milik kaum elite. Setelah pemilu 
usai, suara rakyat kembali tidak didengar," kata Ganjar, sambil mengembuskan 
asap rokoknya.

Bagi mereka, hanya pada menjelang pemilu saja suara rakyat begitu berharga. 
Para penggede itu sampai rela turun ke jalan dan pasar demi menebar janji, bagi 
kaos, dan juga uang. Setelah terpilih, semua janji itu terlupakan. Rakyat, 
lanjut Ganjar, hanya digunakan sebagai pijakan untuk meraih kekuasaan.

Maka, bagi mereka, menjadi "golput" dan mendirikan posko pun merupakan pilihan 
politis yang tidak terelakkan. Pendirian posko bukan lagi sekadar protes, 
melainkan diharapkan menjadi sebuah gerakan aktif untuk memulai sebuah 
perubahan dengan menggalang orang- orang lain yang sepikiran. (IRE)



--

Posting oleh  APA ITU FNPBI-PRM?  ke  FNPBI-PRM  pada  4/07/2009 02:28:00 AM

PEMILU 2009 BUKAN JALAN KELUAR RAKYAT MISKIN!
PEMILU 2009 HANYA PEMILU BAGI PARTAI POLITIK KAUM MODAL/PARTAI PRO 
NEOLIBERALISME!
PEMILU 2009 AKAN MENGHASILKAN PEMERINTAHAN BARU PRO NEOLIBALISME!
AYO BERSATU, BANGUN KEKUATAN, LAWAN KAUM MODAL DAN ANTEK-ANTEKNYA!
BERSATU, GULINGKAN PEMERINTAHAN KAUM MODAL, GAGALKAN PEMILU, BENTUK 
PEMERINTAHAN RAKYAT MISKIN!



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke